29 Juni, 2008

JAMAN SEKARANG?

Moralitas (etika) bagi sebagian orang hanyalah masalah cita rasa. Semua terserah pada mata orang yang memandangnya. Dalam menyamakan baik dengan merasa baik orang-orang seperti ini 'mengukur moralitas bukan dengan tolok ukur yang berlainan dari dirinya sendiri, tetapi hanya dengan perasaannya sendiri mengenai dirinya. Dalam mencoba mengambil keputusan mengenai bagaimana tindakannya dalam soal moral yang sulit, mereka bukan bertanya 'betulkah ini?', melainkan 'apakah saya merasa sreg dengan tindakan ini'

(Christopher Gleeson, S.J, Menciptakan Keseimbangan: Mengajarkan Nilai dan Kebebasan, Jakarta, Gramedia, 1997, hlm. 9)

81 komentar:

panda mengatakan...

menurut saya memang suatu fakta bahwa seseorang menilai suatu hal itu baik maupun bauruk mernurut perasaannya. namun, perasaan sreg ini sendiri merupakan suatu perasaan yang datang dari dalam hati kita sendiri, dan bukan berasal dari otak-logika kita. Justru fakta bahwa seseorang menilai suatu hal itu baik dari hatinya merupakan suat hal yang baik, karena seperti yang telah kita ketahui hati nurani kita adalah sanggar kudus Allah, dimana Ia membisikkan kepada kita apa yang baik dan yang buruk. Oleh karena itu komentar "Moralitas (etika) bagi sebagian orang hanyalah masalah cita rasa" adalah suatu hal yang baik, dengan catatan bahwa orang yang menilainya memiliki suara hati yang tidak sesat dalam berbagai artian.

candidate cxx- persevere mengatakan...

Saya rasa hati nurani memang harus digunakan tergantung dengan penggunaannya bila terbiasa menggunakannya untuk hal yang baik tentu kita tahu apa yang baik dan tidak, begitu sebaliknya, kita manusia yang "mengaku beradab" sudah sepantasnya beretika....

NewLeader mengatakan...

Ya memang saya juga setuju dengan pendapat itu. Memang ada benarnya orang melihat sesuai dengan perasaannya sendiri. Namun, kadang juga bukan masalah cita rasa tetapi moralitas juga bisa berasal dari HUKUM.Karena pandangan moralitas yang berasal dari Negara sudah ketetapan moral di negara itu. Misalkan saja contoh moralitas di Amerika sungguh sangat bertolak belakang dengan moralitas di Indonesia, jadi kalau ada seorang Asing melakukan hal yang dianggap masih dalam tindakan moral di Negara asalnya, bisa jadi dianggap melakukan tindakan tidak bermoral oleh masyarakat Negara itu.
dan juga Etika juga dibentuk oleh keluarga dan lingkungannya.
Andaikan ada seorang dari pedalaman yang "kanibal", ketika ia membunuh orang untuk dimakan, tentu itu merupakan tindakan tidak bermoral. Akan tetapi, bagi orang itu, perbuatannya masih sesuai dengan kebiasaan suku dan kebiasaan itu bukanlah hal yang bisa diubah dalam waktu 1 hari.

Jadi agak susah juga kalau etika hanya masalah cita rasa, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan dan bimbingan orang tua.

Jovian mengatakan...

Jovian Jevon / XI-D / 22
Saya ingin menanggapi pendapat Pater Christopher Gleeson, S.J. Dalam kehidupan sehari-hari, memang benar bahwa orang-orang sering memandang moralitas hanya sebagai masalah cita rasa. Mereka hanya mempertimbangkan suatu perbuatan hanya melalui perasaan mereka saja tanpa mempertimbangkan dari segi orang lain. Saya kurang setuju dengan mereka. Mengapa?
Karena kita sebagai makhluk sosial juga harus memikirkan orang lain dalam bertindak. Apabila kita memang memiliki hati nurani yang bersih, hal itu tentu tidak menjadi masalah. Setiap perbuatan kita akan selalu tepat bagi diri sendiri maupun orang lain. Tetapi apa yang akan terjadi bila kita tidak mempunyai hati nurani yang bersih? Bisa saja perbuatan yang kita anggap benar merupakan perbuatan yang tercela di mata orang lain. Maka, selain dipertimbangkan dari segi hati nurani pribadi, kita juga harus mempertimbangkan perbuatan kita dari segi orang lain. Kita mencoba memposisikan diri kita sebagai orang lain. Bila saya melakukan suatu perbuatan, apakah orang lain akan melihat tindakan saya itu sebagai suatu tindakan yang baik?

Sebagai contoh:
Ada seorang anak yang lahir dari keluarga pencuri. Tentu ia akan melihat perbuatan mencuri sebagai sesuatu yang wajar karena terpengaruh oleh keluarganya. Jika ia ikut mencuri ia akan melihat bahwa tidak ada yang salah dari tindakannya itu bila ia hanya melihat menurut perasaanya saja, padahal orang lain akan rugi. Maka seharusnya ia juga mencoba memposisikan diri di posisi orang yang menjadi korban pencurian. Bila hal itu dilakukan tentunya ia akan sadar bahwa korban akan mengalami kerugian. Maka, ia akan sadar dan mencoba untuk memperbaiki perbuatannya untuk tidak ikut mencuri.

Jadi moralitas jangan hanya berdasarkan diri sendiri, tetapi harus memperhatikan orang lain juga.

NewLeader mengatakan...

Saya adalah Gradiyanto kelas XID no. 18

Cong mengatakan...

