<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710</id><updated>2011-11-14T02:50:23.894-08:00</updated><category term='nasehat'/><category term='Kejujuran'/><category term='Pendasaran'/><category term='Euthanasia'/><category term='Hubungan Intim'/><category term='kepribadian moral'/><category term='moral diukur?'/><category term='Bukan Merasa'/><category term='Gestalt'/><category term='Aborsi'/><category term='Musuh Korupsi'/><category term='Perkawinan homoseksual'/><category term='Pilih Hidup'/><category term='Tiga Serangkai'/><category term='Mengendalikan ketamakan'/><category term='ekologi terdekat'/><category term='Profesional'/><category term='Pustaka'/><category term='kloning'/><category term='Banding Teks'/><category term='Individualisme'/><category term='Bullying'/><category term='Visualisasi'/><category term='Hukumam Mati'/><category term='Akal sehat'/><category term='kompetensi'/><category term='Menjaga dunia'/><category term='Yesus dan Muhammad'/><category term='hukuman mati'/><title type='text'>ETIKA SEBAGAI CARA MANUSIA MELANGSUNGKAN KEHIDUPAN</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>35</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-2975483078150607</id><published>2011-11-01T07:18:00.000-07:00</published><updated>2011-11-02T04:00:37.230-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bullying'/><title type='text'>Korban Bullying, Siapa Mau ..</title><content type='html'>"Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait, Jumat (28/10), mengatakan, aksi kekerasan atau &lt;i&gt;bullying&lt;/i&gt; .... membuat sejumlah orang tua murid menarik delapan anak mereka dari sekolah. ... Kamis (3/11) Komnas Perlindungan Anak dijadwalkan bertemu dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mendesak agar &lt;i&gt;bullying&lt;/i&gt; di semua sekolah dihentikan karena melanggar Undang-Undang Nomor 54 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak" (Kompas, Sabtu, 29 Oktober 2011, hlm 26).&lt;br /&gt;Roxanne Henkin mengatakan: "Pollack (1998) found that 'the National Association of School Psychologists estimated that in the United Stated, some 160,000 children miss school every day for fear of being bullied' (Roxanne Henkin, &lt;i&gt;Confronting Bullying&lt;/i&gt;, 2005: 5). Lalu, apa yang bisa dibuat di sekolah ? Ia mengajukan usul yaitu memanfaatkan pelajaran sastra (&lt;i&gt;literacy&lt;/i&gt;) sebagai alat untuk mendidik karakter peserta didik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-2975483078150607?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/2975483078150607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=2975483078150607' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/2975483078150607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/2975483078150607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2011/11/bullying-kekerasan-bukan-remeh.html' title='Korban Bullying, Siapa Mau ..'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-2648235631893427051</id><published>2009-05-02T21:16:00.000-07:00</published><updated>2009-05-02T21:44:55.011-07:00</updated><title type='text'>Keadilan dan Tanggung Jawab</title><content type='html'>Kata 'keadilan' dapat diperbandingkan dengan kata Inggris 'justice'. Kata Inggris ini berasal dari kata Latin 'iustitia' yang artinya keadilan dan yang asalnya adalah kata 'ius'. 'Ius' sendiri berarti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hak&lt;/span&gt;. Dengan demikian, 'iustitia' sendiri mempunyai dua wajah - &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hak saya&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hak orang lain&lt;/span&gt;. Dua segi ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain, yang satu tidak mungkin ada tanpa yang lain. (Hlm. 126)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab sayalah menghormati dan menjamin hak-hak orang lain. Ini terletak dalam inti keadilan. Jika saya menghargai kebebasan orang lain, saya menghormati kekuasaan yang adil, kekuasaan yang menyeimbangkan kebebasan seorang pribadi dengan kebebasan pribadi lain. Saya pun harus menghormati hak pribadi lain untuk berbeda. Saya harus menaati hukum keluarga, kota, dan negara yang dirancang untuk mengatur dan mempertahankan kebebasan bagi semua. Memberikan jaminan bahwa melindungi hak-hak orang lain merupakan tanggung jawab saya ada di inti keadilan sebagai nilai. (Hlm 127)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas keadilan di dalam suatu masyarakat dapat dinilai dari cara-cara masyarakat itu memperlakukan anggotanya yang paling lemah.... Keadilan benar-benar diterapkan di dalam suatu masyarakat secara penuh apabila hak-hak semua anggota dihargai dan dijamin. (Hlm 128)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Christopher Glesson, SJ, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menciptakan Keseimbangan&lt;/span&gt;, Mengajarkan Nilai-nilai dan Kebebasan, (terj. Willie Koen), Jakarta, Gramedia, 1997)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-2648235631893427051?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/2648235631893427051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=2648235631893427051' title='42 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/2648235631893427051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/2648235631893427051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2009/05/keadilan-dan-tanggung-jawab.html' title='Keadilan dan Tanggung Jawab'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>42</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-5918746761859262844</id><published>2009-05-02T20:41:00.000-07:00</published><updated>2009-05-03T03:25:41.135-07:00</updated><title type='text'>Kebiasaan Cara Memahami</title><content type='html'>"... Mengukir makna memang berbeda dengan mengukir kayu. Dalam setiap konstruksi makna terjadi interaksi dinamis antara realitas sebagaimana apa adanya dan kebiasaan seseorang mengerti (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;habit of understanding&lt;/span&gt;). Ia yang biasa mengerti dalam perspektif tidak puas, serba kurang, selalu menuntut lebih, akan melihat kehidupan tak menyenangkan ada di mana-mana. Sebaliknya, ia yang berhasil melatih diri untuk selalu bersyukur, ikhlas, tulus lebih banyak melihat wajah indah kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari sini, titik awal memaknai kekalahan adalah melihat kebiasaan dalam mengerti, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the blueprint is found within our mind&lt;/span&gt;. Membiarkan kemarahan dan ketidakpuasan mendikte pengertian akan memperpanjang penderitaan yang sudah panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru mengambil gelas yang berisi air, meminta muridnya memasukkan sesendok garam dan diaduk. Saat dicicipi, asin rasanya. Setelah itu, guru ini membawa murid itu ke kolam luas dengan sesendok garam yang dicampurkan ke air kolam dan rasanya tidak lagi asin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah batin manusia. Bila batinnya sempit dan rumit (fanatik, picik, mudah menghakimi), kehidupan pun menjadi mudah asin rasanya (marah, tersinggung, sakit hati). Saat batinnya luas, tak satu pun bisa membuat kehidupan menjadi mudah asin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan modal ini, lebih mudah memaknai kekalahan bila manusia berhasil mendidik diri berpandangan luas sekaligus bebas. Berusaha, bekerja, belajar, berdoa adalah tugas kehidupan. Namun, seberapa pun kehidupan menghadiahkan hasil dari sini, peluklah hasilnya seperti kolam luas memeluk sesendok garam..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Gede Prama, "Kekalahan, Kemenangan, Keindahan", dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, Sabtu, 25 April 2009, hlm. 6)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-5918746761859262844?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/5918746761859262844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=5918746761859262844' title='37 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/5918746761859262844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/5918746761859262844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2009/05/kebiasaan-cara-memahami.html' title='Kebiasaan Cara Memahami'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>37</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-6712872337856528504</id><published>2009-04-29T06:13:00.000-07:00</published><updated>2009-05-02T22:09:35.802-07:00</updated><title type='text'>Berbohong Demi....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/Sf0m-XsDT3I/AAAAAAAAAJI/VvZYkD_PscM/s1600-h/Truth.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 252px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/Sf0m-XsDT3I/AAAAAAAAAJI/VvZYkD_PscM/s320/Truth.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331460386829062002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Sudah pasti, berbohong untuk menyelamatkan muka atau berdusta yang dapat membuat 'orang berbuat hal-hal jahat dengan hati nurani jernih' patut disayangkan. Apabila masalah hanya menyangkut satu orang, maka pantas diharapkan oleh semua orang bahwa kebenaran akan diungkapkan, dan ada alasan untuk berharap bahwa kebenaran akan diungkapkan, dan ada alasan untuk berharap bahwa yang menceriterakan akan mendapatkan akibat-akibat dari pengungkapannya. Menahan kebenaran dapat mempunyai akibat mencelakakan sebagai pemutarbalikan yang disengaja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Christopher Glesson, SJ, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menciptakan Keseimbangan&lt;/span&gt;, Mengajarkan Nilai-nilai dan Kebebasan, (terj. Willie Koen), Jakarta, Gramedia, 1997, hlm.120)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-6712872337856528504?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/6712872337856528504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=6712872337856528504' title='33 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/6712872337856528504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/6712872337856528504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2009/04/berbohong-demi.html' title='Berbohong Demi....'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/Sf0m-XsDT3I/AAAAAAAAAJI/VvZYkD_PscM/s72-c/Truth.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>33</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-2240431120418157023</id><published>2009-04-29T05:51:00.000-07:00</published><updated>2009-05-02T22:15:18.656-07:00</updated><title type='text'>Kebiasaan Berbohong dan Kepercayaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/Sf0oVlkaEXI/AAAAAAAAAJQ/BjlrnKEaPfo/s1600-h/bohongg.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 124px; height: 124px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/Sf0oVlkaEXI/AAAAAAAAAJQ/BjlrnKEaPfo/s200/bohongg.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331461885203714418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"...Seorang ahli ilmu jiwa mengklaim bahwa setiap orang rata-rata berbohong sekitar lima sampai lima belas kali tiap minggunya (hlm. 116). Saya yakin bahwa ada beribu-ribu orang biasa yang dengan setianya menghayati komitmen terhadap kebenaran-kebenaran khusus mereka setiap hari, apa pun kurbannya. Namun orang-orang ini dan kesetiaan mereka pada kebenaran tidak membuat berita (hlm. 117). Tidak ada hal lain yang memerosotkan kepercayaan seperti hal berbohong, dan tanpa kepercayaan jaringan keluarga dan masyarakat akan segera rontok. Keadaan itu pun boleh jadi menjadi tanda-tanda zaman bahwa anak-anak muda semakin jauh dari kebenaran dalam situasi disipliner daripada generasi-generasi sebelumnya (119).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Christopher Gleeson, SJ, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menciptakan Keseimbangan&lt;/span&gt;, Mengajarkan Nilai dan Kebenaran, (terj. Willie Koen), Jakarta, Gramedia, 1997).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-2240431120418157023?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/2240431120418157023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=2240431120418157023' title='26 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/2240431120418157023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/2240431120418157023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2009/04/kebiasaan-berbohong-dan-kepercayaan.html' title='Kebiasaan Berbohong dan Kepercayaan'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/Sf0oVlkaEXI/AAAAAAAAAJQ/BjlrnKEaPfo/s72-c/bohongg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>26</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-6118625976458310874</id><published>2009-04-04T23:53:00.000-07:00</published><updated>2009-04-05T00:11:39.112-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Profesional'/><title type='text'>Berani Menanggung Resiko Profesional</title><content type='html'>".... Secara pribadi, Theresia sudah bulat untuk mengundurkan diri dari korps yang telah dinaunginya selama 26 tahun itu. Theresia mengungkapkan terpaksa memilih penguduran diri itu karena kecewa. Ia mengaku sudah tidak kuat menghadapi tekanan yang diterimanya dari beberapa pihak. 'Ini sudah penindasan,' katanya tanpa merinci pihak yang dimaksud. 'Memang orang seperti saya harus 'dibunuh' (dibuang). Saya kan tidak bisa kotor.' tutur wanita yang akrab disapa Bunda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepolisian Daerah Metro Jaya berencana memindahtugaskan Theresia dari kepala polsek menjadi penyidik Unit V Satuan IV / Satuan Remaja Anak dan Wanita Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Padalah jabatan sebagai penyidik itu biasanya dipegang oleh polisi berpangkat inspektur dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita 49 tahun ini sudah mengetahui isi telegram rahasia mutasi dirinya pada 28 Maret lalu dari seorang tokoh masyarakat. Namun, hingga kemarin, Theresia belum menerima surat pemindahan secara resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Theresia menduga pemutasian dirinya terkait dengan pengungkapan kasus aborsi dengan tersangka Juniaun alias Atun dan dr Agung Waluyo di wilayahnya pada akhir Februari lalu. Itu lantaran pada 12 Maret lalu kuasa hukum Agung mengirimkan surat keberatan berisi dugaan pelanggaran atas Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang dilakukan Theresia terhadap kliennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat yang ditembuskan, antara lain, kepada Kepala Kepolisian Resor Jakarta Pusat dan Kepala Pola Metro Jaya itu berisi tudingan bahwa Theresia melarang pengacara bertemu dengan kliennya. Setelah surat itu muncul, Theresia mengetahui kabar ia dimutasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Chryshanda menilai keputusan mutasi Theresia sebagai hal yang wajar. 'Tidak ada yang janggal.' ujarnya. Dia malah balik bertanya, 'Apakah perpindahan dari kepala polsek menjadi penyidik sebuah demosi?