30 November, 2008

Bunuh Diri Berbantuan


"Euthanasia merupakan salah satu masalah etika yang paling berat dalam zaman kita dan tampaknya dalam waktu singkat tidak mungkin diselesaikan. Istilah 'euthanasia' itu berasal dari bahasa Yunani: eu (=baik) dan thanatos (=kematian), sehingga dari segi asalnya berarti 'kematian yang baik' atau 'mati dengan baik'. Jika sekarang kita berbicara tentang euthanasia yang dimaksudkan adalah bahwa dokter mengakhiri kehidupan pasien terminal dengan memberikan suntikan yang mematikan atas permintaan pasien itu sendiri. Sekitar dua puluh tahun yang lalu tindakan medis ini disebut 'euthanasia aktif', untuk membedakan dari 'euthanasia pasif'. Dengan istilah terakhir ini dimaksudkan keputusan medis untuk tidak memberikan pengobatan kepada pasien terminal seperti misalnya memasukkannya dalam Unit Perawatan Intensif dan memasang alat-alat canggih serupa ventilator atau respirator, atau menghentikan sama sekali pengobatan semacam itu, jika sudah dimulai.

Kini istilaha 'euthanasia pasif' tidak dipakai lagi dan memang sebaiknya begitu, karena kualitas etisnya sangat berbeda dengan tindakan mengakhiri kehidupan pasien terminal. 'Euthanasia pasif' biasanya diganti dengan sebutan 'membiarkan pasien meninggal' (letting die). Jika pasien sudah tidak ada harapan lagi, tentu dokter tidak wajib memasukkannya ke dalam Unit Perawatan Intensif dan boleh saja menghentikan alat bantu hidup, jika pemakaiannya tidak bisa membawa penyembuhan lagi.....

(K. Bertens, Perspektif Etika: Esai-esai tentang masalah Aktual, Yogyakarta, Kanisius, 2001, hlm. 128)

27 komentar:

ahu mengatakan...

Saya pikir, tindakan Euthanasia bisa menjelma menjadi 2 sisi kehidupan yang berlawanan tergantung cara pandang kita. Jika kita melihat dari pandangan bahwa orang yang sakit keras dan membuatnya menderita seumur hidup, Euthanasia bisa dikatakan baik. Kita sebagai manusia paling tidak harus membantu yang sakit keras untuk mencarikan jalan yang terbaik berdasarkan pertimbangan akal budi. Jika kita merasa orang yang sakit keras itu sudah sangat menderita, dan kita bisa merasakan penderitaannya, kita bisa memutuskan untuk melakukan Euthanasia. Karena jika yang sakit tersebut hidup lama tetapi tetap dalam keadaan yang sakit keras, kita malah membuat dia menderita karena hidupnya tidak enak.
Sebaliknya, kalau menurut saya, dokter itu merupakan sosok yang bisa menjelma menjadi 'setan'. Diagnosa yang diberikan dokter serta saran-saran selalu kita percaya, karena kita memiliki sugesti bahwa untuk urusan kesehatan, dokter lah yang lebih ahli. Tetapi, apakah setiap diagnosanya itu benar, sedangkan kita yakin bahwa orang yang sakit keras itu masih bisa diselamatkan? Apa salahnya dokter berusaha sebaik mungkin. Meskipun gagal, itulah rencana Tuhan....

Alfred mengatakan...

Eutanasia sama artinya dengan membunuh. Membiarkan orang lain di depan mata sekarat namun kita tidak membantunya bukanlah citra Allah atau dapat dikatakan dengan perbuatan keji. Manusia yang telah menuntut ilmu untuk menyembuhkan manusia lainnya namun menyia-nyiakannya adalah dosa. Sama seperti kisah "pemberian talenta" dimana pembantu yang diberi satu talenta tidak berbuat apa-apa. Jika kita lihat, talenta yang dimiliki seorang dokter dapat diibaratkan lebih dari satu talenta. Dokter yang tidak menolong orang lain dan berputus asa akan sama seperti pembantu yang menerima 3-5 talenta namun tidak berbuat apa-apa jadi akan lebih buruk dibanding kisah dalam kitab suci tersebut.