Christopher Tjong XID / 7

Saya setuju dengan pendapat Pater Christopher Gleeson, SJ bahwa pada jaman sekarang banyak orang yang menilai baik buruknya suatu tindakan dengan perasaannya sendiri. Berdasarkan pelajaran agama yang telah saya dapatkan di kelas X, perasaan yang menjadi tolok ukur tersebut berasal dari suara hatinya sendiri. Menurut Gaudium et Spes art. 16, Suara hati adalah sapaan Allah dalam batin manusia. Dengan begitu, bila seseorang menggunakan perasaannya sebagai tolok ukur, menurut saya hal itu bukanlah sesuatu yang buruk. Karena hal itu berarti ia mau mencoba mendengarkan suara hatinya, yang tidak lain adalah sapaan Allah sendiri.
Namun, hal tersebut juga bisa bermakna negatif. Sesuai dengan yang sudah saya pelajari, suara hati juga bisa keliru. Suara hati dikatakan keliru bila tidak sesuai dengan norma obyektif. Faktor penyebabnya antara lain pengalaman masa lalu, ketidaktahuan, kebiasaan, ideologi, dan rasionalisasi. Salah satu contohnya misalnya bila seorang murid sudah sering menyontek. Maka dalam hati nuraninya, ia akan menghalalkan cara tersebut demi mendapat nilai yang baik. Sehingga ia akan terus melakukannya karena tidak menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang salah.
Sebagai keseimpulan, menurut saya, menggunakan perasaan sebagai tolok ukur bukanlah sesuatu yang salah. Hanya saja kita terlebih dahulu harus mencocokan tolok ukur kita tersebut dengan norma objektif yang berlaku di masyarakat. Dengan begitu moralitas yang kita miliki sebagai tolok ukur tidak akan keliru, melainkan sesuai dengan norma yang berlaku. Dengan begitu setiap tindakan kita bisa dinilai baik tidak hanya oleh perasaan sendiri, tetapi juga oleh orang lain.

RadjaKodoq mengatakan...

Fabian Surya P. XID / 14

(mohon maaf kalau ada salah kata atau melenceng dari topik ^0^)

saya sangat sangat setuju dengan semua komentar baik dari bacaan ataupun dari temen2 semua..

dari judul postingan pater ini saya berpendapat kalau perubahan perilaku atau etika masyarakat dipengaruhi oleh perubahan jaman. khususnya di indonesia atau jakarta, kalau saya melihat perkembangan etika masyarakat dari dulu sampai sekarang, tentu saja memburuk. kalau menurut saya sbg org jakarta hal itu diakibatkan oleh rasa kepedulian yang sangat sangat kurang terhadap sesama, apalagi di ibukota ini.

kepedulian yang mempengaruhi perilaku dan etika seseorang memang sangat dipengaruhi oleh lingkungan, seperti komentar dari mas gradianto di atas. dari situ saya mau mengkomentari 3 hal.

saya dan temen2 sebagai anak apalagi pas masih kecil, pasti ngerasain gimana sih pentingnya peran orangtua dalam perkembangan kita, apalagi dari sisi emosional. orang tua memang memiliki peranan penting, khususnya dalam mengajari kita bertindak. memang bentuk pengajaran tersebut tidak instan, namun membutuhkan pengalaman kita sendiri. yang kurang di masa kini khusunya di ibukota adalah intensitasnya. intensitas itu penting, khususnya saat kita anak2 dan remaja. peranan orang tua berupa NASEHAT kadangkala dianggap mengganggu kita sebagai remaja ketika berhubungan dgn org lain, namun kalau kita mau MENDENGARKAN dan MEREFLEKSIKANNYA, kita akan menyadari kalau darisitulah sifat, perilaku, moral, sikap, dsb akan dibangun untuk kesiapan kita dewasa nanti.

saya sebagai seorang pelajar menyoroti kurangnya pendidikan moral di indonesia. di sekolah khususnya di jakarta, mayoritas sekolah pasti mengajarkan pendidikan moral tersebut atau bahasa pelajaran jadulnya : budi pekerti. namun, murid murid sekarang kurang begitu peduli akan hal tersebut karena lebih concern kepada matematika, fisika, kiia, dsb. sehingga pelajaran yang justru membangun karakter seseorang dalam mengeri orang lain kadang terasa tidak ada fungsinya akibat kita yang hanya mementing kan NILAI bukan MANFAAT nya.

saya juga setuju dgn komentarnya mr.cong dgn gaudium et spes nya. saya dan teman2 sebagai umat beragama tentu merakan pentingnya peran agama itu sendiri. kenapa agama penting dalam pembentukan etika atau moral kita..? karena, lewat agama kita bisa belajar. contohnya gereja katholik, lewat alkitab kita bisa tau bagaimana membentuk etika kita. jadi mulai sekarang : rajin2 lah kita membaca alkitab, karena lewat situ, kita bisa belajar bukan hanya dari pengalaman iman org lain namun juga dari wahyu Tuhan sendiri.

jadi, pendek kata, keluarga, sekolah (apalagi kanisius, hehe) dan agama adalah 3 hal dari sekian banyak faktor lingkungan yang mempengaruhi moral kita dalam menentukan tindakan itu benar atau salah secara lebih objektif

AMDG.

zion d wiseman mengatakan...

Yoshua Nabara/XI.D/41

Saya kurang setuju jika dikatakan bahwa moralitas hanya diukur sesuai cita rasa dan perasaan saja. Karena saya rasa hal ini berkesan bahwa orang yang menilai moralitas hanya sesuai perasaannya seolah-olah tidak memiliki sahabat atau keluarga yang menanggapi dirinya. Seburuk apapun seseorang yang masih normal tentunya ia memiliki teman yang menilainya, memberinya saran dan masukan, atau mungkin membicarakan perbuatan orang lain. Jadi kurang benar kalau seseorang menilai moralitas secara pribadi saja.

Menurut saya, Kebanyakan orang pada masa kini bukannya tidak mengetahui nilai-nilai moralitas yang baik, namun mereka kurang memiliki sikap yang baik, sehingga apa yang mereka lakukan hanyalah sesuai keinginan daging mereka masing-masing.
Misalkan pejabat yang korupsi, bukannya orang tersebut tidak mengetahui korupsi kalau korupsi akan menyengsarakan orang lain, hanya saja ia mementingkan kesenangannya saja daripada orang lain. Hal inilah yang menyebabkan seolah-olah manusia jaman sekarang tidak mengetahui moralitas yang baik.