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun anggota Komisi Kepolisian Nasional, Adnan Pandupraja, menilai janggal demosi tersebut. Menurut dia, Theresia merupakan figur yang relatif berprestasi dalam mengungkap sejumlah kasus kriminal. 'Dia cukup profesional.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Koran Tempo, Sabtu, 4 April 2009, hlm A3)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-6118625976458310874?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/6118625976458310874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=6118625976458310874' title='31 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/6118625976458310874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/6118625976458310874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2009/04/berani-menanggung-resiko-profesional.html' title='Berani Menanggung Resiko Profesional'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>31</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-734504872858463181</id><published>2009-03-30T07:27:00.000-07:00</published><updated>2009-03-30T07:37:28.869-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kompetensi'/><title type='text'>Kompetensi dan Budi yang Luhur</title><content type='html'>Perusahaan telekomunikasi Telstra Selandia Baru, menyewa seorang penjebol komputer sebagai penasehat pemberantasan kejahatan digital. Owen Thor Walker, 18 tahun, sang penjebol, sampai akhir tahun ini berdinas di perusahaan telekom TelstaClear, cabang baru dari perusahaan telkom Australia. Dua tahun lalu, Walker mengaku bahwa ia adalah otak di balik kelompok internasional penjebol komputer. Kelompok tersebut menggunakan sistem yang dikembangkan oleh mereka sendiri untuk menjebol komputer yang menghasilkan jutaan euro. Walker yang saat itu masih di bawah umur dibebaskan dari hukuman setelah mengakui kejahatannya. Menurut TelstraClear Walker kini menggunakan keahliannya untuk tujuan baik di perusahaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Radio Nederland Wereldomroep, tanggal 25 Maret 2009: 'Penjebol komputer bekerja di Telstra')&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-734504872858463181?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/734504872858463181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=734504872858463181' title='25 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/734504872858463181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/734504872858463181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2009/03/kompetensi-dan-budi-yang-luhur.html' title='Kompetensi dan Budi yang Luhur'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>25</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-5541976759417320357</id><published>2009-03-28T19:04:00.000-07:00</published><updated>2009-03-28T19:40:04.891-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekologi terdekat'/><title type='text'>Belajar menjadi pengurus</title><content type='html'>Banyak kaum muda gampang sekali hanyut terbawa oleh idealisme gerakan lingkungan hidup pada taraf dunia. Akan tetapi, pesan yang mengemukakan: 'berpikirlah secara dunia, bertindaklah secara lokal' haruslah terungkap dalam kehidupan sehari-hari dan segala kegiatan kepengurusannya, bahkan sederhana sekalipun. Benarlah bahwa keprihatinan akan pemotongan pohon-pohon di hutan semisal di pulau Kalimantan dan Sumatera yang tanpa batas. Namun, kita sebaiknya berpikir dan memegang prinsip yang sama untuk diterapkan secara konkrit. Ekologi terdekat yaitu: (lingkungan) sekolah, rumah terutama tempat tidur tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Berlatih menjadi pengurus / kepemimpinan bisa berawal dari bagaimana mengurus 'sarangnya' sendiri: ekologi terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bdk. Christopher Gleeson, S.J. Menciptakan Keseimbangan, Mengajarkan Nilai dan Kebebasan, (terj. Willie Koen), Jakarta, Gramedia, 1997, hlm. 109)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-5541976759417320357?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/5541976759417320357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=5541976759417320357' title='27 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/5541976759417320357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/5541976759417320357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2009/03/belajar-menjadi-pengurus-dan.html' title='Belajar menjadi pengurus'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>27</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-4310193673171725406</id><published>2009-03-28T18:40:00.000-07:00</published><updated>2009-03-28T19:00:12.024-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menjaga dunia'/><title type='text'>Jika bukan milikmu, kembalikan...</title><content type='html'>Adalah seorang terpelajar. Ia menyatakan, bahwa semua ilmu tertentu (teogi moral) dapat ditulis di balik perangko, yakni &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jika bukan milikmu, kembalikan! Jika milikmu, biarkan - jangan diganggu!&lt;/span&gt; Kendati hal ini benar jika dikaitkan dengan curi mencuri yang diliput dalam perintah ke tujuh, namun ada satu pesan positif yang tak disebutkan dalam ringkasan itu. Memelihara planet kita dengan baik menuntut dari kita sebuah keprihatinan sejati terhadap semua harta jasmani, baik milik kita sendiri maupun milik orang lain. Oleh karena itu yang kita bicarakan di sini sebenarnya adalah soal mengurus - soal kesanggupan kita untuk bertindak sebagai pengurus sekaligus penjaga bagi barang-barang dunia yang diserahkan kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Christopher Gleeson, S.J, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menciptakan Keseimbangan&lt;/span&gt;, Mengajarkan Nilai dan Kebebasan, (terj. Willie Koen), Jakarta, Gramedia 1997, hlm 107)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-4310193673171725406?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/4310193673171725406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=4310193673171725406' title='22 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/4310193673171725406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/4310193673171725406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2009/03/jika-bukan-milikmu-kembalikan.html' title='Jika bukan milikmu, kembalikan...'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>22</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-6852457031330251390</id><published>2009-01-31T06:15:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T00:14:33.026-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hubungan Intim'/><title type='text'>Hubungan Intim dan Kesetiaan</title><content type='html'>"Hubungan intim dan kesetiaan kait-mengkait. Hubungan intim hanya dapat tumbuh dan berkembang subur jika ada komitmen. Dari sini muncullah ucapan, Memadu jiwa dan raga. Sedemikian banyak pemikiran dan omongan tentang seks hanya berpusat pada segi jasmaninya saja. Di lain sisi kita harus berpikir bahwa seksualitas merupakan komponen sedemikian dasar pada kepribadian kita. Apabila kita melupakan segi emosional dan spiritualnya, langkah ini pastilah merugikan. Untuk memenuhi perintah Yesus....'Cintailah satu sama lain, seperti halnya Aku mencintai engkau, kalianpun harus saling mencintai' (Yohanes 13: 34), sasaran kita adalah belajar cinta tanpa syarat atau tanpa ketentuan-ketentuan, tanpa tali terikat di tempat lain, bulat tanpa sudut tanpa segi. Cinta yang sedemikian tak bersyarat itu dapat dipelajari dalam hubungan setia dan abadi di mana tubuh dan jiwa lengkap-melengkapi dan dukung mendukung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Christopher Gleeson, S.J, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menciptakan Keseimbangan&lt;/span&gt;, Mengajarkan Nilai dan Kebebasan, Jakarta, Gramedia, 1997, hlm. 99)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-6852457031330251390?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/6852457031330251390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=6852457031330251390' title='53 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/6852457031330251390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/6852457031330251390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2009/01/hubungan-intim-dan-kesetiaan.html' title='Hubungan Intim dan Kesetiaan'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>53</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-7278907920488729668</id><published>2009-01-31T05:39:00.000-08:00</published><updated>2009-01-31T06:07:29.696-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mengendalikan ketamakan'/><title type='text'>Secukupnya saja</title><content type='html'>"Para ahli ekonomi dan keuangan sepakat, akar meledaknya busa sabun moneter di Amerika Serikat adalah ketamakan akan uang. Kredit perumahan yang awalnya baik karena didasarkan pada kreditor prima menjadi awal terbentuknya gelembung hampa spekulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang memperanakkan uang, menjauh dari yang riil, menggelembung menebarkan janji memikat. Ketika pecah, kehampaan siap menyeret dunia ke jurang kekosongan. Di balik itu, ketamakan akan uang adalah penyebab utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menyikapi ketamakan? Sokrates, pemikir Yunani abad ke-5 SM, bapak segala filsfat, mengatakan, kenalilah dirimu sendiri dan jangan berlebih-lebihan. Puncak kebijaksanaan adalah ketika manusia tahu jadi dirinya adalah jiwanya (bukan hartanya). Bila jiwa diakui sebagai yang terpenting dari manusia, dan diberikan prioritas, maka terhadap segala sesuatu, diri sejati itu akan mengatakan, jangan berlebihan, cukupkan dirimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksim ini terlalu moralistik? Pada titik tertentu iya, meski 'moral' di sini harus dimaknai bukan dalam arti baik dan jahat. Bagi Sokrates, keutamaan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;arete&lt;/span&gt;) tidak pertama-tama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;judgement &lt;/span&gt;moralistik. Keutamaan adalah&lt;span style="font-style: italic;"&gt; excellency&lt;/span&gt;, kinerja optimal sesuatu, atau katanlah kesuksesan...........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa arti secukupnya ? Minimalis ? Siapa yang bisa mengatakan 'sudah cukup' atau belum? Jawabannya ada di jiwa. Selain nafsu dan harga diri, jiwa kita memiliki rasio. Akal budi akan mengatakan kepada nafsu dan harga diri yang tak terbatas untuk 'cukup, tahu batas'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana rasio bisa melakukannya ? Tidak ada resep yang mudah. Manusia yang tidak melatih mengendalikan nafsu dan harga diri terbiasa menidurkan rasio sehingga ia tak mamu mengatakan 'cukup'. Rasio hanya bisa mengatakan 'cukup' manakala ia terbiasa bernegosiasi dengan mereka. Inilah filsuf, pencinta kebijaksanaan. Lalu, bagaiana? Tiap orang harus memilih, lingkaran yang memerosokkan atau lingkaran yang membawa ke kebaikan. Pilihan terakhir membuat orang hidup berkeutamaan atau sukses. Manusia sukses adalah dia yang memilih memprioritaskan rasionya untuk mengendalikan ketamakan tanpa batas yang konstitutif di dalam jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhadapan dengan ketamakan kapitalisme modern, kita berhadapan dengan tembok paradoksal. Kapitalisme terbiasa hidup tanpa pengendalian diri sehingga dari dirinya sendiri tidak bisa mengatakan 'cukup'. Harus ada pihak luar yang mengatakannya. Syukurlah, otoritas negara berani mengatakan 'cukup'......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: A Setyo wibowo, "Cukupkan Diri, Jangan Berlebihan", dlm. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, 25 Oktober 2008, hlm. 7)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-7278907920488729668?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/7278907920488729668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=7278907920488729668' title='43 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/7278907920488729668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/7278907920488729668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2009/01/secukupnya-saja.html' title='Secukupnya saja'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>43</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-3380216453041441411</id><published>2009-01-31T04:49:00.000-08:00</published><updated>2009-01-31T05:37:59.292-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='moral diukur?'/><title type='text'>Moral pun ada ukurannya</title><content type='html'>"... Dalam pusat kota Rhodos, ibu kota pulau Yunani dengan nama sama, sekarang beridiri sebuah patung untuk menghormati warga pulaunya dari zaman kuno itu. Di bawah patung itu terukir kata-kata Yunani &lt;span style="font-style: italic;"&gt;metron&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ariston&lt;/span&gt; yang berarti '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ukuran adalah yang terbaik&lt;/span&gt;'. (Boleh dicatat, kata meter kita berasal dari kata Yunani &lt;span style="font-style: italic;"&gt;metron&lt;/span&gt; ini.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peribahasa ini diwarisi kepada kita sebagai pandangan Kleobulos yang membuat dia tergolong orang bijak. Tetapi yang menarik, kata-kata ini tidak menyuarakan suatu pendapat pribadi orang Rhodos ini. Serentak juga kata mutiara ini merumuskan suatu ciri khas kebudayaan Yunani kuno pada umumnya. Dan sukses semboyan ini dalam kalangan Yunani di kemudian hari hanya dimengerti, karena mereka mengakui di sini suatu kunci identitas kebudayaan Yunani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpegang pda ukuran tidak saja merupakan norma atau cita-cita yang diharapkan menandai perilaku manusia, tetapi sudah merupakan kenyataan yang berhasil diwujudkan dalam dunia jasmani...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus kriteria ukuran itu berlaku untuk tingkah laku moral. Dalam segalanya yang kita lakukan harus kita berpegang pada ukuran. Barangkali semboyan Kleobulos tadi terutama dimengerti oleh masyarakat Yunani dalam konteks tingkah laku moral ini....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Yunani kuno memberi kontribusi besar kepada peradaban dunia di kemudian hari. Dalam hal tahu ukuran pun kita masih dapat belajar dari mereka, khususnya dalam konteks perilaku moral. Tidak perlu kita menganut suatu radikalisme, untuk menjalani kehidupan moral yang baik. Tidak perlu kita menghindari semua perbuatan berisiko. Kita boleh saja terjun dalam lalu lintas kendaraan, asal tahu ukuran dan tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngebut&lt;/span&gt;. Kita boleh saja menikmati makanan, minuman, rekreasi asal berpegang pada ukuran. Dalam semua situasi ini dan dalam banyak hal lain lagi berlaku kearifan Kleobulos '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ukuran adalah yang terbaik&lt;/span&gt;'...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(K. Bertens, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sketsa-sketsa Moral&lt;/span&gt;, Yogyakarta,  Kanisius, hlm 181-183)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-3380216453041441411?