Selain itu, melakukan euthanasia tidak akan membawa kemajuan pada ilmu kedokteran. Kecenderungan untuk berputus asa hanya akan membuat ilmu kedokteran statis pada tempatnya. Sebab, jika tanpa dilakukan usaha, tidak akan ada pengetahuan yang berkembang dan penyakit pun tidak akan dapat disembuhkan.

Maka, perlu usaha dari pada dokter untuk penyembuhan penyakit. Sebab, dokter yang baik akan selalu berjuang demi orang lain yang menderita sebagaimana bentuk pelayanannya bagi sesama manusia.

-Alfred S. XIE/3-

Dhani mengatakan...

Manusia punya hak asasi untuk hidup dan hanya Tuhan Allah semata yang dapat mengambilnya. Euthanasia merupakan dosa terselubung baik untuk penderita maupun yang melakukannya. Walaupun caranya berbeda, euthanasia tetap euthanasia. Baik aktif maupun pasif, tetaplah sesuatu yang salah.
Hidup adalah sesuatu yang indah yang dibuat Allah sedemikian rupa. Tujuan manusia hidup adalah sebagai tangan Allah di dunia. Maka, tak berhaklah tangan bertindak sendiri. Gerakan tangan harus menuruti apa yang dikehendaki oleh badan. Sama dengan manusia yang berpusatkan pada Allah, kita tidak pernah boleh menyerah dalam hidup. Apapun kosekuensi yang harus diambil, selam tidak mengorbankan hidup orang lain, harus diambil untuk mempertahankan kehidupan manusia. Percayalah bahwa TUHAN menciptakan kita untuk suatu tujuan mahamulia dan karenanya, kita harus memelihara hidup kita sebaik mungkin.
Dhani.P XIC/13

K mengatakan...

Sulit untuk mengatakan apakah euthanasia merupakan tindakan baik atau buruk. Di satu sisi, euthanasia merupakan tindakan atau usaha untuk mengakhiri hidup manusia yang begitu mulia dan luhur. Namun di sisi lain, euthanasia merupakan jalan bagi si penderita sakit yang benar-benar menderita, sudah benar-benar dilumpuhkan dan penyakitnya tidak disembuhkan, untuk mengakhiri penderitaannya.

Bagi saya, euthanasia hanya dilakukan atas permintaan pasien ketika bantuan medis dan psikologis yang diberikan oleh orang-orang sekitar tidak mampu untuk menolong si pasien dalam proses penyembuhannya atau membuatnya bersemangat untuk hidup. Kondisi ini tentu akan sangat sulit untuk dipenuhi, karena pikiran manusia adalah pikiran yang bisa berubah setiap saat. Bisa saja si pasien berubah pikiran setelah mendapat berbagai macam bantuan dari orang-orang di sekelilingnya, termasuk doa. Sehingga, euthanasia amat sangat sulit untuk dilakukan dari segi kondisi yang harus dipenuhi.

Aditya Kristanto
XI-A / 1

yulius mengatakan...

memang euthanasia merupakan jalan pintas bagi seorang pasien yang sudah sangat menderita atas penyakitnya atau meringankan beban orang terdekatnya melihat dirinya sendiri yang sudah tak berdaya atau bahkan masalah administrasi yang cukup besar, tetapi tetap saja tindakan euthanasia adalah tindakan yang salah. hukum pun melarang tindakan itu, tetapi apabila kita melihat pasal 345 KUHP apabila pasien menyetujui dengan tindakan 'bunuh diri' itu, dokter dan semua orang yang terkait tidak akan bersalah di depan hukum. menurut saya, pada dasarnya tindakan euthanasia itu memang salah dan sangatlah buruk, tetapi kita harus bisa melihat segala kondisi dan dari segala kaca mata atau sudut pandang, apakah tindakan ini adalah tindakan yang terbaik untuk dilakukan atau tidak. jadi, pada dasarnya kita harus bisa membuat keputusan sebaik mungkin sehingga tindakan yang kita lakukan tidaklah keliru.

Yulius AJ XI-E/41

kiel mengatakan...

Euthanasia menjadi dilema dalam kehidupan manusia. Di satu sisi, euthanasia itu baik adanya karena bisa mengakhiri kehidupan manusia yang sudah menderita yang disebabkan penyakit yang dideritanya. Ini akan membuat penderitaan berakhir dan tidak menjadi beban keluarga.
Namun bila kita melihatnya dari kacamata rohani dan etika, ini merupakan tindakan yang salah karena Tuhan memberi manusia kehidupan dengan tujuan agar manusia tersebut mengusahakan kehidupan sebaik baiknya. Kita sudah melanggar firman Tuhan bila kita mendukung gerakan euthanasia. Maka sebagai seorang Kristen saya sangat tidak setuju dengan euthanasia.