Agar sikap buruk yang tidak bermoral itu merajalela, sebaiknya kegiatan pembinaan dan pelajaran agama atau budi pekerti semakin diajarkan lebih mendalam, terutama bagi para generasi muda. Bukan hanya diajarkan mana yang baik dan yang buruk, tapi juga diajarkan konsekuensi dari setiap tindakan apa kebaikannya dan apa keburukannya, karena pada dasarnya tidak semua tindakan tidak dapat dikatakan buruk secara keseluruhan atau baik secara keseluruhan. Selain itu juga kita harus membiasakan diri membuat apa yang kita ketahui paling baik, tidak menuruti ego sendiri. Jika hal ini dilakukan terus-menerus maka terciptalah moralitas yang baik di masa mendatang

AMDG

panda mengatakan...

Pandhu Dharamawata XId / 27
klaim nama aja yaa males ngecap ;P

Tangleons mengatakan...

Sekarang, apa sebenarnya yang dimaksud dengan moral? Hal ini perlu didefinisikan terlebih dahulu ketimbang kita harus mempertanyakan kebenaran tindakan seseorang. Seperti yang diajarkan dalam kepercayaan cina lama, konsep kebenaran hanyalah suatu perbandingan. Tidak ada sesuatu yang absolut.

Manusia memiliki emosi dan perasaan yang mempengaruhi bagaimana kita bertindak. Kita boleh bersyukur karena selain memiliki emosi, kita berbeda dengan hewan karena kita juga memiliki akal budi dan logika. Sekarang, adalah terserah bagi manusia, apakah kita mau disamakan dengan hewan yang hanya bergerak berdasarkan insting, atau manusia berhatinurani yang bergerak sesuai logika. Betul atau tidak bukan hal yang mutlak. Semua bergantung pada titik acuan, antara lain hukum dan moral yang juga(sayangnya)ditentukan oleh manusia.

Arwin
XIB/11

Tangleons mengatakan...

Maaf, ingin menambahkan(harap maklum, tadi keburu dijemput sebelum selesai memberikan tanggapan)

Setiap manusia memiliki kekurangan, jadi secara logis, hampir tidak pernah seorang manusia melakukan tanpa cacat. Begitu juga dalam menentukan dasar moral. Bila moral adalah pandangan mengenai hal yang benar dan yang salah, maka seperti yang sudah saya katakan, terdapat ambiguitas terhadap moral.

2 Prinsip moral yang saya benar dan universal:

1. Moral adalah kode mengenai 'benar' atau salah' yang dibuat oleh manusia dan didefinisikan melalui masyarakat, filosofi, agama, dan hati nurani.
2. Moral adalah bentuk ideal dari kode hidup masyarakat, yang telah diperkirakan secara rasional.

Selama suatu tindakan memenuhi kedua prinsip ini, maka menurut saya tindakannya sudah bermoral. Entah hal ini dilakukan berdasarkan pengambilan keputusannya berdasarkan 'betulkah ini?' atau 'apakah saya merasa sreg dengan tindakan ini'.

candidate cxx- persevere mengatakan...

anyway...
Saya Antonio Indra Riyo XIB / 09

icewing mengatakan...

Saya setuju dengan pengambilan keputusan yang berasal dari diri sendiri.Sebagai manusia kita memang harus memiliki pendirian yang kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh orang-orang lain disekitar kita.Kita telah diberikan akal budi dan suara hati oleh Tuhan.Sudah selayaknya kita menggunakan fasilitas yang diberikan Tuhan tersebut,karena kita harus yakin bahwa Tuhan memberikan kita selalu yang terbaik dan tidak akan menjerumuskan kita ke sesuatu yang bertentangan dengan Tuhan.Oleh karena itu,dalam pengambilan keputusan moral,hendaknya kita mengambil keputusan kita dari suara hati yang dalam.Jikalau menurut orang lain tindakan kita itu salah,tetapi menurut suara hati yang telah kita pikirkan matang-matang dan tidak terburu-buru tersebut,bahwa yang kita lakukan itu benar,kita harus tetap mengambil keputusan yang kita dapat dari suara hati kita tersebut.Karena suara hati itu merupakan bisikan dari Allah dan yang pasti Allah akan menyertai dan memberikan sesuatu yang baik bagi kita.Jadi,saya menganggap keputusan moral lebih baik diambil dari keputusan diri sendiri,bukan dari perbandingan dengan tanggapan orang lain.

Jesen / XI-B / 27

nash mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
glennw mengatakan...

Glenn W/XI B/23
Moralitas adalah hal yang sangat lazim dalam kehidupan sehari-hari. Moralitas terdapat dimana-mana, di rumah, sekolah, juga lingkungan masyarakat. Kita menemui bahwa banyak sekali pertentangan dalam moralitas. Moralitas tentu berbeda persepsinya bagi setiap orang. Benar apa yang dikatakan oleh Pater Christopher bahwa moralitas hanyalah masalah cita rasa. Cita rasa disini yang dimaksud adalah cara seseorang memandang moralitas tersebut. Bila orang itu memandang sesuatu yang dilakukan itu baik, lalu orang itu pasti memandang kalau perbuatannya itu disetujui juga oleh orang lain sebagai perbuatan yang bermoral/ baik. Lalu, apabila seseorang melakukan tindakan yang tidak bermoral apabila dianggap oleh orang lain, maka bisa dianggap juga kalau orang itu tidak mengikuti suara hati dalam melakukan hal tersebut, sebab, suara hati dalam diri kita ini pasti dibimbing oleh Tuhan. Semua suara hati pasti baik adanya. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara kita menyikapi suara hati tersebut. Bila kita melakukan sesuatu yang sesuai dengan suara hati, besar kemungkinan hal yang kita lakukan akan sesuai dengan kualitas moral yang lazim di masyarakat kita, begitu juga sebaliknya.