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/3380216453041441411/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=3380216453041441411' title='35 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/3380216453041441411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/3380216453041441411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2009/01/moral-itu-ada-ukurannya.html' title='Moral pun ada ukurannya'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>35</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-1737555055424996865</id><published>2009-01-31T03:52:00.000-08:00</published><updated>2009-01-31T05:06:49.502-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkawinan homoseksual'/><title type='text'>Kemungkinan seorang homoseksual menikah</title><content type='html'>".... Jika homoseksualitas tidak merupakan penyakit dan tidak pula merupakan kelainan dalam artian keadaan jiwa tidak normal, maka kaum homoseks harus diberi hak yang sama seperti orang lain. Kaum homoseks hanya mempunyai orientasi seksual yang berbeda. Orientasi seksual mereka terarah kepada sesama jenisnya, sama seperti heteroseks memiliki orientasi seksual terarah kepada lawan jenisnya. Sifat yang berbeda itu tidak boleh menjadi alasan untuk mendiskriminasi mereka. Mestinya kaum homoseks diberi semua hak seperti orang lain, termasuk hak untuk menikah. Relasi hidup antara sesama jenis harus disetarafkan dengan lembaga perkawinan yang sampai sekarang dibatasi pada orang yang berbeda jenisnya. Sudah waktunya keadaan diskriminatif itu segera dihapus. Demikianlah pemikiran yang berdasarkan pendekatan hak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang menolak dibukanya lembaga perkawinan bagi kaum &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gay&lt;/span&gt; dan lesbian mempunyai pendekatan moral yang sama sekali lain. Mereka mendasarkan diri atas pemikiran hukum kodrat. Menurut kodratnya - mereka tegaskan - seksualitas mengandaikan polaritas antara pria dan wanita. Membuka lembaga perkawinan untuk kaum sejeins mengandung kontradiksi besar, karena perbedaan jenis kelamin justru termasuk hakikat hubungan perkawinan itu sendiri. Mengakui perkawinan homoseks sama dengan menjungkirbalikkan hukum kotrad dan karena itu mengacaubalaukan tatanan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dapat diperkirakan bahwa orang beragama tanpa ragu-ragu memihak pada pemikiran hukum kodrat ini. Orang beragama menandaskan bahwa polaritas seksual dimaksudkan dan diciptakan oleh Tuhan untuk menurunkan kehidupan. Dengan demikian, penyatuan suami istri dalam perkawinan merupakan lembaga ciptaan Tuhan, yang tidak bisa diubah manusia. Karena itu tanpa ragu-ragu orang beragama bergabung dengan pihak yang menolak kemungkinan perkawinan homoseks. Ini tentu tidak berarti bahwa agama tidak mau memahami situasi hidup serba sulit yang dialami orang homoseks. Agama bersedia juga mengakui terjadinya banyak perlakuan kurang adil terhadap mereka di masa lampau. Diskriminasi terhadap mereka dalam bentuk apa pun tidak bisa dibenarkan. Tetapi agama akan selalu mempertahankan (dengan pengecualian beberapa teolog dan pemuka agama yang 'dijangkiti' oleh pemikiran hak) bahwa penyatuan suami istri dalam perkawinan direncanakan Tuhan untuk menurunkan kehidupan. Manusi tidak pernah bisa meniadakan rencana Tuhan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak kebetulan, jika upaya untuk mengakui perkawinan homoseks terjadi berbarengan dengan berkurangnya pengaruh agama di bidang moral. Gejala sekularisasi memang merupakan suatu ciri khas yang menandai zaman kita, khususnya di dunia Barat, tapi tidak secara eksklusif di situ. Tata nilai moral semakin dilepaskan dari konteks agama....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sulit untuk diramalkan bahwa perdebatan tentang status hubungan hidup antara pasangan sejenis akan berlangsung terus dalam dekade-dekade mendatang. Dalam perjuangan ini mungkin pemikiran hak yang radikal tidak akan berhasil dalam mencapai status perkawinan bagi relasi homoseks. Rupanya hal itu tidak mungkin karena akan mengubah sama sekali arti perkawinan. Perkawinan menjadi lembaga lain, kalau dilepaskan dari kemungkinan untuk menurunkan kehidupan. Dalam hal ini pemikiran hukum kodrat mempunyai peluang besar untuk menanf. Akan tetapi, dengan itu masih tinggal kemungkinan lain. Bisa saja, bahwa relasi hidup antara pasangan sejenis mendapat suatu status legal yang resmi tersendiri, secara analog dengan lembaga perkawinan. Status legal itu bisa dikaitkan dengan banyak hak dan privilese yang dimiliki oleh lembaga perkawinan, seperti hak warisan, dan sebagainya. Tetapi segera timbul pertanyaan apakah status legal yang baru itu bisa diterima juga pada taraf internasional. Dalam lembaga perkawinan, orang yang menikah di suatu negara, diakui juga sebagai pasangan suami istri di negara lain. Hal itu tidak mungkin dengan pasangan sejenis. Pluralisme moral seperti itu masih relatif mudah ditampung dan diatur dalam masyarakat yang terbatas, tapi lebih sulit diatur pada taraf internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pertanyaan penting ialah apakah kepada pasangan sejenis harus diberikan juga hak untuk mengangkat anak. Mayoritas Parlemen Belanda memang mendukung kemungkinan ini (dengan perbandingan suara 83 setuju dan 58 menolak), sebagaimana sebelumnya sudah dilakukan oleh Parlemen Eropa. Tetapi banyak orang yang masih bisa menerima status resmi bagi pasangan sesama jenis mempunyai keberatan untuk memberikan mereka hak mengadopsi anak. Yang menarik ialah bahwa keberatan mereka berasal dari pola pikiran hak. Dalam mempertimbangkan izin bagi pasangan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gay&lt;/span&gt; atau lesbian untuk mengangkat anak, kita tidak saja harus memperhatikan pasangan tersebut, melainkan juga hak anak yang akan diangkat. Hak anak malah harus diutamakan. Setiap anak memunyai hak untuk dibesarkan dalam lingkungan yang mendukung perkembangannya. Sebagaimana diketahui, anak yang diadopsi dalam kelurga 'normal' pun sering mengalami kesulitan khusus untuk berkembang secara harmonis. Ia lebih sulit mencapai identitasnya ketimbang anak-anak lain, karena ia dibesarkan terpisah dari asal-usul biologisnya. Untuk anak angkat dari pasangan homoseks, kesulitan ini akan bertampah besar. Bagaimana anak ini dapat menemukan jati dirinya? Bagaimana anak ini dapat mempertahankan diri di tengah teman-temannya di sekolah dan tempat lain? Sejauh dapat kita atur sendiri, anak harus diberikan kesempatan paling optimal untuk berkembang menjadi pribadi yang seimbang......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: K. Bertens, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perspektif Etika&lt;/span&gt;, Esai-esai tentang masalah aktual, Yogyakarta, Kanisius 2001, hlm. 154-156)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-1737555055424996865?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/1737555055424996865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=1737555055424996865' title='32 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/1737555055424996865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/1737555055424996865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2009/01/kemungkinan-seorang-homoseksual-menikah.html' title='Kemungkinan seorang homoseksual menikah'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>32</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-6703200363219437817</id><published>2008-11-30T06:34:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T06:49:34.610-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Euthanasia'/><title type='text'>Kevorkian: Dr Death</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/STKn6XRJyuI/AAAAAAAAAFc/GAa8R-iwrAk/s1600-h/euthanasia-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 260px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/STKn6XRJyuI/AAAAAAAAAFc/GAa8R-iwrAk/s320/euthanasia-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274462734724483810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kevorkian adalah nama seorang dokter di Amerika. Pada tahun 1990-an ia dikenal masyarakt dunia karena kasusnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"... dituduhkan kepadanya bahwa ia membantu pasien meninggal yang belum terminal. Pasien-pasien yang dibantunya memang mengindap penyakit fatal, tetapi penyakit mereka belulm pada stadium terakhirnya. Demikian halnya juga dengan pasien terakhir yang dibantunya, Thomas Youk. Padahal, terlepas dari penilaian boleh tidaknya, dengan 'euthanasia' selalu dimengerti mengakhiri kehidupan pasien terminal dan 'bunuh-bunuh diri berbantuan' selalu dipahami sebagai pemberian kesempatan kepada pasien terminal untuk membunuh diri. Jika saat kematian masih jauh, tidak terjadi euthanasia atau bunuh diri berbantuan... Lagi pula, ada dugaan kuat bahwa Kevorkian membantu beberapa pasien yang mengalami depresi. Kalau memang benar, perilakunya menjadi tidak etis karena alasan itu juga. Sebab, depresi adalah kondisi medis yang bisa diobati. Dan dokter tentu mempunyai kewajiban mengobati pasien, selama kemungkinan itu tersedia....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(K. Bertens, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perspektif Etika&lt;/span&gt;: Esai-esai tentang masalah Aktual, Yogyakarta, Kanisius, 2001, hlm. 126)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-6703200363219437817?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/6703200363219437817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=6703200363219437817' title='35 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/6703200363219437817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/6703200363219437817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/11/kevorkian-dr-death.html' title='Kevorkian: Dr Death'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/STKn6XRJyuI/AAAAAAAAAFc/GAa8R-iwrAk/s72-c/euthanasia-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>35</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-8784333298312203656</id><published>2008-11-30T03:35:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T06:29:38.403-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Euthanasia'/><title type='text'>Bunuh Diri Berbantuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/STJ6yXg8ryI/AAAAAAAAAFU/VSwWHXp4dU4/s1600-h/euthanasia.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 226px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/STJ6yXg8ryI/AAAAAAAAAFU/VSwWHXp4dU4/s320/euthanasia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274413119328530210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Euthanasia merupakan salah satu masalah etika yang paling berat dalam zaman kita dan tampaknya dalam waktu singkat tidak mungkin diselesaikan. Istilah 'euthanasia' itu berasal dari bahasa Yunani: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;eu&lt;/span&gt; (=baik) dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;thanatos&lt;/span&gt; (=kematian), sehingga dari segi asalnya berarti 'kematian yang baik' atau 'mati dengan baik'. Jika sekarang kita berbicara tentang euthanasia yang dimaksudkan adalah bahwa dokter mengakhiri kehidupan pasien terminal dengan memberikan suntikan yang mematikan atas permintaan pasien itu sendiri. Sekitar dua puluh tahun yang lalu tindakan medis ini disebut 'euthanasia aktif', untuk membedakan dari 'euthanasia pasif'. Dengan istilah terakhir ini dimaksudkan keputusan medis untuk tidak memberikan pengobatan kepada pasien terminal seperti misalnya memasukkannya dalam Unit Perawatan Intensif dan memasang alat-alat canggih serupa ventilator atau respirator, atau menghentikan sama sekali pengobatan semacam itu, jika sudah dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini istilaha 'euthanasia pasif' tidak dipakai lagi dan memang sebaiknya begitu, karena kualitas etisnya sangat berbeda dengan tindakan mengakhiri kehidupan pasien terminal. 'Euthanasia pasif' biasanya diganti dengan sebutan 'membiarkan pasien meninggal' (letting die). Jika pasien sudah tidak ada harapan lagi, tentu dokter tidak wajib memasukkannya ke dalam Unit Perawatan Intensif dan boleh saja menghentikan alat bantu hidup, jika pemakaiannya tidak bisa membawa penyembuhan lagi.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(K. Bertens, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perspektif Etika&lt;/span&gt;: Esai-esai tentang masalah Aktual, Yogyakarta, Kanisius, 2001, hlm. 128)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-8784333298312203656?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/8784333298312203656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=8784333298312203656' title='27 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/8784333298312203656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/8784333298312203656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/11/bunuh-diri-berbantuan.html' title='Bunuh Diri Berbantuan'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/STJ6yXg8ryI/AAAAAAAAAFU/VSwWHXp4dU4/s72-c/euthanasia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>27</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-1223352348190120027</id><published>2008-11-30T02:54:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T03:21:41.356-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kloning'/><title type='text'>Hak atas ayah ibu biologis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/STJxhCRWbgI/AAAAAAAAAFM/gS6w-ou2eic/s1600-h/Manusia+Kloning.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 250px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/STJxhCRWbgI/AAAAAAAAAFM/gS6w-ou2eic/s320/Manusia+Kloning.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274402925963537922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;".... Kembar dari satu ovum sebenarnya mempunyai identitas genetis yang sama. Hanya, kembar mempunyai identitas genetis itu berasal dari zygote (ovum dari yang dibuahi) yang sama dan karena itu seumur. Pada kembar, proses pemisahan sel berlangsung secara alami, tapi proses yang sama disebabkan juga dengan intervensi tehnologis (dan karena itu tetap seumur). Pada pengklonan dari sel dewasa, terdapat identitas genetis tapi antara dua makhluk yang berbeda umurnya. Dolly adalah 'kembar' dari induknya yang berumur lebih tua enam tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun klon merupakan semacam fenomena alami juga, mengapa pengklonan individu manusia ditolak begitu tegas, bahkan emosional ? Penilaian etis tidak bisa dan tidak perlu bebas emosi, tetapi akhirnya harus didasarkan atas alasan rasional. Saya rasa, dalam pernyataan WHO kita menemukan dua alasan penting. Pengklonan manusia terutama harus ditolak karena (1) bertentangan dengan martabat, dan (2) dengan integritas manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena manusia mempunyai martabat khusus, kehidupan manusia selalu harus dihormati dan tidak pernah boleh dipermainkan. Mengklon manusia justru berarti mempermainkan kehidupannya. Berarti pula menggunakannya demi suatu tujuan lain dan tidak menghormatinya demi dirinya sendiri. Padahal, kehidupan manusia adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;inviolable&lt;/span&gt; (tidak boleh diganggu gugat). Kehidupan manusia itu suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Integritas berarti "keutuhan". Integritas manusia harus kita hormati dan harus kita jamin, sejauh bergantung dari kita, termasuk juga integritas biologis dan genetisnya. Integritas genetis diperoleh seseorang dari orang tuanya. Manusia yang akan lahir melalui prosedur pengklonan tidak akan memiliki integritas yang semestinya. Mengapa? Karena tidak memiliki ibu dan bapak biologis.