Yehezkiel Nathanael
XI D / 39

G.A.B.E mengatakan...

Euthanasia bisa dilihat dari sudut pandang beberapa orang sebagai "penyelamatan" terhadap penderitaan yang terjadi di dirinya. Dan tindakan tersebut beberapa menganggap tindaka benar.
Saya pikir TIDAK! Euthanasia dilihat dari sudut pandang apapun sama saja dengan membunuh seseorang baik itu merupakan permintaan dari si korban sendiri. Orang-orang yang biasa menerima euthanasia itu tentunya sudah rela untuk membuang kehidupannya begitu saja, padahal kehidupan yang ia miliki itu pemberian dari Tuhan sendiri. Dengan euthanasia bisa dibilang tidak menghormati Tuhan. Saya pernah mendengar beberapa cerita di mana manusia masih bisa bertahan hidup sampai sekarang meskipun dulunya berada di kondisi yang tidak memungkinkan untuk diselamatkan, itu bukti bahwa manusia mempunyai potensi bertahan hidup yang lebih hebat dari yang kita duga.
Bagi para dokter-dokter yang menganjurkan euthanasia bisa dibilang munafik. Tugas utama dokter adalah menyelamatkan jiwa. Seorang dokter yang sejati akan terus berjuang untuk menyelamatkan pasien meskipun semua harapan telah sirna.
Meskipun perkataan saya bagi beberapa orang terasa mengganggu. Sebaiknya kita tidak memberikan euthanasia meskipun orang tersebut menderita sangat parah. Kita harus membantu mereka untuk bisa memperjuangkan hidup mereka. Dan apabila penyakit lebih kuat dari jiwanya, setidaknya dia meninggal lebih "hormat" daripada melakukan euthanasia

By: Gabriel Alexander/XIE/21

NewLeader mengatakan...

Tindakan euthanasia dapat dilihat dari 2 sisi pandangan.
Sisi pertama adalah sisi keluarga dan juga dokter-dokter yang menangani pasien tersebut. Mereka tentu melihat keadaan pasien tersebut yang menurut mereka tidak kunjung sembuh, sehingga lebih baik dibiarkan meninggal daripada membiarkannya lebih menderita. Kalau sang pasien masih dalam keadaan bisa merespon, tentu ia bisa memilih, tetapi kalau sudah koma tentu dibiarkan saja meninggal.

Pandangan kedua dilihat secara umum, terutama ahli agama dan juga pemerintah, mereka pasti tidak mendukung tindakan euthanasia. Hal itu disebabkan mengambil nyawa seseorang dengan paksa atau dengan kata lain disebut juga membunuh.

Menurut saya, euthanasia dipengaruhi pengaruh luar dan juga pengaruh dari dalam.
Pengaruh dari luar seperti keadaan ekonomi keluarga, harapan keluarga yang sudah putus asa, dan juga dari kesalahan medis yang ingin ditutupi.
Pengaruh dari dalam adalah semangat si pasien untuk bertahan atau melepaskan hidupnya begitu saja.

Namun, pada akhirnya keputusan hidup manusia ada di tangan Tuhan, apabila Tuhan menginginkan ia hidup , pasti Tuhan akan menyembuhkannya walau sudah divonis akan mati.

NewLeader mengatakan...

Gradiyanto XI-D/18

antonius mengatakan...

Adalah baiknya kita memandang Euthanasia ini dari dua sisi,

sisi pertama , jika kita melihat dari sisi religius sama artinya dengan membunuh. Membiarkan orang lain di depan mata sekarat namun kita tidak membantunya bukanlah citra Allah atau dapat dikatakan dengan perbuatan keji.

sisi kedua, jika kita memposisikan diri sebagai pasien, jika kita harus terus menderita, dan juga keluarga juga menderita, tidak ada jalan keluar, disinilah euthanasia menurut saya merupakan jalan keluar


Antonius Richard/xie/5

benny mengatakan...