Nimbus_Sancti mengatakan...

Aloysius Donny XI B no. 6

Jika membaca pendapat Pater Christopher Gleeson, S.J. memang benar adanya bahwa etika hidup dewasa ini hanya dianggap sebagai cita rasa. Saya tidak setuju mengenai anggapan itu. Walaupun tinggal dan hidup di Jakarta, yang bisa dibilang tingkat egoisme yang cukup tinggi, seharusnya kita tidak boleh terpengaruh.

Seseorang dalam menanggapi sebuah masalah moral akan mengacu pada pandangan-pandangan yang pernah diajarkan kepada dirinya.

Disinilah hati nurani seharusnya digunakan. Kita tidak boleh memandang sesuatu itu baik atau salah dari satu sisi tanpa memperhatikan sisi yang lain. Tetapi cobalah untuk melihat lebih luas apa penyebab timbulnya masalah moral tersebut.

Kita akan bisa menentukan dengan tepat tindakan itu benar atau salah jika kita berpikir dengan jernih dan memiliki hati nurani yang bersih serta selalu mengandalkan Sang Kebenaran Sejati, Yesus dengan membiarkan-Nya diam dan berkarya di dalam hati kita.

ahu mengatakan...

Albert Hutama XI-B/3

Menurut saya, tidak semua orang melakukan tindakan moral berdasarkan cita rasa. Memang dalam kenyataan yang ada di dunia ini, 9 dari 10 orang di dunia melakukan berdasarkan cita rasa.
Dan kebanyakan juga, kita melakukan moralitas karena disengaja. Hal ini dapat dibandingkan antara penerima tamu di hotel dengan bruder atau pater atau yang lain. Penerima tamu di hotel hanya sebagai 'robot' yang telah diprogram oleh manager hotel untuk bersikap ramah - ini masih berupa kemungkinan karena kebanyakan perbuatan manusia adalah disengaja.
Dan bukan penilaian kita terhadap orang lain yang mempengaruhinya, tetapi justru ketulusan hati kita. Sebagai contoh, jika seorang penerima tamu di hotel sedang tidak mood untuk bersikap moral, maka hal tersebut akan terlihat dari caranya yg berbeda dibanding dengan yang tulus.

Jadi, pandangan seseorang terhadap orang lainnya tidak selalu berdasarkan penilaian kita sendiri, tetapi juga perasaan. Karena perasaan selalu mewarnai hidup kita, otomatis etika yang kita lakukan juga "berwarna-warni".

RTC mengatakan...

sebagai seorang manusia, memang ada benarnya bahwa moralitas dan etika seseorang adalah sebuah "cita rasa" dari dalam dirinya, dan harus kita ketahui bahwa "cita rasa" tersebut dalam diri setiap orang adalah berbeda-beda. Perbedaan-perbedaan cita rasa ini bukan hanya dibawa dari dalam diri manusia itu sendiri yang telah dibawa sejak dari lahir, melainkan lebih banayk dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Dalam membentuk moralnya, seorang manusia dipengaruhi oleh banyak hal, terutama hal-hal yang merupakan "rangsangan" dari luar yang sangat dekat dalam kehidupan mereka. Sarana pembentukan moral pertama menurut saya adalah keluarga. Moral seseorang sangat banyak dipengaruhi oleh moral keluarga di mana mereka dilahirkan, tetapi lebih banyak pengaruhnya dari keluarga di mana mereka dididik menjadi seorang manusia, baik terdidik menjadi seseorang manusia yang bermoral baik ataupun bermoral buruk. Jadi menurut saya pembentukan moral sesorang merupakan sebuah "cita rasa" yang terbentuk melalui banyak proses dalam waktu yang lama selama mereka terus hidup, namun saran pembentukan moral yang terpenting adalah keluarga. Bukan keluarga tempat mereka dilahirkan, melainkan keluarga di mana mereka dididik menjadi seorang manusia.

R. Tri Chandi XI-B/34

Daniel mengatakan...

Daniel Christian XI D / 09
Saya ingin menanggapi pendapat Pater Christopher Gleeson, S.J. Masalah moralitas merupakan masalah klasik namun penting di dalam kehidupan bermasyarakat. Akan banyak masalah yang muncul jika moralitas tidak sesuai dengan norma atau aturan yang berlaku.
Tentang moralitas sebagai masalah cita rasa tidak dapat disalahkan atau dibenarkan. Ini hanya tergantung dari tipe orang melihatnya. Kalau dia sudah terbiasa melakukan suatu hal yang baik, maka moralitas sebagai masalah cita rasa dapat dibenarkan. Karena pada akhirnya, orang tersebut akan melakukan hal yang baik, menurut pandangannya dan menurut orang lain serta norma. Namun sebaliknya, jika orang tersebut terbiasa melakukan hal buruk, maka moralitasnya akan bertentangan dengan orang lain dan norma.
Namun ada kalanya, masalah moralitas ini akan menjadi rancu. Kenapa? Karena tidak semua orang yang kelihatannya jahat merupakan orang jahat. Misalkan pencuri, mungkin dia melakukan hal tersebut karena mendesak(misalkan perlu uang untuk keluarganya). Ini tidak sesuai dengan norma atau nilai yang ada. Namun, menurut pandangan pencuri tersebut, inilah hal yang terbaik dan benar, yaitu supaya keluarganya dapat melanjutkan hidup.
Sebagai manusia sosial, kita harus mampu untuk menghargai orang di sekitar kita, termasuk nilai dan norma yang berlaku. Sehingga pada akhirnya moralitas akan kembali kepada suatu kewajiban/keharusan akan hidup bermasyarakat, bukan lagi sebagai masalah cita rasa yang masih rancu keberadaannya.

cacing_giling mengatakan...

saya setuju dengan pendapat bahwa seorang menilai sesuatu baik atau buruk berdasarkan cita rasa maupun perasaan sreg. namun dalam prakteknya, saya kurang setuju dengan tindakan menilai sesuatu berdasarkan prinsip atau pandangannya sendiri tanpa melihat pendapat atau norma yg ada di lingkungannya.