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(K. Bertens, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perspektif Etika&lt;/span&gt;: Esai-esai tentang masalah Aktual, Yogyakarta, Kanisius, 2001, hlm. 119)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-1223352348190120027?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/1223352348190120027/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=1223352348190120027' title='27 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/1223352348190120027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/1223352348190120027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/11/hak-atas-ayah-ibu-biologis.html' title='Hak atas ayah ibu biologis'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/STJxhCRWbgI/AAAAAAAAAFM/gS6w-ou2eic/s72-c/Manusia+Kloning.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>27</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-6247783828097588372</id><published>2008-10-31T07:03:00.000-07:00</published><updated>2008-10-31T07:37:44.438-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pilih Hidup'/><title type='text'>Kehidupan Milik Siapa?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/SQsYJ132UTI/AAAAAAAAAFE/WMfB1cTau4I/s1600-h/KembarSiam.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 116px; height: 77px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/SQsYJ132UTI/AAAAAAAAAFE/WMfB1cTau4I/s400/KembarSiam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5263327146871771442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"... Kembar perempuan lahir di Manchester pada 8 Agustus 2008. Nama yang sebenarnya tidak diumumkan, tetapi oleh pengadilan Inggris untuk mudahnya diberi nama Mary dan Jodie. Dari segi medis,  kondisi mereka sangat berat. Tulang pinggul mereka menempel dan tulang punggung beserta seluruh bagian bawah tubuh menyambung. Kaki-kaki ada pada tempatnya dalam posisi silang menyilang. Keadaan itu tampak pada gambar yang dikeluarkan oleh RS St. Mary's. Jantung dan paru-paru Mary tidak berfungsi, lagi pula otaknya tidak berkembang penuh. Jodie tampak dalam keadaan fisik yang normal, tertapi jantung dan paru-parunya mendapat beban berat, karena harus menyediakan darah beroksigen juga untuk saudaranya. Menurut para dokter keadaan ini hanya bisa berlangsung tiga sampai enam bulan. Kalau keadaan ini dibiarkan lebih lama, dua-duanya akan meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian kasus kembar siam ini menimbulkan suatu dilema yang amat memilukan. Orang tuam, staf medis, dan semua pihak yang terlibat dalam kasus ini menghadapi suatu pilihan yang sangat sulit. Jika Mary dan Jodie tidak dipisahkan, mereka dua-duanya akan meninggal. Jika mereka dipisahkan melalui operasi, Mary pasti akan mati, karena ia tidak bisa bernafas sendiri, sedangkan Jodie mempunyai peluang baik untuk hidup dengan agak normal, walaupun dalam keadaan cacat dan harus menjalani banyak operasi lagi untuk sedikit demi sedikit membetulkan kondisi fisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua kedua bayi perempuan ini adalah pemeluk agama yang saleh. Mereka berpendapat, Mary dan Jodie sebaiknya tidak dipisahkan, karena cinta mereka untuk kedua anak ini sama besarnya. Mereka tidak bisa menerima jika, jika yang paling lemah harus dikorbankan kepada yang paling kuat. Karena itu mereka memilih menyerahkan seluruh masalah ini kepada kehendak Tuhan. Jika kedua bayi ini nanti meninggal merekak bersedia menerimanya sebagai rencana Tuhan. Staf medis di RS Mary's tidak setuju. Sesuai dengan naluri kedokteran yang umum, mereka beranggapan bahwa kehidupan yang mungkin tertolong, harus ditolong juga....&lt;br /&gt;(K. Bertens, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sketsa-Sketsa Moral&lt;/span&gt;, 30 Esai tentang Masalah Aktual, Yogyakarta, Kanisius, 2004, hlm. 85-86)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-6247783828097588372?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/6247783828097588372/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=6247783828097588372' title='31 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/6247783828097588372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/6247783828097588372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/10/kehidupan-milik-siapa.html' title='Kehidupan Milik Siapa?'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/SQsYJ132UTI/AAAAAAAAAFE/WMfB1cTau4I/s72-c/KembarSiam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>31</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-5628819430371101486</id><published>2008-10-31T05:51:00.000-07:00</published><updated>2008-10-31T07:41:33.054-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aborsi'/><title type='text'>Membela Kehidupan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/SQsD3gbc1WI/AAAAAAAAAEk/3xOngba6Lxo/s1600-h/Janin.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/SQsD3gbc1WI/AAAAAAAAAEk/3xOngba6Lxo/s200/Janin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5263304841645315426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;".....Agama mempunyai banyak alasan untuk membela kehidupan yang belum dilahirkan. Seksualitas dan proses reproduksi adalah cara yang dipilih Tuhan untuk meneruskan kehidupan manusia. Pasangan suami-istri yang meneruskan kehidupan bekerja sama dengan Tuhan Pencipta. Janin dalam kandungan ibunya adalah ciptaan Tuhan....Mungkin salah satu tugas pokok agama dalam abad mendatang adalah justru membela kehidupan manusiawi yang belum dilahirkan dan memperjuangkan martabat reproduksi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama tidak selalu mempunyai pandangan yang sama tentang saat dimulainya kehidupan insani....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Aristoteles melatarbelakangi pandangan Thomas Aquinas, teolog Kristen berkaliber besara dari abad ke-13. Thomas Aquinas menyetujui pendapat Aristoteles bahwa embrio selama dalam kandungan menjalani beberapa fase: fase vegetatif, fase animal, dan akhirnya fase manusiawi. Dalam fase vegetatif, embrio mempunyai jiwa (=prinsip kehidupan) seperti tumbuhan. Dalam fase animal, embiro mempunyai jiwa seperti binatang. Akhirnya dalam fase manusiawi, jiwa manusia dicurahkan oleh Tuhan dalam embrio. Thomas berpendapat bahwa jiwa manusiawi itu tidak akan mati ......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(K. Bertens, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perspektif Etika&lt;/span&gt;: Esai-esai tentang Masalah Aktual, Yogyakarta, Kanisius, 2001, hlm. 111)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-5628819430371101486?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/5628819430371101486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=5628819430371101486' title='26 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/5628819430371101486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/5628819430371101486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/10/membela-kehidupan.html' title='Membela Kehidupan'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/SQsD3gbc1WI/AAAAAAAAAEk/3xOngba6Lxo/s72-c/Janin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>26</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-4406423518908939662</id><published>2008-10-31T05:00:00.000-07:00</published><updated>2008-10-31T07:40:31.410-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aborsi'/><title type='text'>Lain Hippokrates, lain pula "Dukun"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/SQr6oNsIaFI/AAAAAAAAAEc/9j7yunv_bpE/s1600-h/hippocrates-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 281px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/SQr6oNsIaFI/AAAAAAAAAEc/9j7yunv_bpE/s320/hippocrates-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5263294683312318546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"........Hippokrates (kira-kira 460-377 SM) adalah dokter Yunani kuno yang memberi kerangka ilmiah kepada profesi kedokteran dan karena itu sering digelari "bapak ilmu kedokteran". Yang sangat menarik adalah Hippokrates serentak juga mewariskan kepada profesi mesis kode etik pertama yang dikenal sebagai "Sumpah Hippokrates". Sumpah Hippokrates ini memainkan peranan penting sekali dalam sejarah kedokteran dan banyak membantu untuk menegakkan profesi medis sebagai profesi luhur dalam masyarakat. Dalam sumpah Hippokrates antara lain terdapat ketentuan yang melarang abortus. Dikatakan: "aku tidak akan memberikan kepada wanita seorang sebuah alat yang abortif". Lalu langsung ditambahkan: "Dalam kemurnian dan kesucian aku akan menjaga kehidupan dan seniku" (=profesi kedokteran). Kita mendapat kesan, larangan abortus bagi Hippokrates berkaitan erat dengan ini profesi medis: memelihara kehidupan. Tidak pantas seorang dokter membunuh kehidupan insani. Praktek membunuh merupakan semacam kontradiksi bagi profesi medis. Kehidupan insani yang baru mulai berkembang, harus dipelihara juga. Terutama karena pengaruh sumpah Hippokrates ini, dalam etika kedokteran tradisional telah tumbuh suatu tendensi anti-abortus yang kuat. Sejauh abortus dipraktekkan, pelaku umumnya bukan dokter, melainkan "dukun" atau non-profesional yang bergerak di pinggiran profesi medis...&lt;br /&gt;(K. Bertens, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perspektif Etika&lt;/span&gt;, Esai-Esai tentang Masalah Aktual, Yogyakarta, Kanisius, 2001, hlm. 108-109)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-4406423518908939662?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/4406423518908939662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=4406423518908939662' title='26 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/4406423518908939662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/4406423518908939662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/10/lain-hippokrates-lain-pula-dukun.html' title='Lain Hippokrates, lain pula &quot;Dukun&quot;'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/SQr6oNsIaFI/AAAAAAAAAEc/9j7yunv_bpE/s72-c/hippocrates-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>26</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-9219330612792849257</id><published>2008-10-25T03:38:00.000-07:00</published><updated>2008-10-25T04:30:04.746-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hukuman mati'/><title type='text'>Hukuman mati dihapus?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/SQL4RRT-oSI/AAAAAAAAAEU/xiPqmv1FNKU/s1600-h/Jalan+Panjang+Menghadapi+Hukuman+Mati.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 198px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/SQL4RRT-oSI/AAAAAAAAAEU/xiPqmv1FNKU/s320/Jalan+Panjang+Menghadapi+Hukuman+Mati.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261040290310824226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Artikel di bawah ini merupakan bagian penutup dari makalah yang dibuat oleh Tim Imparsial:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukuman mati jelas tidak dapat didekati lewat cara pandang normatif. Realitas penerapan hukuman mati sepanjang sejarah hukum di Indonesia telah membuktikan kehadirannya sebagai instrume politik rezim yang absen dari demokrasi. Proses pertumbuhan berbagai ketentuan hukum yang menerapkan hukuman mati akhirnya mengantarkan kita lebih dekat untuk memahami watak rezim kekuasaan di balik produk hukum ketimbag soal hukuman mati itu sendiri. Sementara hukuman mati sebagai instrumen yang oleh sebagian kalangan dinilai mampu mengurangi tingkat kejahatan, ternyata menghasilkan sebaliknya. Hukuman mati tidak pernah terbukti mampu mengembalikan keadaan yang terganggu akibat suatu kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertahankan penerapan hukuman mati dalam pendekatan hukum positif semata jelas tidak dapat dipertanggungjawabkan. Semua kerangka historis tentang penerapan hukuman mati dalam ketentuan hukum nasional sejak masa kolonial Belanda sampai pembentukan prodkuk hukum terbaru, seperti UU anti terorisme, UU peadilan HAM, UU anti korupsi, dan UU anti narkotika, hanya mengisyaratkan wakat kekuasaan negara ketimbang aspek yang bersifat hukum dalam kerangka mengatasi berbagai bentuk kejahatan. Hukuman mati muncul dalam bentuk langkah-langkah politik, baik itu dalam kerangka mengancam kekuatan-kekuatan politik dalam masyarakat, maupun dalam memperoleh dukungan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta-fakta sejarah penerapan hukuman mati mempertunjukkan pula bagaimana para sasaran penerapan hukuman mati adalah bagian dari kekayaan politik rezim berkuasa. Mereka yang telah dijatuhi hukuman mati, tidaklah otomatis akan berhadapan langsung dengan regu tembak. Tetapi mereka masih harus bertarung dengan keputusan politik grasi yang selalu ditunggu di tangan "kebaikan hati" Presiden. Perdebatan pelaksanaan eksekusi yang muncul di publik justru ada dalam momentum-momentum politik, ketimbang ketentuan normatif yang mengaturnya demikian. Maka tidak heran kalau para terpidana mati harus menunggu eksekusi itu bertahun-tahun, karena mereka adalah milik da kekayaan penguasa politik, yang kapan saja dibutuhkan dapat diakhiri hidupnya. Eksekusi sebagai keputusan politik akan disambut tepuk tangan haru rakyat yang lapar akan pembalasan, dan ini adalah kompensasi ketidakcakapan penguasa negara mengatasi berbagai betuk kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukuman mati hanya mengisi satu sisi kebutuhan bahwa negara hadir dalam semua ruang pembalasan atas kerjadi kejahatan. Negara - lewat palu para hakim - berupa harid di antara amarah masyarakat atas terjadinya kejahatan dan kebutuhan si penguasa politik untuk mempertahankan legitimasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup dan esensi sebagai manusia para terpidana mati telah berubah menjadi angka-angka dan bendera dari upacara simbolik kekuasaan. Putusan hukuman mati telah mengantarkan pencabutan identitas terpidana sebagai manusia, ia segera berubah menjadi benda-benda eksperimen mengatasi kejahatan ataupun hanya sekedar benda di etalase penguasa. Kecenderungan kehidupan dan esensi hak hidup itu dalam kerangka kepemilikikan negara, dan atas nama hukum negara dapat menariknya kembali kapan itu dibutuhkan. Di sini