euthanasia menurut saya dapat kita lihat dari 2 sisi yang sangat bertentangan.
sisi 1 kita melihat sakit si korban sangat menyiksa si pasien,dan kita merasa kasihan terhadap siksaan tersebut dan si pasien pun sudah meminta untuk mengakhiri hidupnya karena tidak dapat menahan siksaan itu lagi.Sehingga kita melakukan Euthanasia untuk membantu meringankan penderitaan si pasien dalam hal ini tindakan ini dapat dianggap baik.
Sisi ke 2 dari segi hak asasi dan keagamaan tindakan ini sangat menyalahi aturan.Sehingga tindakan euthanasia di"cap" buruk dan tidak layak untuk dilakukan.
Saya pribadi lebih setuju dengan sudut pandang ke 2.Seharusnya pasien yang sakit dan menderita itu kita dukung dan bantu dengan mencoba meringankan penderitaannya dengan memberikan obat,ataupun alat bantu yang dapat memperpanjang hidupnya dan meringankan penderitaannya ,bukan ditolong untuk mengakhiri hidupnya.
Soal hidup si pasien dapat ditolong atau tidak kita tidak bisa menentukan hanya bisa mengkira-kira,yang menentukan adalah Tuhan.Apabila kita telah membantu si pasien sekuat yang kita bisa dan pasien tersebut tetap meninggal,tidak apa-apa karena semuanya sudah ada yang mengatur dan setidaknya kita sudah berusaha untuk memperpanjang umurnya.

Benny H/XIE/9

candidate cxx- persevere mengatakan...

Euthanasia diambil dari kata eu yang berarti mudah. dan thanatos yang berarti mati.

Singkatnya euthanasia berarti mati mudah,

seperti yang dibahas di atas euthanasia dibagi dua
passive euthanasic action, dan active euthanasic action.
yang keduanya pun dibedakan dari cara
pengakhiran hidupnya baik diberi obat-obatan keras ataupun di cabut peralatan yang menopang hidupnya..

Jujur secara pribadi saya menolak euthanasia tapi coba dipikir lebih dalam...

Seandainya si penderita sudah tidak kuat menanggung hidupnya yang sengsara misal (menderita luka bakar seluruh tubuh akan tetapi masih hidup)

contohnya penderita SJS, atau steven johnson syndrome
sang penderita akan mengalami rasa perih di sekujur tubuh baik dalam maupun luar, diiringi dengan luka-luka seperti luka bakar yang nantinya akan mengalami kerusakan paru-paru karena luka bakar tersebut...

apa yang harus dilakukan?
harus kah kita membiarkan atau menolong sebisanya dengan penyakit yang 95 persen merenggut nyawa?
atau memberi dia euthanasia?

mana yang lebih baik?
...
...
...
karena saya menetangnya maka saya memilih membiarkan hidup walaupun menderita sebagaimanapun...
itulah yang dialami nenek saya yang meengidap SJS, dan setelah dirawat selama kurang lebih 2-3 bulan di RS, nenek saya sembuh...dan tidak membutuhkan euthanasia...

jadi, pentingkah euthanasia? sebenarnya kita hanya perlu mengimani sesuatu, karena Tuhan sendiri berkata "mintalah maka kau akan diberi".
karena itu mintalah kesembuhan yang dialami tuhan tidak perlu mempercepat kematian karena Hidup mati itu di tangan ALLAH...

que sara sara

Kivat mengatakan...

Leo Nugraha / XIB / 29

Bagaimanapun juga, yang namanya euthanasia bukan sesuatu yang direstui oleh Gereja Katholik, alasannya manusia sendiri yang meutuskan waktu kematiannya. Padahal mati ataupun hidupnya manusia hanya di tangan Tuhan. Tindakan euthanasia ini identik dengan tindak kloning manusia yang ingin menyamai Allah dalam hal menciptakan kehidupan, dalam hal ini manusia mati atas keinginannya sendiri, padahal persoalan nyawa bukanlah hal yang sepele.

Jadi walaupun alasannya kasihan, tindakan euthanasia bukanlah hal yang dibenarkan apa pun alasannya, walau kasihan sekalipun. Sebab manusia akan terus berjuang untuk mempertahankan hidupnya sampai akhir hayatnya.

icewing mengatakan...