hal ini dapat menimbulkan suatu masalah baru karena dasar atau patokan yang dimiliki oleh orang menjadi berbeda-beda. si a dapat saja mengatakan bahwa hal ini baik menurut dia karena dia merasa itu baik. namun si b belum tentu setuju dengan pendapat si a karena dia merasa hal itu salah.

jika kita melihat dari sisi perasaan atau hati, maka kita akan kembali kepada pribadi masing-masing dan asal dari perasaan tersebut, yaitu hati nurani. memang menurut ajaran gereja hati nurani adalah "Sanggar Suci Allah", di mana ia membisikkan kepada kita mengenai sesuatu yg baik ataupun yg buruk. namun dalam kesehariannya, hati nurani ini juga dipengaruhi oleh lingkungan dari pribadi itu sendiri. misalkan seorang anak yg hidup di keluarga pencuri. dia akan menganggap itu baik karena hal itu merupakan suatu yg biasa dan (dianggap) tidak merugikan orang lain. hal seperti ini dapat merusak suara hati nurani dan membelokkannya dari kebenaran.

kembali menanggapi penilaian seseorang berdasarkan cita rasa, ini mengartikan bahwa perasaan benar atau salah hanya berasal dari dirinya sendiri. kesalahan yg bisa terjadi adalah dia tidak melihat lingkungannya dan bersifat egois karena semuanya harus berdasarkan apa yg dia rasa, apa yg dia mau, tanpa mempedulikan pendapat ataupun pandangan yang ada dalam masyarakat. apa yang dapat terjadi kalau perasaan dia itu salah? apa konsekuensi dari kengototannya itu? tidak ada yg bisa membantunya untuk membetulkan pandangannya jika ia hanya melihat sesuatu dari diri sendiri

namun saya setuju jika seseorang memiliki cita rasa yg baik atas suatu perbuatan dalam lingkungan yg tidak baik, yg menjadikannya memiliki suatu pendirian atau dasar yg baik dalam suasana yg tidak baik sehingga ia tidak terpengaruh dengan ketidakbaikan karena ia tidak menanggapi penilaian lingkungannya yg salah.

stephanus a.s / xi b / 38

Ricky Kristanda Suwignjo mengatakan...

Moralitas adalah cara untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk atau benar dan salah. Saya setuju dengan pertanyaan bahwa moralitas hanyalah masalah cita rasa. Sekarang yang menjadi masalah bagaimana cita rasa moralitas yang seperti apa yang terbentuk dalam diri seeorang. Menurut saya,pembentukan cita rasa moralitas dipengaruhi oleh bagaimana orang tersebut melihat dan menafsirkan suatu perbuatan. Bagaimana pemahaman seseorang terhadap suatu perbuatan juga mempengaruhi moralitasnya. Sebagai contoh ketika seorang teroris meledakkan bom di pusat keramaian,tentu ada latar belakang mengapa ia melakukan hal tersebut. Banyak dari mereka yang melakukan hal ini dengan alasan sebagai perjuangan agama. Ketika kita bertanya kepada teroris itu apakah perbuatan itu bermoral atau tidak (baik atau tidak),tentu si teroris itu akan mengatakan bahwa hal itu benar serta diperbolehkan. Tidak ada rasa bersalah dan menyesal atas perbuatannya itu. Mereka merasa apa yang mereka lakukan itu benar. Mereka pun sangat yakin ketika mereka meninggal dunia mereka akan masuk surga karena menurut mereka,tindakan mereka ini memuliakan nama Tuhan. Dari contoh ini,kita melihat bahwa penafsiran seseorang akan suatu hal atau perbuatan akan mempengaruhi moralitas seseorang. Selain itu pula penanaman serta penekanan moral ketika kecil baik itu dari lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah akan mempengaruhi bagaimana cita rasa moralitas orang tersebut ketika dia tumbuh dewasa. Hal ini dapat kita lihat antara anak yang mendapat perhatian dan didikan yang cukup dari orang tua serta dekat dengan Tuhan dengan anak yang kurang mendapat perhatian dari orang tua. Akan tampak sekali perbedaannya seperti dalam cara bicara (tutur katanya),bagaimana caranya menghadapi masalah (dengan kekerasan atau dengan baik-baik),dan masih banyak lagi. Cita rasa terhadap moralitas itu pun berkaitan dengan suara hati yang berasal dari Allah yang menuntun kita untuk melakukan yang baik. Bila kita sudah tidak peka akan bisikan suara hati itu,pada saat itulah kita dapat jatuh dalam perbuatan dosa,kita akan merasa “sreg” dengan perbuatan yang sebetulnya berdosa dan kita akan merasa perbuatan itu seolah-olah benar. Oleh karena itu, agar kita dapat senantiasa mendengarkan suara hati,kita harus senantiasa hidup dekat dengan Tuhan. Apabila hidup kita penuh dengan perbuatan dosa (hidup kita jauh dari Tuhan),maka kita tidak akan mampu mendengar bisikan suara hati itu dengan jelas. Suara hati akan menjadikan kita mempunyai hikmat dalam berperilaku sehingga segala perilaku kita akan menjadi berkat bagi orang lain dan mempermuliakan Allah. GBU

Amsal 10 : 17
“Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat.”

Ricky Kristanda – XI D - 33

Ivanzz mengatakan...

Menurut saya, memang benar dikatakan Pater Christopher Gleeson, S.J bahwa pada jaman sekarang, orang melihat suatu perilaku bedasarakan keuntungan yang didapatnya sendiri. Banyak sekali orang yang melakukan perbuatan dengan tolak ukur dirinya sendiri(seperti dikatakan diatas). Akan tetapi, tidak semua orang begitu. Ada sebagian KECIL orang yang masih memikirkan perasaan orang lain. Jadi benar atau salah nya sebuah perbuatan lebih baik dinilai orang lain..