negara telah bertindak sebagai pemilik dari hak hidup itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai argumen yang muncul mempertunjukkan efektivitas penerapan hukuman mati dalam kerangka etika dan moral. Keinginan memberikan pembalasan atau membinasakan nyawa si pelaku kejahatan, jauh-jauh hari telah mendahului proses peradilan terhadap para tersangka mati itu. Para pemberi dukungan terhadap pelaksanaan hukuman mati bagi tertuduh yang telah melakukan kejahatan meyakini akan terjadinya pengembalian keseimbangan yang terganggu akibat terjadinya kejahatan. Keinginan agar keseimbangan kembali tiada lain adalah keinginan melakukan pembalasan yang optimum melalui legitimasi peradilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para pelaku politik negara, keinginan melakukan pembalasan di kalangan masyarakat adalah realitas sentimen politik. Pelaku politik dalam upaya memperoleh dukungan politik telah membantu menemukan relasi dari hukuman mati dan kosolidasi kekuasaan. Dalam konteks ini tidak terlalu penting penilaian terhadap kehadiran hak hidup para pesakitgan hukuman mati, atau efektifitas hukuman mati itu sendiri akan melindungi masyarakat dari berbagai kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit dicari relasi yang tepat dan dapat menggambarkan hubungan antara penerapan hukuman mati dengan kejahatan itu sendiri, bahkan keyakinan atas kemungkinan adanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;deterrents effect&lt;/span&gt; (efek jera) terhadap pelaku kejahtan. Dalam konteks ini hukuman mati tidaklah dapat dilihat sebagai instrumen fungsional yang penting bagi mempertahankan keharmonissan sosial. Dalam fakta sejarah, kita dapat ditemukan secara jelas keterpusatan kekuasaan dan harmoni kekuasaan sajalah yang justru menjadi ruang hidup hukuman mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaku politik, masyarakat yang marah akan kejahatan, hukuman mati, dan hak untuk hidup, haruslah memperolah ruang bagi penataan ulang. Hukum adalah produk politik, akan tetapi mekanisme dan perilaku politik itu sendiri musti diberikan pembatasan agar ia tidak menjadi kekuatan aksesif (excessive) yang dapat merampas hak hidup. Perlindungan masyarakat dari berbagai kejahatan, tidaklah tergantung pada beberapa banyak pelaku kejahatan mampu dihukum mati. Hak untuk hidup tidaklah dapat dikorbankan karena kekuasaan menghendakinya, ataupun masyarakat  memberikan dukungan untuk melakukan pembalasan terhadap pelaku kejahatan. Legitimasi masyarakat untuk mencabut hak hidup itu juga telah menjadi alat mempertahankan kekuasaan, dan bahkan menjadi ancaman terhadap keselamatan masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan hukum nasional jelas adalah pintu masuk bagi penghapusan hukuman mati. Kalau dalam konstitusi negara telah melahirkan pengakuan akan hak untuk hidup dapat dikurangi atas alasan apapun, maka penghapusan penerapan hukuman adalah kewajiban konstitusional.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Imparsial, Jalan Panjang Menghapus Praktik Hukuman Mati di Indonesia, sebuah studi kebijakan di Indonesia, Juni 2004.  Lihat &lt;a href="http://www.google.co.id/search?client=firefox-a&amp;amp;rls=org.mozilla%3Aen-US%3Aofficial&amp;amp;channel=s&amp;amp;hl=en&amp;amp;q=jalan+panjang+menghapus+praktik+hukuman+mati+di+indonesia&amp;amp;meta=&amp;amp;btnG=Google+Search"&gt;selengkapnya....&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-9219330612792849257?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/9219330612792849257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=9219330612792849257' title='26 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/9219330612792849257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/9219330612792849257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/10/hukuman-mati-dihapus.html' title='Hukuman mati dihapus?'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/SQL4RRT-oSI/AAAAAAAAAEU/xiPqmv1FNKU/s72-c/Jalan+Panjang+Menghadapi+Hukuman+Mati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>26</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-4838942837498744739</id><published>2008-10-22T02:18:00.000-07:00</published><updated>2008-10-22T03:51:58.384-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukumam Mati'/><title type='text'>Mempersoalkan Hukuman Mati</title><content type='html'>Penolakan grasi enam orang terpidana mati oleh Presiden Megawati dianggap tidak sesuai dengan UUD 1945. Pasal 28 A dan 28 I menyebutkan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa... adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun&lt;/span&gt;. PBB juga mengeluarkan sebuah Konvenan Hak Sipil dan Politik beserta protokolnya yang sudah menghapus hukuman mati. Aturan internasional ini seharusnya diikuti oleh Komnas HAM Indonesia yang dalam fungsi dan tugasnya mengacu pada Komisi Tinggi HAM di PBB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kalangan berpendapat bahwa hukuman mati masih menjadi hukum positif. Karena itu, hukuman matiharus ditimpakan pada terpidana mati. Sikap tersebut didasari oleh adanya pembatasan terhadap pelaksanaan hak dan kebebasan dalam pasal 28 yang berbunyi "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan undang-undang&lt;/span&gt;.....Kenyataannya, hukuman mati memang masih tercantum dalam KUHP dan UU negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukuman mati atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;capital punishment&lt;/span&gt; akar katanya berasal dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;caput&lt;/span&gt; (bahasa Latin). Kata ini dipakai orang Romawi untuk mengartikan kepala, hidup, hak masyarakat atau hak individu. Hukuman mati dimengerti sebagai hukuman yang dijalankan dengan membunuh orang yang bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAlam pengertian hukum, hukuman mati merupakan salah satu bentuk sanksi pidana yang mengandung keseluruhan ketentuan-ketentuan dan larangan-larangan sekaligus memaksa si terhukum. Sanksi ini bertujuan menegakkan norma hukum dan secaraa preventif akan membuat orang takut melakukan pelanggaran yang telah ditetapkan. Si terhukum pun menjadi contoh yang menakutkan bagi setiap orang untuk melakukan pelanggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan hukuman mati adalah pembalasan yang lebih menonjol dalam masyarakat primitif, penghapusan dosa yang dilatarbelakangi pandangan religius untuk menghapus kesalahan dengan penderitaan setimpal, membuat jera untuk pelaku kejahatan lain. Hukuman mati bertujuan pula melindungi kepentingan umum dan memperbaiki penjahat yang akan melakukan kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan penghapusan hukuman mati telah gencar dibicarakan sejak abad ke-18. Beberapa tokohnya antara lain: Montesquieu menulis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lettres-persanes&lt;/span&gt; (1721), Voltaire membela Jean Callas yang terlanjur dihukum mati, Cesare Beccaria (1738-1794) menerbitkan buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;An Essay on Crimes and Punishment&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumen penghapusan hukuman mati didasarkan pada alasan yang meragukan efektivitas hukuman mati. Putusan seseorang dihukum mati seringkali dianggap tidak berdasarkan observasi empirik, tetapi terbatas pada opini polisi dan bantahan para jaksa. Lebih buruk lagi, terhukum kerap kali dihukum berdasarkan motif-motif politik seperti mengancam&lt;span style="font-style: italic;"&gt; status quo&lt;/span&gt; atau berasal dari kelas sosial dana ras tertentu. Hal ini dialami oleh para budak dan kulit hitam di Amerika pada tahun 1930-1964.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberatan lain didasarkan pada pendapat bahwa seseorang yang dihukum mati tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Von Henting menilai hukuman mati bernilai destruktif karena negara dianggap tidak menghargai maratabat luhur warganya. Padahal negara seharusnya wajib mempertahankan nyawa warganya dalam keadaan apapun. Leo Polak menganggap hukuman mati berisiko tinggi jiwa hakim keliru dalam menentukan keputusan sementara terhukum sudah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan bahwa pelaku akan takut jika diberlakukan hukuman mati, tidak sepenuhnya tepat. Di negara yang memberlakukan hukuman mati pun angka kejahatan tidak turun. contohnya para teroris siap mati  untuk tugas mereka dan menghukum mereka justru menjadikajn mereka sebagai pahlawan. Pemberlakuan hukuman mati tidak menyelesaikan masalah dan seringkali tidak adil. Sulit sekali membuat putusan hukuman mati bila ada aturan membawa 10 gr heroin akan dihukum mati, lantas bagaimana dengan pelaku yang membawa 9,8 gr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa penelitian tentang hubungan antara tindak kejahatan dengan hukuman mati, tidak ada kaitan yang erat. Sejak tahun 1874 Italia tidak menerapkan hukuman mati, namun di tahun 1876-1907 angka pembunuhan menurun dari 9,86/100.000 jiwa menjadi 4,86/100.000 jiwa. Sementara di Rumania yang menghapus hukuman mati sejak tahun 1865, justru angka pembunuhan menurun dari 5,6/100.000 jiwa menjadi 2,5/100.000 jiwa pada tahun 1876 - 1907. Saat ini ada 35 negara yang menghapus total hukuman mati, 18 negara menghapusnya kecuali untuk kejahatan perang dan 27 negara mempertahankan hukumam mati tetapi tidak pernah melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun angin penghapusan hukuman mati telah berhembus, masih ada negara-negara yang menerapkan hukuman mati. Negara-negara yang masih menerapkan hukuman mati kebanyakan adalah negara-negara totaliter komunis. Dalam ideologi komunis, pribadi manusia harus kalah dengan kepentingan negara, partai dan ideologi komunis. Negara dunia ketia yang menerapkan hukuman mati lebih karena kecenderungan kolektivisme, pemerintah yang otoriter serta adanya kaum fundamentalis. Pada tataran moral dapat dikatakan kepekaan negara-negara tersebut terhadap keluhuran martabat manusia dan hak-haknya belum sangat halus atau mereka berpendapat bahwa pribadi manusia dapat dikorbankan demi stabilitas nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas tampak bahwa sebenarnya pro dan kontra terhadap kukuman mati telah berlangsung sejak lama. Ketika Litbang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt; mengadakan jajak pendapat, sebagian besar responden (76 %) menyetujui penerapan hukuman mati sebagai tingkat hukuman paling berat kepada terpidana kasus berat. Para responden menyebutkan beberapa kasus yang pantas dijatuhi hukuman mati yaitu: pembunuhan berencana 32,4 %, narkoba 29,2 %, terorisme 11,7 %, pemerkosaan 10,4 %, dan korupsi 9,1 %. Sikap setuju terhadap hukuman mati tersebut tidak bisa dilepaskan dari faktor lemahnya penegakan hukum, ketidakpercayaan publik terhadap aparat penegak hukum, dan makin maraknya aksi kejahatan. Legitimasi negara untuk menentukan hidup mati seseorang pun semakin kuat dengan bertambahnya kasus-kasus pidana yang diganjar hukuman mati dalam enam tahun terakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pihak terhukum muncul pendapat agar putusan hukuman mati patut ditunda atau diberikan keringanan. Alasannya beraneka seperti: pada kasus Jurit terdapat beberapa kejanggalan dalam vonis, putusan terhadap Adi Kumis dinilai tak adil karena ada pelaku yang belum tertangkap, pada kasus Sumiarsih dan Sugeng diakui bahwa inisiatif pembunuhan bukan dari Sugeng sedangkan dalam kasus Ayodya telah ditemukan bukti baru yang bisa mengubah vonis hukuman mati. Selain itu mereka telah berubah setelah menjalani hukuman penjara sekian lama. Dr Arief Budiman (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt; 17/2/2003) menilai sistem peradilan kita masih lemah dan berlumuran KKN sehingga kemungkinan besar terjadi ketidakadilan dalam putusan, apalagi mengingat ada banyak orang yang dosanya lebih besar justru dibiarkan bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan pro dan kontra hukuman mati, jika dilihat dengan budi nurani jernih, memang tidak mudah dituntaskan. Di Indonesia, hal ini terkait dengan maraknya kejahatan sehagai akibat ketidakadilan ekonomi, politik, hukum dan peradilan. Seringkali setelah hukuman mati dilaksanakan, aneka akar permasalahan itu tidak diselesaikan secara tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian ada beberapa pendapat dari ajaran Katolik yang ada membantu memperluas cakrawala berpikir dalam menyikapi hukuman mati. Santo Ambrosius pernah mengatakan: "Allah lebih menyukai perbaikan daripada kematian pendosa, Ia tidak menghendaki pembunuh dihukujm dengan pelaksanaan tindakan pembunuhan lainnya." Teolog moral Katolik, Karl H. Peschke mengalami kesulitan dalam menentukan pelaksanaan hukuman mati. Ia mengingatkan supaya daerah yang menetapkan hukuman mati menghindari kekhilafan dalam pengambilan keputusan pengadilan. Ia menyarankan penetapan grasi untuk meringankan hukuman mati ke dalam bentuk hukuman lain. Bernhard Haring berpendapat bahwa penghapusan hukuman mati adalah jalan terbaik. Alasannya, setiap orang harus melihat konsekuensi tindakan hukuman mati itu secara lebih menyeluruh dan merefleksikan dengan hati-hati semua pengalaman dan konsekuensi-konsekuensi tindakan hukuman mati tersebut. Haring membenarkan bahwa dalam Kitab Suci Perjanjian Lama memuat teks yang membenarkan hukuman mati. Namun, ada pewahyuan yang melampauinya ialah Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara John Dear mempertentangkan hukuman mati dengan sikap anti kekerasan Yesus. Argumentasinya ialah Yesus tidak menghukum perempuan yang berbuat zinah (Yoh 8: 4-7). Ia tak pernah memakai kkerasan untuk menolak otoritas negara. Yesus tidak melupakan Allah dan tidak meninggalkan kewajiban kepada kaisar. Ia mengatakan "berikan kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah, apa yang wajib kamu berikan kepada Allah" (Mrk 12: 17). Lebih dari itu, Yesus mengajarkan kasih kepada manusia dengan firman-Nya yang terkenal: "Hukum yang terutama ialah: dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati dan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini" (Mrk 12: 29-31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini berkembang penghargaan terhadap nilai-nilai hidup manusia seiring denan berhembusnya isu penegakan hak asasi manusia di seluruh dunia. Ketika presiden George W.l Bush menyerang Irak, aneka protes muncul dari berbagai kalangan suku, agama, ras dan golongan. Mereka bersatu padu menentang pelanggaran hak asasi manusia. Demikian pula penghargaan hak asasi manusia seharusnya dijunjung tinggi di negeri ini. Sebuah ensiklik keluaran Vatikan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Evangelium Vitae&lt;/span&gt; artikel 56 memberi pendapat bahwa: "makin kuatlah kecenderungan untuk meminta supaya hukuman mati itu diterapkan secara terbatas atau bahkan dihapus sama sekali....hakikat dan beratnya hukuman harus dievaluasi dan diputuskan dengan cermat dan jangan sampai kepada ekstrim melaksanakan hukuman mati kecuali bila mutlak perlu". Upaya yang lebih penting ialah mempromosikan penghargaan hak asasi manusia kepada seluruh warga sehingga memiliki nurani jernih sebagai kontrol yang menghalangi mereka melakukan tindak kejahatan. Di samping upaya hukum, seiring kampanye penghargaan terhadap hak asasi manusia, saat ini perlu dilakukan pendampingan terhadap 42 orang yang sedang menunggu eksekusi pidana mati, menghibur, bersikap empati, dan meyakinkan bahwa mereka berharga. Karena mereka adalah manusia yang hak hidupnya tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.