Menurut saya melakukan Euthanasia menunjukkan bahwa kita tidak menghargai kehidupan oleh Tuhan.Kita harus bersyukur kepada Tuhan karena anugerah yang diberikannya membuat kita bisa hidup seperti sekarang yang kita alami.Salah satu cara bersyukur yang dapat kita terapkan dengan mudah yaitu dengan menghargai anugerah Tuhan dengan merawat kesehatan kita.Dengan melakukan Euthanasia berarti kita tidak menjaga kesehatan kita dan sama saja dengan tidak menghargai kehidupan kita,seharusnya kita selalu berusaha dalam memperjuangkan kehidupan kita dan tidak mempercepat kematian kita,karena sama saja tidak menghargai kehidupan kita.

Jesen / XI-B / 27

Marcellus mengatakan...

Menurut saya euthanasia tidaklah berbeda pola pikirnya dengan surat wasiat (will).

Wasiat bisa dibuat sendiri maupun mengikuti saran atau pendapat orang lain.
Demikian juga euthanasia dapat diputuskan sendiri maupun diputuskan atas saran atau pendapat orang lain.

Wasiat dibuat karena alasan tertentu demikian juga euthanasia, tetapi mengapa wasiat tidak ditentang melainkan euthanasia yang ditentang....
Hal ini dikarenakan berkaitan dengan nyawa seseorang.

Tetapi euthanasia biasanya hanya dilakukan kepada orang yang harapan hidupnya rendah. Dinegara miskin dan berkembang pasti juga ada alasan ekonomi, karena biaya untuk merawat orang yang harapan hidupnya kecil sangatlah mahal.

Banyak alasan agamis yang menentang euthanasia. Tetapi bagi saya alasan agamis tidak bisa dilontarkan, karena kalau masalah euthanasia berakar kepada Tuhan berarti seharusnya kita bahkan tidak merawat orang yang sakit karena itu melawan kehendak Tuhan yang sudah menentukan umurnya.

Pastilah manusia yang menciptakan metode penyembuhan dan dapat mengakali kematian. Hal ini berarti kita memiliki kuasa juga untuk menentukan nyawa kita sendiri...

Jadi, menurut saya euthanasia itu baik selama orang itu sendiri yang memintanya. Tetapi bila atas pendapat orang lain maka sangatlah tidak etis...


Marcellus Catur Bhaskara (XI-F/ 31)

Fransiskus Raymond mengatakan...

Euthanasia adalah sebuah jawaban dari ketidakmampuan seseorang menghargai hidupnya. Sekecil-kecilnya kemungkinan seseorang untuk hidup, kita harus tetap mengusahakannya. Entah baik buruknya, diminta atau dipaksakannya, kasar atau halus, semua itu merupakan penolakan terhadap umur. Apakah kita mau dikurangi umurnya? Mukjizat akan datang kapan ia perlu datang, namun jika kita menolaknya, ia tidak akan datang.

Fransiskus Raymond
XIE/20

Daniel Christian mengatakan...

Euthanasia menjadi dilema dalam kehidupan manusia. Mungkin ini dapat meringankan penderitaan orang tersebut beserta keluarganya.
Namun bila kita melihatnya dari kacamata etika, ini merupakan tindakan yang salah karena Tuhan memberi manusia kehidupan dengan tujuan agar manusia tersebut mengusahakan kehidupan sebaik baiknya. Jangan pernah menyia-nyiakan hidup, meskipun itu terlihat tidak memiliki harapan lagi. Kita harus tetap percaya, Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi setiap orang yang beriman kepadanya.

Daniel Christian
XID / 09

Yohanes Wirawan Putranto mengatakan...

Euthanasia memang tidak sesuai dengan hukum agama, namun bagi sebagian orang euthanasia tidak dapat ditolak dikarenakan sebagian orang tidak tahan untuk melihat penderitaan kerabatnya.
Namun demikian, orang-orang tersebut harus kuat untuk melihat penderitaan kerabatnya sebab Tuhan memiliki jalannya dan bisa saja Tuhan belum ingin memanggil orang tersebut dan dapat sembuh lagi. Sebagai manusia, kita tidak boleh bertindak melebihi Tuhan yaitu mencabut nyawa orang lain sebelum Tuhan ingin mencabutnya.

Yohanes Wirawan Putranto
XI C/40

James mengatakan...