Tapi ada juga sebagian orang yang menilai suatu perbuatan YANG TIDAK DILAKUKAN dirinya sendiri dengan tolak ukur keuntungan yang didapat jika dia menjadi sasaran perbuatan tersebut. Nah, kalau sudah begini tentu saja yang menjadi permasalahan jika perbuatan tersebut membuat sebagian kecil orang senang dan sebagian besar orang akan kurang senang. Misalnya demikian, ada sebuah operasi penggusuran pedagang kaki lima, setelah para pedagang dibersihkan maka orang-orang pejabat akan berkata "ah, sudah sewajarnya mereka digusur" tapi mungkin bagi PKL yang terkena "gusuran" tersebut akan berkata "wah, sungguh ga bermoral banget orang-orang besar itu"

Maka menurut saya menjadi rancu apakah perbuatan itu benar atau salah, karena semua itu relatif, intinya sebagai manusia kita akan menyebut sebuah tindakan itu baik jika kita diuntungkan, dan sebuah perbuatan itu buruk jika kita dirugikan. Maka kembali pada kalimat pertama pada artikel diatas : Moralitas (etika) bagi sebagian orang hanyalah masalah cita rasa. Akan tetapi perlu diingat bahwa cita rasa orang berbeda-beda satu sama lain. Nah, oleh karena itu perlu ditarik kesimpulan bahwa jika kita ingin melakukan perbuatan, pikirkan lah perasaan orang yang dikenai perbuatan tersebut. (Jika kita lihat, kalimat kesimpulan tersebut mirip dengan ajaran China yang sudah berkembang berabad-abad yaitu tentang adanya KARMA, namun mereka mengajarakan KARMA dengan hal yang ada di alam, misalnya saja jika kita memotong ayam, kalau kita mati kita akan jadi ayam, dan sebagainya.)

Ivan / XI B / 25

rerez mengatakan...

Reinaldo Arifin XI-B/35

Menurut saya pendapat dari Pater Christopher Gleeson, S.J.
itu ada benarnya. Mengapa? hal ini dapat terjadi karena semua orang dibesarkan
di lingkungan yang berbeda dan dengan kebiasaan yang berbeda. Kita sebagai warga
kolese tentu saja mengenal larangan dilarang mencontek. Dan dengan
tumbuhnya kebiasaan tidak boleh mencontek suara hati kita tentunya akan merasa
dari dalam lubuk hati kita itu adalah perbuatan yang salah dan kita tidak
melakukannya. Tetapi kalau kita dibesarkan di lingkungan yang mengatakan bahwa
mencontek itu boleh maka kita akan melakukannya juga. Jadi suara hati dapat
melakukan kekeliruan / menjadi sesat kalau kita tidak memiliki pengetahuan

tentang pilihan apa yang akan kita pilih. Maka saya rasa semua orang memiliki
tolak ukur masing - masing dan tidak semua perbuatan orang dapat dikatakan benar
atau salah hal itu tergantung yang menilainya itu dirasakan benar / benar.

sayasukarefleksi mengatakan...

Alexander Daulat
XI-D/2

Dalam pandangan saya, moral adalah patokan dasar bagi manusia untuk menilai suatu tindakan itu benar atau salah. Moral adalah produk dari manusia, hasil pemikiran dari manusia.
Jadi jelas bahwa moral itu masalah cita rasa.
Moral yang dijadikan patokan adalah semacam persetujuan, penggabungan cita rasa dari masyarakat sekitar yang terikat kepada patokan moral itu.
Yang menjadi masalah adalah perbedaan antara melakukan sesuatu yang baik dan merasa baik tentang melakukan sesuatu. Tidak ada patokan pasti yang dapat membedakan perbuatan baik dan jahat. Perbuatan yang dikatakan jahat misalnya, dianggap jahat secara universal karena KEBANYAKAN orang sesuai dengan pandangan moralnya (yang merupakan hasil pemikiran manusia) menganggap itu perbuatan yang jahat.
Sehubungan dengan tema suara hati (conscience) salah satu patokan yang bisa kita jadikan tolak ukur tentang perbuatan kita adalah suara hati kita.

W-S mengatakan...

William Suryadiputra /XI-D/ 38

Saya ingin menanggapi pendapat dari Pater Christopher Gleeson, S.J. mengenai moralitas sebagai masalah cita rasa.

Di sini, saya ingin menyampaikan bahwa pada waktu-waktu tertentu, moralitas lebih dari masalah cita rasa . "Waktu-waktu tertentu" itu adalah pada keadaan-keadaan darurat atau keadaan-keadaan yang tidak sesuai keinginan Pada keadaan-keadaan darurat inilah kadang moralitas seseorang berubah. Pada keadaan darurat inilah kadang seseorang melakukan tindakan yang mungkin tidak sesuai dengan "cita rasa" mereka sendiri. Jika berubah ke arah yang positif mungkin tidak mengapa, tapi akan buruk apabila perubahannya ke arah yang negatif.

Analogi sederhananya seperti ini:
Ada seorang anak yang tidak suka memakan sayur, tetapi karena takut dimarahi ibunya, ia akhirnya memakan sayur. Nah, di sini ia "tetap tidak membenarkan perbuatan itu", tetapi lebih ke "melakukannya secara terpaksa".

Dalam kehidupan nyata, tidak dapat kita pungkiri bahwa di negara ini banyak orang tidak mampu yang terpaksa mencuri bahkan membunuh karena keadaan darurat, yaitu tuntutan ekonomi yang berat. Inilah salah satu contoh nyata yang dapat kita lihat.

Jika moralitas kita sudah baik, yang harus dilakukan apabila dalam keadaan darurat atau tidak diinginkan itu adalah tetap tabah dan percaya, berdoa pada Allah. Karena dalam keadaan sesulit apapun, Allah selalu menyertai kita dan akan membantu kita keluar dari masalah kita tersebut. Ingat, berbuat dosa untuk alasan apapun (meskipun alasan yang mungkin terlihat baik) tetaplah DOSA dan MENJAUHKAN KITA DARI ALLAH.