&lt;br /&gt;(A. Luluk Widyawan, "Mempersoalkan Hukuman Mati", dlm. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hidup&lt;/span&gt;, 6 April 2003)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-4838942837498744739?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/4838942837498744739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=4838942837498744739' title='28 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/4838942837498744739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/4838942837498744739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/10/mempersoalkan-hukuman-mati.html' title='Mempersoalkan Hukuman Mati'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>28</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-583358480026328551</id><published>2008-09-23T18:51:00.000-07:00</published><updated>2008-09-23T19:34:50.334-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musuh Korupsi'/><title type='text'>Kapan Musim Korupsi Berakhir ?</title><content type='html'>"Desakan beberapa anggota DPR merevisi UU KPK dan memotong kewenangan penyadapan adalah sebuah kemunduran. Sadar atau tidak, wacana itu akan dilihat sebagai upaya melemahkan pemberantasan korupsi. DPR seolah menempatkan diri sebagai musuh, mencoba menggerogoti kewenangan KPK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegerahan itu agaknya berangkat dari tindakan KPK yang menggunakan strategi "prioritas sektor". Dalam catatan Transparency International (TI) Indonesia, posisi legislatif dan partai politik sebagai sektor terkorup, selain penegak hukum, selalu bertahan sejak 2005-2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ICW melihat fenomena ini dari kinerja penindakan KPK jilik II. Setidaknya ada tujuh tersangka di sektor legislatif, atau sekitar 28 persen dari 25 tersangka yanga sudah diproses sejak Desember 2007 - Agustus 2008. Bahkan, satu per satu dari 52 anggota DPR, baik mantan atau masih aktif, ada pada posisi riskan karena diduga terkait kasus Rp 100 miliar aliran dana Bank Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya KPK itu mengancam kelompok koruptif DPR sehingga mudah mengargumentasikan, upaya pelemahan KPK berangkat dari kecemasan. Dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Independent Report&lt;/span&gt; yang disampaikan koalisi NGO/LSM pada UN convention Against Corruption (UN-CAC) ke-2 Januari 2008 disimpulkan, pelemahan dan deligitimasi institusi merupakan faktor penting kegagalan pemberantasan korupsi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deligitimasi lembaga antikorupsi, seperti KPK, merupakan pola berulang. Menurut catatan ICW, sudah tujuh institusi yang awalnya dibentuk untuk memberantas korupsi, tetapi akhirnya dibubarkan saat mencoba menyentuh kekuasasan...........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persekongkolan elite politik untuk melawan upaya pemberantasan korupsi harus dilihat sebagai ancaman terhadap demokrasi dan kepentingan rakyat. Jika DPR benar-benar memusuhi pemberantasan korupsi, artinya mereka sedang memosisikan diri melawan rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;(Sumber: Febri Diansyah, "Musuh Pemberantasan Korupsi", dlm.: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, 16 September 2008, hlm. 6)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-583358480026328551?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/583358480026328551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=583358480026328551' title='30 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/583358480026328551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/583358480026328551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/09/kapan-musim-korupsi-berakhir.html' title='Kapan Musim Korupsi Berakhir ?'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>30</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-8935088459677236511</id><published>2008-09-15T07:45:00.000-07:00</published><updated>2008-09-15T07:57:56.892-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gestalt'/><title type='text'>MENATA HATI</title><content type='html'>"...Dalam psikologi, ada prinsip yang disebut &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gestalt&lt;/span&gt;, yakni &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kesatuan tak terpisahkan&lt;/span&gt;. Kita membicarakan jari dalam hubungannya dengan tangan; kita membicarakan tangan dalam hubungannya dengan badan. Membicarakan salah satunya berarti membicarakan semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip yang sama bisa membantu memahami perilaku Ryan (seseorang, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ed&lt;/span&gt;). Membicarakan penyimpangan Ryan (seseorang, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ed&lt;/span&gt;) berarti membicarakan perlakuan masyarakat terhadap dirinya. Membicarakan perlakuan masyarakat berarti membicarakan perlakuan masing-masing kita. Karena itu, jika ingin mencegah munculnya Ryan-Ryan (penyimpangan orang, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ed&lt;/span&gt;) yang lain, kita harus menemukan obatnya dalam diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konfusius memberi resep Gestalt, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Untuk menyehatkan dunia, kita lebih dulu harus menyehatkan bangsa; untuk menyehatkan bangsa, kita lebih dulu harus menyehatkan keluarga; untuk menyehatkan keluarga, kita lebih dulu harus menyehatkan kehidupan pribadi, kita harus menata hati dengan benar&lt;/span&gt;".&lt;br /&gt;(Sumber: YF La Kahija, "Ryan dan Kita", dlm. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, Sabtu, 9 Agustus 2008).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-8935088459677236511?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/8935088459677236511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=8935088459677236511' title='32 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/8935088459677236511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/8935088459677236511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/09/menata-hati.html' title='MENATA HATI'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>32</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-4729755924342273617</id><published>2008-09-02T05:55:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T06:28:09.873-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kepribadian moral'/><title type='text'>MANUSIA ETIS</title><content type='html'>"...Bagaimanakah dapat terbangun budaya bersih, transparan, dan bertanggung jawab jika budaya korup ("cuci tangan" dari problematika) masih merajalela ? Harus diakui, celah-celah korupsi tetap menganga dalam hampir semua instansi pemerintah (RT, polisi, jaksa, hakim, hingga lembaga tertinggi ). Justru itu, proses pembongkaran kasus korupsi perlu menimbang mentalitas korup untuk menggunakan kebebasan tanpa tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak&lt;br /&gt;Kompleksitas (penanganan) korupsi di Tanah Air terletak pada penanganan superfisial atas budaya "cuci tangan" sejumlah pejabat teras. Seakan-akan pesan dalam adagium klasik&lt;span style="font-style: italic;"&gt; corruptio optimi pessima&lt;/span&gt; (pembusukan mereka  yang berkedudukan tertinggi adalah terjelek) tak dikenal para penggerak roda pemerintahan RI. Keberanian dan kesediaan untuk mengakui perbuatan salah masih amat rendah. Contoh, para tokoh korupsi moral (Kain-Habel, Hitler, Karadzic), korupsi politik (P Pilatus, Nero, Ferdinand Marcos), korupsi keuangan (Soeharto, Marcos) berusaha menyelamatkan diri dengan mengelak tanggung jawab. Mereka seolah tidak melakukan perbuatan koruptif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, mengapa budaya "cuci tangan", yang mengingkari seluruh subsistem, interdependensi, dan interconnectedness dalam hidup sosial berkembang subur di tengah kebebasan moral? Dampak sosial setiap tindakan personal tak tersangkalkan. Bukankah korupsi seorang pejabat negara berarti merampas dan merugikan hak-hak hidup sekian banyak anak bangsa? Tindakan "cuci tangan" jelas mencemari habitat bersih dan nonkoruptif (bdk. Boff, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ethik fuer eine neue Welt&lt;/span&gt;, 2000,106).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etos tanggung jawab&lt;br /&gt;Budaya "cuci tangan" dalam era reformasi ini perlu segera direspons dengan etos tanggung jawab sebagai kapasitas etis yang mampu memilah tindakan yang bernilai atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia berkepribadian moral umumnya tidak berani sembarangan melakukan sesuatu tanpa tanggung jawab (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ethics&lt;/span&gt;, 1926: Nicolai Hartman). Watak khas manusia sebagai makhluk etis akan luntur jika manusia tidak hidup dalam kesadaran akan tanggung jawab (G Piana, Liberta e responsibilita, NDTM, 672-73).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya nilai tanggung jawab, kejujuran, dan transparansi yang sepadan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;trustworthiness&lt;/span&gt; segera disosialisasikan .....&lt;br /&gt;(Sumber: William Chang, "Budaya 'cuci tangan'" dlm. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;,  1 September 2008, hlm. 6)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-4729755924342273617?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/4729755924342273617/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=4729755924342273617' title='34 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/4729755924342273617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/4729755924342273617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/09/manusia-etis.html' title='MANUSIA ETIS'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>34</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-2469633233260523573</id><published>2008-08-19T07:20:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T07:43:41.431-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akal sehat'/><title type='text'>BERTUMPU PADA AKAL SEHAT</title><content type='html'>"Mengapa manusia punya sikap dan perilaku berbeda (dari binatang -&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ed&lt;/span&gt;)? Ada manusia yang berperilaku baik dan ada yang buruk. Salah satu penjelasan penting adalah karena kebutuhan untuk menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan berbagai faktor lingkungan. Karena itu, selalu ada bagian tertentu yang irasional dari kebudayaan. Tidak mengherankan jika budaya, karena harus bertahan, membuat pilihan-pilihan irasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kodrat manusia&lt;br /&gt;Thomas Hobbes mengakui, kodrat manusia adalah jahat dan destruktif. Manusia adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;leviathan&lt;/span&gt;. Sosok iblis (buruk -&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ed&lt;/span&gt;)ada dalam diri manusia, terwujud dalam perilaku koruptif, tamak, dan jahat kepada rakyat. Namun, kodrat buruk tidak berarti tidak bisa diatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, solusi Hobbes adalah menyandera karakter iblis (buruk - &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ed&lt;/span&gt;) pada diri manusia dengan rasio. Rasio mampu mengendalikan karakter &lt;span style="font-style: italic;"&gt;leviathan&lt;/span&gt;. Jika rasio senantiasa digunakan untuk mengevaluasi tindakan, perilaku korupsi bisa dicegah. Karena itu, budaya rasionalitas (menggunakan akal sehat) harus terus disuntikkan kepada politisi. Terus memikirkan dan mengevaluasi tindakan dengan akal sehat. Masyarakat juga harus terus mengingatkan politisi (dan siapapun juga - &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ed&lt;/span&gt;) akan pentingnya akal sehat dalam perilaku politik (bermasyarakat - &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ed&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dikatakan Socrates, hidup yang tidak dipikirkan adalah hidup yang tidak layak untuk dijalani. Perilaku koruptif, entah apa pun jabatan kita, adalah perbuatan amat nista sehingga tidak layak untuk dijalani."&lt;br /&gt;(Eko Wijayanto, "Budaya Korupsi dan Akal Sehat", dalam KOMPAS, Selasa, 19 Agustus 2008, hlm. 6)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-2469633233260523573?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/2469633233260523573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=2469633233260523573' title='38 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/2469633233260523573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/2469633233260523573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/08/bertumpu-pada-akal-sehat.html' title='BERTUMPU PADA AKAL SEHAT'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>38</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-8174277399817884235</id><published>2008-08-16T03:48:00.000-07:00</published><updated>2008-08-16T04:05:57.098-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kejujuran'/><title type='text'>KEJUJURAN TELAH TERHIMPIT</title><content type='html'>"Tertangkap dan terseretnya sejumlah tokoh DPR, Kejaksaan Agung, BI, dan pengusaha ke pengadilan dalam kasus korupsi menunjukkan tingginya tingkat ketidakjujuran. Ketidakjujuran itu sudah merasuk ranah politik dan kehidupan masyarakat yang bertahun-tahun disembunyikan dari mata publik. Merebaknya gaya hidup kawin cerai dan kekerasan dalam rumah tangga menggambarkan ketidakjujuran telah menerobos dimensi hidup keluarga dan ranah pribadi. Sikap tega terhadap sesama, kriminalitas, dan gaya hidup berlebihan melampaui batas merupakan bentuk-bentuk lain absennya kejujuran dan ketidakmampuan membangun komitmen kejujuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejujuran merupakan salah satu kunci untuk mengurai problema hidup berbangsa dan bermasyarakat di negeri kita. Kejahatan, kriminalitas, korupsi, dan kekerasan yang sudah begitu terstruktur, kolektif, dan membudaya, sebagaimana kita saksikan dalam media massa setiap hari, tidak mungkin hanya dibasmi melalui sanksi keras, hukuman mati, dan ketegaran aparat untuk mejalankan perintah hukum. Pola pikir koruptif rupanya sudah mendarah daging dalam cara hidup penegak hukum dan masyarakat. Akibatnya, upaya-upaya untuk mengatasi korupsi dan ketidakjujuran pada akhirnya masih jatuh pada lubang kesalahan yang sama. Karena itu, reformasi pendidikan kejujuran adalah langkah yang harus dilakukan bersamaan dengan pemberantasan komitmen agar generasi masa kini dan ke depan bisa terbebas dari kecenderungan koruptif yang telah mendominasi cara pikir, gaya hidup, dan kebudayaan masyarakat...."