Saya tidak setuju dengan tindakan Euthanasia. Begitu pula dengan Gereja Katolik yang sangat menentang Euthanasia. Kematian seseorang itu telah diatur oleh Allah. Seharusnya kita sebagai salah satu makhluk hidup yang diciptakan olehNya tidak mengacaukan rencana yang telah Ia buat. Apabila seseorang dikehendaki Allah untuk meninggal, maka orang tersebut pasti akan meninggal. Namun apabila seseorang masih diberi kesempatan untuk hidup meskipun dalam keadaan kritis atau sakit keras, berarti Allah belum menghendaki orang tersebut untuk kembali padaNya. Oleh sebab itu, tindakan Euthanasia jangan sampai dilakukan, karena Allah telah mengatur kematian setiap individu. Allah telah memiliki 'daftar' kapan seseorang akan meninggal dunia. Siapa tahu orang yang sakit keras atau dalam keadaan kritis itu diberi mujizat oleh Allah sehingga dapat sembuh kembali meskipun secara medis tidak dapat disembuhkan. Tidak ada yang tahu rencana yang telah Allah susun.

James Hidayat
XI-E / 24

rizkykaro2 mengatakan...

Euthanasia, kalau saya tidak setuju dengan ini walau apapun alasannya....

Kalau saya menjadi dokter, saya tidak akan menyerah untuk menyembuhkan pasien saya walau apapun keadaannya..
Saya percaya Mukjizat " pasti " akan terjadi

Tapi kalau Tuhan bekehendak lain, saya tidak dapat berbuat apa - apa.

Sangat membingungkan, kalau keluarga pasien menghendaki Euthanasia dilakukan, mungkin karena alasan biaya, atau yang lainnya. Seorang dokter harus berpikir masak - masak apabila ingin melakukan ini, berpikir secara duniawi dengan "akal sehat/logika", dan imani/surgawi dengan IMAN.

terimakasih..

Nama : Rizky - 11 A- 17

Ricky Kristanda mengatakan...

Apapun itu namanya, menurut saya baik itu Euthanasia pasif maupun euthanasia aktif tidaklah dibenarkan dan harus dihentikan. Menurut saya, tindakan ini sangat menentang norma-norma kehidupan dan norma agama (Keillahian). Kapan seseorang meninggal, semua itu Tuhan yang tahu. Tuhan, sang pencipta manusialah, hanya Ia yang mampu dan berhak untuk mengambil nyawa manusia. Ia lah yang berdaulat penuh atas kehidupan kita.

Cobaan berupa penyakit bisa saja memang digunakan oleh Tuhan sebagai sarana meningkatkan iman umatNya kepada Allah Bapa di sorga. Baik itu iman si pasien ataupun iman si keluarga. Mungkin Allah ingin agar mereka semakin percaya dan bergantung sepenuhnya kepada kuasa dan penyertaan Allah. Allah yang Maha kuasa ingin menegur mereka.

Maka tindakan membiarkan orang meninggal baik itu dengan euthanasia (baik aktif maupun pasif) menurut saya tidak benar. Karena berarti kita sudah melebihi wewenang Tuhan sebagai oknum yang berdaulat penuh atas seluruh kehidupan di dunia ini.

By : Ricky Kristanda (XI D/33)

Jovian mengatakan...

Sangat sulit untuk menentukan Euthanasia itu boleh dilakukan atau tidak. Di satu sisi Euthanasia merupakan larangan agama karena jelas merupakan tindakan pembunuhan. Namun di lain sisi Euthanasia masih dipercaya sebagai suatu solusi bagi pasien yang sakit parah dan tidak bisa ditolong lagi. Tapi menurut saya ajaran agamalah yang lebih kuat, maka Euthanasia seharusnya tidak boleh dilakukan atau paling tidak diminimalkan agar tidak terjadi.

Jovian J. / XI-D / 22

Indra mengatakan...