Kesimpulannya, moralitas itu lebih dari masalah cita rasa, tetapi lebih jauh lagi adalah pada apakah perbuatan yang kita lakukan sesuai dengan cita rasa kita itu tadi. Inilah yang lebih baik, jadi tidak hanya berpikiran apakah sesuatu itu baik, tetapi didukung dengan TINDAKAN. Untuk melakukan tindakan yang sesuai inilah kita harus selalu percaya pada Allah dan menuruti perintah-Nya.

Adriel mengatakan...

Kesimpulannya, bahwa tolak ukur etika bukan lagi orang lain yang seharusnya menjadi objek, melainkan perasaan pribadi. Konsep dan pola pikir seperti ini sudah tertanam dalam-dalam di pola pikir zaman sekarang. Sebagai contoh awam, guru dan orang-tua suka menerapkan kepada anaknya, bahwa "Perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan". Pertanyaannya, apakah ungkapan di atas ini benar? Sekarang kembali ke diri sendiri, siapa yang dijadikan tolak ukur disini? Siapakah parameter perlakuan kita? Kita sendiri bukan? Kita memeperlakukan diri orang lain sebagaimana kita sendiri.

Mengutip Christopher Gleeson, S.J, “Dalam mencoba mengambil keputusan mengenai bagaimana tindakannya dalam soal moral yang sulit, mereka bukan bertanya 'betulkah ini?', melainkan 'apakah saya merasa sreg dengan tindakan ini” Konsepsi semacam inilah yang memicu keegoisan diri. Mengapa? Tertanam pola pikir bahwa tujuan kita memperlakukan orang lain adalah agar kita mendapatkan perlakuan baik dari orang lain. Motivasinya semata-mata untuk kenikmatan diri sendiri.

Oeh karena itu, yang seharusnya ditanamkan dalam benak setiap orang bahwa "Perlakukanlah orang lain sebagaimana orang lain ingin diperlakukan". Prinsipnya, mengubah titik acuan yaitu, kemana dan mengapa anda ingin beretiket baik.

AMDG

Adriel XID/1

sos-dan member mengatakan...

Kalau menurut saya, tentu saja bahwa moralitas itu adalah adalah masalah cita rasa seseorang. karena sejak jaman dahulu, dimana orang masih hidup sendiri sendiri ataupun berkelompok-kelompok kecil, mereka belum memiliki suatu patokan untuk cara hidup mereka untuk mengatur kehidupan mereka. Oleh sebab itu, mereka mulai untuk membuat cara hidup dimana tentu saja mereka membuatnya berdasarkan perasaan seseorang terhadap apa yang ia atau kelompoknya rasakan terhadap lingkungan kehidupan mereka. Maka mereka pun akhirnya membuat sesuatu yang oleh kelompok mereka sebagai adat istiadat. Oleh sebab itu, adat istiadat dari berbagai daerah di Indonesia, maupun di Dunia, itu bisa berbeda-beda juga karena cita-rasa dan pemikiran orang-orang di daerah mereka masing-masing dan keadaan lingkungan yang berbeda-beda.

Oleh sebab itu, maka tentu saja kalau moralitas didasarkan oleh citarasa mereka, karena itu sudah merupakan nurani mereka sendiri, dimana bila mereka melakukan sesuatu yang baik, mereka akan merasa tenang, sedangkan bila apa yang mereka lakukan itu tidak baik, maka tentu saja ia akan memiliki perasaan tidak enak seperti perasaan bersalah.

F. Michael H. XID-15

ND-R NuZ mengatakan...

Andreanus / XI-D / 03

Moralitas di jaman sekarang... Jika kita lihat di kamus Bahasa Indonesia, kata "moralitas" dapat diartikan sebagai budi pekerti, sopan santun, atau ada sopan santun... Jika melihat dari arti tersebut di jaman sekarang, memang benar kalau moralitas hanyalah masalah cita rasa... Karena di jaman sekarang, orang berlaku sopan untuk hal - hal yang menurutnya adalah sesuatu yang nyaman untuk dilakukan... Jika tidak nyaman, ya... akan dilakukan semaunya... Jika dikaitkan dengan hati nurani, moralitas akan terpenuhi jika seseorang mendengarkan suara hati dan melakukan apa yang hati nuraninya sampaikan kepada orang tersebut

Indra mengatakan...

Indra Dinatha/XI-D/No 19

Tanggapan saya terhadap pendapat Pater Christopher Gleeson, SJ adalah:

Saya setuju dengan pendapat bahwa sebagian orang hanya memandang moralitas (etika) sebagai masalah cita rasa. Sebagian besar orang pada zaman sekarang memandang moralitas dengan melihat pada dirinya sendiri. Mereka berprinsip dan lebih mementingkan individualis. Sebagian orang bahkan hanya menganut suatu etika atau moralitas yang mereka anggap benar saja bagi diri mereka sendiri. Apa saja yang menurut diri mereka sendiri benar, maka akan mereka lakukan dengan senantiasa. Tetapi manusia sebagai makhluk yang membutuhkan orang lain untuk hidup, seharusnya tidak melihat atau mengukur suatu hal, misalnya moralitas dengan tolok ukur diri sendiri. Kita sebagai manusia yang mempunyai akal sehat juga harus memperhatikan lingkungan dan orang-orang di sekitar kita.