&lt;br /&gt;(Sumber: Andreas Yumarma, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Korupsi dan Praktik Pendidikan Kejujuran&lt;/span&gt;, dalam KOMPAS, Jumat, 15 Agustus 2008, hlm. 64)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-8174277399817884235?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/8174277399817884235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=8174277399817884235' title='25 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/8174277399817884235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/8174277399817884235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/08/kejujuran-telah-terhimpit.html' title='KEJUJURAN TELAH TERHIMPIT'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>25</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-3819740949481091714</id><published>2008-08-13T17:50:00.000-07:00</published><updated>2008-08-13T17:58:56.182-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nasehat'/><title type='text'>TEGUR MENEGUR</title><content type='html'>"Apabila saudaramu berbuat dosa (kelalaian, kesalahan), tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engaku telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat (komunitas, angkatan, kelas)........" (Mat 18, 15-17b)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-3819740949481091714?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/3819740949481091714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=3819740949481091714' title='72 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/3819740949481091714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/3819740949481091714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/08/tegur-menegur.html' title='TEGUR MENEGUR'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>72</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-3077211463657440104</id><published>2008-08-12T21:27:00.000-07:00</published><updated>2009-03-28T18:54:40.134-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Individualisme'/><title type='text'>HAK DAN TANGGUNG JAWAB</title><content type='html'>"Apabila kita bersembunyi di belakang hak-hak kita, kita kerap kali 'melupakan' tanggung jawab kita. ....Individualisme yang menekankan hak-hak pribadi melebihi tanggung jawab pribadi terhadap kolega atau sesama - jangankan masyarakat yang lebih luas - seperti itu, akan merusak dirinya sendiri sekaligus juga kepentingan umum. Individualisme mendefinisikan apa yang baik sebagai apa yang 'menguntungkan'....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Christopher Gleeson, SJ, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menciptakan Keseimbangan&lt;/span&gt;, Mengajarkan Nilai dan Kebebasan,  Jakarta, Gramedia, 1997, hlm. 7.)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-3077211463657440104?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/3077211463657440104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=3077211463657440104' title='86 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/3077211463657440104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/3077211463657440104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/08/hak-dan-tanggung-jawab.html' title='HAK DAN TANGGUNG JAWAB'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>86</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-8271329271447535674</id><published>2008-06-29T07:52:00.000-07:00</published><updated>2009-03-28T18:57:07.428-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bukan Merasa'/><title type='text'>JAMAN SEKARANG?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Moralitas (etika) bagi sebagian orang hanyalah masalah cita rasa. Semua terserah pada mata orang yang memandangnya. Dalam menyamakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;baik&lt;/span&gt; dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;merasa baik&lt;/span&gt; orang-orang seperti ini 'mengukur moralitas bukan dengan tolok ukur yang berlainan dari dirinya sendiri, tetapi hanya dengan perasaannya sendiri mengenai dirinya. Dalam mencoba mengambil keputusan mengenai bagaimana tindakannya dalam soal moral yang sulit, mereka bukan bertanya 'betulkah ini?', melainkan '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;apakah saya merasa sreg dengan tindakan ini&lt;/span&gt;'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Christopher Gleeson, S.J, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menciptakan Keseimbangan&lt;/span&gt;: Mengajarkan Nilai dan Kebebasan,  Jakarta, Gramedia, 1997, hlm. 9)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-8271329271447535674?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/8271329271447535674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=8271329271447535674' title='81 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/8271329271447535674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/8271329271447535674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/06/jaman-sekarang.html' title='JAMAN SEKARANG?'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>81</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-1431852577565114074</id><published>2008-06-26T05:20:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T04:26:39.662-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yesus dan Muhammad'/><title type='text'>PENAFSIR DASA FIRMAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kita mengakui bahwa 10 Perintah Allah (Dasa Firman) disampaikan kepada manusia melalui perantaan Musa. Secara prinsip nilai-nilai yang terkandung pada 10 Perintah Allah tidak dapat ditawar lagi, jika manusia ingin melangsungkan hidupnya secara luhur. Sekalipun demikian, nilai-nilai dari 10 Perintah Allah dapat diterapkan dalam situasi atau konteks tertentu. Oleh karena itu, nilai-nilai 10 Perintah Allah memberi makna yang berbeda dari jaman ke jaman. Misalnya saja, Yesus memberi arti baru tentang nilai tertentu daria Dasa Firman tersebut. Kelak di kemudian hari agaknya Muhammad (nabi umat beragama Islam) pun secara tidak langsung mengenal nilai-nilai Dasa Firman yang pada gilirannya memperkembangkannya. Siapakah Yesus dan Muhammad itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;YESUS DAN MUHAMMAD&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;                    Dari analisis historis, sulit untuk mengingkari peran dan jasa Yesus dan Muhammad, sebagai aktor sejarah yang telah meletakkan fundamen moral dan visi kemanusiaan yang menjadi acuan perilaku ratusan juta penduduk bumi dari masa ke masa. Tulisan ini akan menganalisis peran sosial-historis kedua tokoh tersebut dari sudut pandang kesejarahan dan mencoba memposisikan keduanya lebih sebagai tokoh sejarah dan peradaban daripada sebagai figur orang suci. Keduanya secara gemilang berhasil melahirkan sebuah peradaban religius dengan jumlah pengikut yang melampaui etnis dan bangsa. Dan, sebagian besar di antara mereka memiliki sikap yang sangat militan. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa Yesus dan Muhammad merupakan tokoh dan peletak dasar bangunan peradaban dunia yang hingga hari ini masih tetap berdiri kukuh dan - ibarat pohon - bahkan makin tumbuh berkembang dari waktu ke waktu. Jika mengikuti teori elitisme historis yang berpandangan bahwa alur dan warna sejarah itu sesungguhnya dibangun dan dikendalikan hanya oleh sekelompok aktor, maka Yesus dan Muhammad meskipun keduanya telah tiada, sosok dan ajarannya mampu menggerakkan dan mengendalikan perilaku ratusan juta manusia dalam berbagai aspek kehidupan, meliputi bidang politik, moral, lembaga keluarga, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Spirit, ajaran, dan institusi yang dimunculkannya menjadi acuan hidup oleh ratusan jiwa manusia dan senantiasa menyedot pengikut yang amat setia dari abad ke abad. Kesetiaan itu bahkan secara negatif cenderung melahirkan pandangan teologi dan ideologi yang amat eksklusif, yang pada urutannya mengkondisikan munculnya konflik berdarah di antara ke dua umat beragama dengan atas nama Tuhan. Karena itu, secara historis, sungguh sulit menandingi kebesaran dan keluasan pengaruh Yesus dan Muhammad.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;             Namun secara historis, kedua tokoh ini juga disalahfahami misinya sehingga banyak perang antar pemeluk agama yang telah menodai kebesaran kedua tokoh ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;Agama dan Perilaku Politik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Meski singkat, sebuah analisis komparatif antara Yesus dan Muhammad dalam pemikiran politik disajikan, antara lain, oleh Hugh Goddad dalam bukunya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Christians &amp;amp; Muslim, From Double Standarts to Mutual Understanding&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; (1955). Berbeda dengan Muhammad yang terlahir dalam masyarakat jahiliyah penyembah berhala, Yesus lahir di tengah masyarakat Yahudi yang sudah menganut faham monoteisme. Dengan demikian, formulasi ajaran dan faham ketuhanan yang dibawakan Yesus memiliki nuansa perbedaan dari Muhammad, terutama pada periode Mekkah yang bercorak hitam putih. Kecuali itu, pergulatan politik antara Yesus dan Muhammad memiliki karakter yang sangat berbeda. Yesus lahir di bawah kekuasaan Roma yang begitu perkasa, sedangkan Muhammad memulai kariernya di tengah padang pasir dalam lingkungan masyarakat nomad. Jadi, garis kehidupan politik di antara kedua tokoh tersebut sejak awal perjuangannya haingga akhir hayatnya secara significan memang berbeda. Umat Kristiani, meskipun pernah mengendalikan kekaisaran Roma, pada akhirnya secara tegas membuat pemisahan antara agama dan politik. Sementara itu, Muhammad dan para pengikutnya justru secara gemilang berhasil membangun dan mewariskan kekuasaan politik. Doktrin Gereja yang mengatakan: "serahkan urusan politik pada negara, sedangkan urusan agama pada gereja" telah turut memperkukuh munculnya faham sekularisme politik di Barat. Terlebih lagi ketika faham rasionalisme dan empirisme berhasil membuktikan bahwa pendekatan rasional-empirikal terhadap persoalan politik lebih ekseptabel dan menyelesaikan persoalan daripada tawaran agama. Karena terbebas dari bayang-bayang doktrin agama, lembaga riset keilmuan dan filsafat humanisme di Barat berkembang sangat pesat dan bahkan menyaingi posisi agama itu sendiri. Dengan demikian, bagi masyarakat Kristiani, kontroversi seputar apakah sebuah negara sebaiknya mengikuti ideologi sekular ataukah religius tidak begitu populer sebagaimana dalam Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebaliknya, dalam sejarah pemikiran Islam, baik akibat faktor doktrin keagamaan maupun kisah sukses Muhammad dan penerusnya dalam membangun imperium yang bercorak teokratis, hubungan agama dan negara menjadi persoalan yang tak kunjung selesai. Terutama ketika umat Islam memasuki abad modern. Munculnya negara bangsa dan pluralitas etnis, agama, dan budaya yang merupakan salah satu ciri masyarakat modern telah menimbulkan persoalan teologis, sosiologis, dan politis bagi umat Islam sejak dari Maroko, Turki, Iran, Pakistan, Saudi Arabia dan Indonesia. Analisis terhadap persoalan ini makin tajam dengan munculnya sarjana-sarjana muslim yang  studi pemikiran politik di Barat yang mengajukan data empiris dari kegagalan perilaku politik dunia Islam yang kemudian dikomparasikan secara kritis dengan realitas politik negara-negara sekuler yang dinilai relatif lebih demokratis dan lebih sejahtera.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;Wacana Masyarakat Madani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Perbedaan visi dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;collective memory&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; antara umat Islam dan umat Kristen mengenai hubungan antara agama dan negara juga terlibat ketika kita membicarakan seputar konsep masyarakat madani. Bangunan utama ajaran Yesus lebih menitikberatkan pada kasih dan moral, hampir-hampir tidak membicarakan masalah hukum yuridis serta epistemologi keagamaan sebagaimana dalam cakupan ajaran Islam. Jika dalam wacana keislaman dikenal istilah "Islamisasi Ilmu", "Islamisasi ekonomi", dan istilah lain sejenis, dalam Kristen tidak populer tema semisal "Kristenisasi ilmu pengetahuan", yang lebih berkembang adalah teologi dan etika. Itu pun metodologi dan cakupan bahasannya berbeda dengan tradisi teologi dan etika dalam Islam. Perbedaan karakter doktrin kedua agama ini penting disadari. Dengan demikian, kita lebih mudah memahami mengapa respons umat Islam dan umat Kristiani berbeda ketika membicarakan persoalan agama dan politik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mengenai tema masyarakat madani, misalnya, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;collective memory&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; dan referensi teologis-historis antara umat Islam dan Kristen tidaklah sama. Begitu juga antara mereka yang belajar ilmu sosial di Barat dan yang belajar keislaman di Timur Tengah, masing-masing menggunakan bahan bacaan dan metodologi analisis yang umumnya berbeda. Lehih dari itu, perjalanan sejarah antara umat Islam di dunia Timur dan umat Kristen di belahan barat jelas berbeda. Konsekuensinya sudah tentu tawaran konseptual-ideologis mengenai hubungan agama dan negara pasti berbeda. Dalam hal ini, kalau perbedaan itu masih dalam ranah teori keilmuan, justru sangat positif untuk menghidupkan tradisi dan dinamika intelektual di Indonesia. Tetapi, ketika paham keilmuan telah memasuki wilayah politik praktis yang bersimbiose dengan komitmen ideologi dan keyakinan keagamaan, persoalannya menjadi tidak sederhana karena akan melibatkan konsolidasi dan jurus-jurus politik kelompok-kelompok agama di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ketika Cak Nur (Nurcholish Madjid) melontarkan gagasannya tentang masyarakat madani, terlihat di sana bahwa dia sangat paham dan sangat apresiatif terhadap elemen-elemen pokok dari konsep &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;civil society&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; yang tumbuh di Barat. Dia bisa mempertemukan khazanah Islam, Kristen, dan Barat yang secara substansial terdapat elemen-elemen yang sejalan dan saling memperkukuh. Tetapi tidak jarang para mubalig menjelaskan istilah masyarakat madani dengan pendekatan dan semangat yang lain sama sekali. Mereka memahami konsep masyarakat madani secara deduktif, dogmatis, dan ahistoris yang kemudian diberi label Islam sehingga menutup wacana kritis. Apa yang disebut masyarakat madani dilihatnya sebagai warisan yang telah jadi (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;inherited&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;). Padahal, sesungguhnya ini merupakan proyek masa depan (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;invented&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;). Akibatnya, istilah masyarakat madani berkonotasi eksklusif-ideologis dan menyempit. Karena itu, orang non-muslim dan para ilmuwan sosial merasa tidak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;at home&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;, bahkan enggan terlibat dalam wacana tersebut. Sebagian ilmuwan sosial dan intelektual non-muslim lalu memilih istilah "masyarakat warga" ataupun &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;civil society&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; karena dianggap lebih netral. Padahal, kalau saja umat Islam lebih menonjolkan konsep dan substansi tentang masyarakat madani, bukannya label dan semangat ideologis, hal itu akan merupakan sumbangan yang amat besar bagi pembangunan masa depan Indonesia yang lebih beradab dan religius yang bisa diterima semua pihak. Kontribusi Islam terhadap khazanah etika politik di Indonesia sesungguhnya cukup kaya dan mendasar. Seperti halnya istilah majelis permusyawaratan rakyat, kedaulatan hukum, asas keadilan, dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;Etika Publik dan Etika Komunal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Agama Kristen yang berkembang di Barat sudah terbiasa dengan pemisahan antara wilayah pribadi, komune gereja, dan wilayah publik yang masing-masing memiliki etika. Kehidupan politik adalah wilayah publik yang rasional dan transparan sehingga terbuka bagi kritik serta harus bisa dipertanggungjawabkan di hadapan rakyat dan pers. Karena wilayah publik, persoalan politik dan kenegaraan harus dipisahkan dari dominasi dan intervensi lembaga keagamaan yang bersifat pribadi dan komunalistik. Pandangan dan pengalaman masyarakat Kristen seperti itu sudah tentu berbeda dengan cara pandang umat Islam yang tidak mengenal pemisahan antara agama dan negara. Apakah pandangan teologis-ideologis ini merupakan doktrin keagamaan yang telah final ataukah warisan dari produk sejarah pemikiran Islam, hal itu bisa diperdebatkan. (Penulis: Komaruddin Hidayat, JATENGPOS, 31/12/1999)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-1431852577565114074?