Menurut saya, tindakan euthanasia tidak sepatutnya dilakukan oleh siapapun termasuk dokter walaupun oleh permintaan pasien. Proses euthanasia itu sama saja dengan proses pembunuhan seseorang. Padahal kita semua juga tahu bahwa dalam sepuluh perintah Allah, terdapat larangan jangan membunuh.
Euthanasia adalah perbuatan yang sangat tidak baik. Saya sangat yakin sekali bahwa Tuhan menginginkan kita semua untuk selalu menghargai kehidupan kita, yaitu sesama manusia. Semua pasien wajib disembuhkan oleh dokter. Dokter harus selalu berusaha dengan keras dalam mengobati pasien. Jika suatu proses euthanasia telah dilakukan, maka itu sama saja akan membunuh pasien dan itu bukan tugas dari dokter yang sebenarnya. Oleh karena itulah saya sangat tidak setuju apabila seorang pasien yang sedang menderita penyakit parah melakukan proses euthanasia. Setiap seseorang berhak untuk berjuang hidup sampai saat-saat terakhirnya karena kematian hanya ditentukan oleh Tuhan.

-Indra Dinatha (XI-D/no.19)-

didi mengatakan...

Saya rasa masalah Euthanasia pasti berujung penolakan dari sisi agama.

Namun, orang tua saya memiliki teman yang memiliki pendarahan di otak. Apa yang mereka lakukan adalah operasi memotong tempurung otak teman orang tua saya itu kemudian menyedot darahnya.

Operasi berjalan bisa dibilang sukses karena kondisi pasien masih hidup.

Akan tetapi...
teman orang tua saya hidup tanpa dapat beraktivitas. Seperti orang yang terkena stroke karena aktivitas otak sudah menurun. Bisakah anda bayangkan hal tersebut?

Pengobatan tidak murah karena harus menyediakan infus dan obat-obatan lain.

Beruntung keluarga pasien tergolong mampu membiayai pengobatan.

Akan tetapi Pasien tidak bisa apa-apa. Bahkan kondisinya amat memprihatinkan.

Seandainya kondisi ekonomi keluarga tergolong tidak mampu. Seperti keadaan masyarakat Indonesia sekarang ini.

Apakah si keluarga harus terus-menerus membiayai pengobatannya?

Seandainya pengobatan malah gagal dan si pasien harus hidup menggunakan alat respiratori, dan tubuhnya diinfus terus menerus, tanpa dapat beraktivitas, sedangkan biaya amat besar dan keluarga tidak mampu.

Entahlah apakah kecanggihan teknologi kita di tahun 2009 ini merupakan sebuah anugerah atau bencana bagi si pasien dan keluarganya.

Inikah yang akan direncanakan Tuhan? Atau inikah yang kita inginkan?

Apakah akan bersalah jika pengobatan kita hentikan dan membiarkan pasien meninggal?

Saya harap ada alat canggih di dunia kedokteran untuk menyelesaikan masalah euthanasia.

Jika boleh berangan-angan seperti mesin untuk menghidupkan kembali manusia.
Yah nothing is impossible. Tentu akan ada permasalahan dan perdebatan baru mengenai masalah itu. Hahahaha.

Benardi Atmadja XIF/7

Aron mengatakan...

Eutanasia bukanlah membuat orang mati dengan baik,tetapi akan menambah dosa bagi pelkunya karena telah melanggar perintah Allah yang ke 5:"Jangan membunuh".Nyawa seseorang harus diperjuangkan,bukan dibuang.Takdir memang di tangan Tuhan tapi hendaklah kita tetap mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita.

Christian Aron XIF/10

Ry0_W4t4n4b3 mengatakan...

menurut saya, euthanasia tidak dapat dibenarkan, sebab hidup dan mati adalah milik Allah dan tidak dapat diganggu gugat. Hanya Allah yang berhak mencabut nyawa manusia dan manusia tidak berhak mencabut nyawa manusia baik sesamanya atau dirinya sendiri. Euthanasia merupakan pembunuhan dan melanggar firman Allah ke-5 'Jangan Membunuh' karena euthanasia mencabut nyawa seseorang.

Marvin
XIC/26

D'Mangngi mengatakan...

menurut saya & saudara2 euthanasia salah sebab ditinjau dari Alkitab memang jelas bahwa dilarang membunuh dan bagaimana menurut saudara kalau pelayanan yang diberikan oleh dokter sudah sangat baik, tapi yang menjadi kendala adalah pasien yang tidak mempunyai banyak biaya untuk membeli/membayar alat medis, tentunya satu2 jalan adalah euthanasia. Jadi walaupun euthanasia merupakan dosa kita tidak bisa memberikan jalan keluar yg terbaik sebab salah satu faktor yg menentukan adalah keadaan ekonomi seseorang.