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/1431852577565114074/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=1431852577565114074' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/1431852577565114074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/1431852577565114074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/06/penafsir-dasa-firman.html' title='PENAFSIR DASA FIRMAN'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-8248663965340340076</id><published>2008-06-19T23:57:00.000-07:00</published><updated>2008-06-20T01:20:03.042-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tiga Serangkai'/><title type='text'>MATERI PEMBELAJARAN</title><content type='html'>Pembahasan Dasa Firman pada bagian awal akan mengetengahkan Dasa Firman ke 5, 6 dan 7. Ketiganya secara prinsip ingin melindungi nilai-nilai yang paling pokok dalam hidup. Selain itu, semua kebudayaan menerimanya. Dasa firman ke 5: "Jangan membunuh" akan dibahas terlebih dahulu mengingat betapa pentingnya menghargai hidup manusia. Beberapa peristiwa / kejadian menunjukkan bahwa penghargaan dan perawatan hidup manusia di kalangan remaja masih memprihatinkan. Beberapa peristiwa yang sempat menjadi berita di koran, seperti:&lt;br /&gt;1. "Geng di &lt;a href="http://www.mail-archive.com/forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com/msg24714.html"&gt;SMA 34&lt;/a&gt; Siksa Yunior". Mau &lt;a href="http://amiepoenya.wordpress.com/2007/11/15/geng-gezper-sma-34-siksa-yunior/"&gt;lihat blognya&lt;/a&gt;?&lt;br /&gt;2. "&lt;a href="http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=186503"&gt;Lima siswa&lt;/a&gt; diberhentikan, Gazper  bubar"&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://64.203.71.11/kesehatan/news/0603/26/123545.htm"&gt;Teror&lt;/a&gt; di lingkungan sekolah&lt;br /&gt;Reaksi terhadap sikap yang tidak menghargai kehidupan dalam kasus bullying bermunculan. Misalnya saja:&lt;br /&gt;1. "Bullying" &lt;a href="http://www2.kompas.com/kesehatan/news/0605/01/103426.htm"&gt;ancam&lt;/a&gt; pembangunan manusia.&lt;br /&gt;2. Apa untungnya &lt;a href="http://64.203.71.11/kompas-cetak/0306/06/muda/351498.htm"&gt;menggencet&lt;/a&gt; adik kelas?&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://64.203.71.11/kompas-cetak/0405/28/muda/1047995.htm"&gt;Stop kekerasan&lt;/a&gt; di sekolah&lt;br /&gt;Opini terhadap bullying muncul di media cetak, antara lain:&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://64.203.71.11/kompas-cetak/0704/14/Fokus/3456065.htm"&gt;Budaya Kekerasan&lt;/a&gt; di Lembaga Pendidikan&lt;br /&gt;2. Masih &lt;a href="http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0708/31/muda/3798435.htm"&gt;mau kekerasan&lt;/a&gt;?&lt;br /&gt;3. Jaringan untuk &lt;a href="http://64.203.71.11/kompas-cetak/0704/14/Fokus/3456001.htm"&gt;cegah kekerasan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4. Membaca dan &lt;a href="http://64.203.71.11/kompas-cetak/0609/08/opini/2937720.htm"&gt;agresivitas&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-8248663965340340076?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/8248663965340340076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=8248663965340340076' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/8248663965340340076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/8248663965340340076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/06/materi-pembelajaran.html' title='MATERI PEMBELAJARAN'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-7333575238270927762</id><published>2008-06-18T07:24:00.000-07:00</published><updated>2008-06-18T07:34:38.314-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Banding Teks'/><title type='text'>Dasa Firman dari Teks Kitab Suci</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Rumusan Dasa Firman atau Sepuluh Perintah Allah yang biasa kita kenal dapat kita ketemukan di Kitab Keluaran 20, 1-17 dan Kitab Ulangan 5, 6-21. Apakah anda berminat &lt;/span&gt;&lt;a style="color: rgb(0, 153, 0);" href="http://www.the-ten-commandments.org/romancatholic-tencommandments.html"&gt;memeriksanya&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt; ?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-7333575238270927762?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/7333575238270927762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=7333575238270927762' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/7333575238270927762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/7333575238270927762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/06/dasa-firman-dari-teks-kitab-suci.html' title='Dasa Firman dari Teks Kitab Suci'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-7330929844043851698</id><published>2008-06-17T18:22:00.001-07:00</published><updated>2008-06-18T07:17:15.761-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Visualisasi'/><title type='text'>Musa Tokoh Antara</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-8cc5ad218232a1a3" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v3.nonxt1.googlevideo.com/videoplayback?id%3D8cc5ad218232a1a3%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330029680%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D431C4E9FCB5794A7E030435E905F4058CBAD53CC.34929A5226500D7130614CD4E90CF393C7439F81%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D8cc5ad218232a1a3%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3D8Uy7QxUekObqxWhVSp8uEgxE6kA&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v3.nonxt1.googlevideo.com/videoplayback?id%3D8cc5ad218232a1a3%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330029680%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D431C4E9FCB5794A7E030435E905F4058CBAD53CC.34929A5226500D7130614CD4E90CF393C7439F81%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D8cc5ad218232a1a3%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3D8Uy7QxUekObqxWhVSp8uEgxE6kA&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Musa menjadi perantara bagi umat manusia ketia menerima Dasa Firman yang berguna dalam kehidupan. Ingin tahu informasi tentang Musa dalam bahasa &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Musa"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; ? Atau dalam bahasa &lt;a href="http://www.newadvent.org/cathen/10596a.htm"&gt;Inggris&lt;/a&gt; ?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-7330929844043851698?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='video/mp4' href='http://www.blogger.com/video-play.mp4?contentId=8cc5ad218232a1a3&amp;type=video%2Fmp4' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/7330929844043851698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=7330929844043851698' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/7330929844043851698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/7330929844043851698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/06/blog-post_17.html' title='Musa Tokoh Antara'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-6844887904681383845</id><published>2008-06-17T02:55:00.001-07:00</published><updated>2008-06-19T23:55:23.789-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pustaka'/><title type='text'>Buku Sumber Inspirasi</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Buku-buku&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;1. Anne D. Mather &amp;amp; Louise B. Weldon, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Character Building Day by Day&lt;/span&gt;, (ed. Eric Braun), Minneapolis, 2006&lt;br /&gt;2. David Isaacs, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Character Building&lt;/span&gt;, A Guide for Parents and Teachers, Navarra, Four Courts Press, 2001&lt;br /&gt;3. Don Trent Jacobs &amp;amp; Jessica Jacobs-Spencer (with contribution from Richard M. Jones and Edwin J. Dawson), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Teaching Virtues&lt;/span&gt;, Building Character Across the Curriculum, London, The Scarecrow Press, Inc., 2001&lt;br /&gt;4. Edward F. DeRoche &amp;amp; Mary M. Williams, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Educating Hearts and Minds&lt;/span&gt;, A Comprehensive Character Education Framework, California, Corwin Press, 2001&lt;br /&gt;5. Gordon S. Wood, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Revolutionary Chracters&lt;/span&gt;, What Made The Founders Different, New York, 2006&lt;br /&gt;6. John McCain with Mark Salter, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Character Is Destiny&lt;/span&gt;, Inspiring Stories Every Young Person Should Know and Every Adult Should Remember, New York, Random House, 2005&lt;br /&gt;7. Karen Miles, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Power of Loving Discipline&lt;/span&gt;, London, Penguin Books Ltd. 2006&lt;br /&gt;8. Kevin Ryan &amp;amp; Karen E. Bohlin, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Building Character in Schools&lt;/span&gt;, Practical Ways to Bring Moral Instruction to Life, San Fransisco, Jossey-Bass, 1999&lt;br /&gt;9. Marge Rizzo and Joy Brown, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Building Character Through Community Service&lt;/span&gt;, Strategies to Implement the Missing Element in Education, Oxford, Rowman &amp;amp; Littlefield Education, 2006&lt;br /&gt;10. Mark Timmons, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Conduct and Character&lt;/span&gt;, Reading in Moral Theory (5th edition), London, Thomson,  2006&lt;br /&gt;11. Pamela Jaye Smith, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Inner Drives&lt;/span&gt;, How to Write &amp;amp; Create Characters Using the Eight Classic Centers of Motivation, Studio City, CA, Michael Wiese Production, 2005&lt;br /&gt;12. Robert Brooks, Ph.D &amp;amp; Sam Goldstein, Ph.D, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Raising A Self - Disciplined Child&lt;/span&gt;, Help Your Child Become More Responsible, Confident, and Resilient, New York, McGraw Hill, 2008&lt;br /&gt;13. Roxane Henkin, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Confronting Bullying&lt;/span&gt;, Literacy as A Tool for Character Education, Portsmouth, Heinemann, 2005&lt;br /&gt;14. Sharron L. McElmeel, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Character Education&lt;/span&gt;, A Book Guide for Teachers, Librarians, and Parents, Colorado, Teacher Ideas Press, 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-6844887904681383845?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/6844887904681383845/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=6844887904681383845' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/6844887904681383845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/6844887904681383845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/06/blog-post.html' title='Buku Sumber Inspirasi'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-588458194663664710.post-7948057428493405214</id><published>2008-06-16T23:47:00.000-07:00</published><updated>2008-06-17T18:29:59.806-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendasaran'/><title type='text'>Dasar Etika</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/SFhk9u6XI2I/AAAAAAAAABM/LEk7d9Ej-S8/s1600-h/tencommandments.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5213027580408963938" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/SFhk9u6XI2I/AAAAAAAAABM/LEk7d9Ej-S8/s320/tencommandments.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;DASA FIRMAN (10 PERINTAH ALLAH) SEBAGAI DASAR ETIKA&lt;br /&gt;1. Berasal dari tradisi kitab suci yaitu: Kitab keluaran 20, 1-17 dan Kitab Ulangan 5, 6-21&lt;br /&gt;2. Diakui oleh agama-agama seperti: Yahudi, Kristen, Katolik&lt;br /&gt;3. Merupakan rangkuman moral yang bersifat mutlak dan abadi&lt;br /&gt;4. Sebagai bahan pelajaran bagi calon orang beriman (kristiani)&lt;br /&gt;5. Menjadi pedoman agar kehidupan manusia berlangsung terus&lt;br /&gt;6. Sebagai bekal agar kelak di kemudian hari orang muda memiliki karakter kokoh&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/588458194663664710-7948057428493405214?l=etikahidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etikahidup.blogspot.com/feeds/7948057428493405214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=588458194663664710&amp;postID=7948057428493405214' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/7948057428493405214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/588458194663664710/posts/default/7948057428493405214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etikahidup.blogspot.com/2008/06/dasa-firman-10-perintah-allah.html' title='Dasar Etika'/><author><name>Agustinus Sigit Widisana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11670051543335148181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lMN5uAoOF9Y/SFhk9u6XI2I/AAAAAAAAABM/LEk7d9Ej-S8/s72-c/tencommandments.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