Manusia juga mempunyai latar belakang hidup yang berbeda-beda. Latar belakang hidup tersebut akan menentukan prinsip yang dianut oleh seseorang. Prinsip tersebut adalah apa yang dianggap orang itu baik untuk dilakukan serta apa yang dianggap orang itu tidak baik untuk dilakukan. Apabila seseorang dengan latar belakang baik, yaitu mendapat ajaran yang benar dari orang tuanya, lalu mengukur moralitas dengan tolok ukur dari dirinya sendiri, mungkin hal ini tidak akan menjadi masalah. Tetapi yang menjadi masalah adalah apabila orang yang mengukur moralitas dengan tolok ukur dari dirinya sendiri, mempunyai latar belakang hidup, hati, serta sikap yang tidak baik. Orang tersebut akan menganggap bahwa apa saja yang dilakukannya benar. Benar yang dimaksudkan adalah benar bagi dirinya sendiri namun tidak bagi orang lain. Saya sangat tidak setuju bila hal ini sampai terjadi. Contoh: seorang pengedar narkoba akan senantiasa mengedarkan narkoba walaupun itu melanggar suatu etika. Hal ini dapat terjadi karena sikap itulah yang ia anggap benar. Ia tidak memperhatikan norma di sekitarnya dan tidak memperhatikan perasaan orang lain. Hal ini merupakan masalah yang cukup besar.

Saya setuju bahwa kita sebagai manusia harus mengambil keputusan mengenai cara bertindak dalam soal moral, berdasarkan hati nurani serta dengan memperhatikan perasaan orang lain dan peraturan-peraturan (norma) yang telah berlaku disekitar kita. Jika, banyak orang yang melakukan hal tersebut maka sikap-sikap mengenai moralitas diantara sesama manusia pun akan sesuai sehingga akan terjadi keseimbangan dan tidak akan terjadi suatu masalah.

Radit mengatakan...

Andrew Raditya / XI-D / 4

Menurut saya, moralitas bila di tunjukan pada zaman sekarang hanyalah akan memunculkan formalitas dan dianggap ketinggalan zaman. Karena itulah moralitas hanya dianggap sebagai sesuatu yang hanyalah semacam gombal. Seperti Pancasila yang mengatakan bahwa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia yang ternyata hanyalah sebuah syarat untuk menjadi murid yang baik, atau sebagai anggota dewan yang mensyaratkan harus bisa Pancasila. Begitu juga dengan moralitas yang dipandang hanya untuk pemanis hidup dan menjadi cover yang menyatakan seperti apakah jati diri orang itu Sehingga pada akhirnya perlahan-lahan etika akan hilang ditelan zaman dan muncullah berbagai kebebasan dalam pedoman hidup yang menjad kegelapan tersendiri dalam kehidupan manusia. Memang bila masih menjadi murid, etika ditekankan dari sekolah, tetapi apa gunanya bila hanya harus dijalankan di dalam sekolah,. Banyak sekolah yang mewajibkan ETIKA HARUS DITERAPKAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI, tetapi jaman sekarang harus diubah menjadi "ETIKA HARUS DITERAPKAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI (DI SEKOLAH)" Semboyan-semboyan di beberapa daerah atau kota menyatakan sesuatu yang bagus-bagus untuk menggambarkan jatidiri penduduk di daerah situ, dan sebagai pelengkap pemda yang hanya sebagai penjelasan bahwa daerah atau kota itu sudah lengkap dengan semboyan dll. Dari semua fakta dan kebenaran yang dapat kita lihat setiap hari, membuktikan bahwa etika atau moralitas hanyalah sebuah gombalan dan dipandang sudah tak penting di jaman globalisasi yang disertai kebebasan ini.

Paulus mengatakan...

Paulus Adinugraha / XID / 28

Moralitas memang dipengaruhi oleh cita rasa dari manusia. Namun yang namanya perasaan itu telah kita ketahui, berbeda-beda dengan orang yang lain.Misalnya saja kita bandingkan seorang anak A yang dibesarkan di lingkungan yang terdidik dengan seorang anak B yang dibesarkan di lingkungan yang mana bisa dibilang tidak terdidik karena penuh hal-hal yang berbau kriminalitas. Anak A bila ditanyakan mengenai hal mencuri, merokok, minum2an keras dll pasti akan menyatakan bahwa hal2 tersebut merupakan suatu hal yang tidak baik,namun bila kita tanya kepada anak B pasti ia akan menjawab bahwa hal2 tersebut adalah hal yang biasa dan tidak buruk. Kemudian anak B ini dapat tidak disukai oleh masyarakat lain karena memang yang benar adalah menganggap mencuri, minum2an keras dll sebagai suatu hal yang buruk. Seharusnya memang dalam hidup ini, kita selalu berpegangan pada norma2 yang bersifat objektif dan diakui dalam negara. Memang bila kita menafsirkan sesuatu tindakan itu baik atau buruk juga dipengaruhi oleh suara hati kita yang seharusnya mendorong kita melakukan hal yang baik. Namun telah kita pelajari pada tingkat SMP bahwa suara hati itu bisa keliru. Bisa saja kita menafsirkan suatu tindakan itu baik yang padahal merupakan suatu tindakan yang buruk. Suara hati kita bisa mengalami ketidaktahuan mana tindakan yang benar dan mana tindakan yang salah.
Jadi menurut saya, seseorang untuk menafsirkan suatu tindakan itu benar atau salah tidak cukup dengan menggunakan perasaannya saja melainkan harus menggunakan norma2 objektif atau hukum yang berlaku di suatu negara agar tidak mengalami kekeliruan.thx...

Bona mengatakan...

David L.B. XI-D/12

Saya ingin menanggapi pendapat Pater Christopher Gleeson, S.J. Menurut saya sendiri, saya melihat cita rasa ini dari 2 aspek yaitu, aspek subjektif dan objektif seperti yang telah dikatakan oleh Pater Chris ini. Dimana, aspek subjektif adalah aspek yang menggunakan perasaan sendiri sebagai tolok ukur, dan bukan seperti aspek objektif yang menggunakan tolok ukur yang diambil dari perspektif yang berlawanan dengan dirinya sendiri.
Saya sendiri setuju dengan pendapat Pater Chris dan merasa tidak sreg dengan hal ini. Di jaman ini, sebuah perbuatan salah bisa dikatakan benar, tergantung dari siapa yang menilai perbuatan tersebut. Jika, si pelaku dekat dengan sang penilai, maka hampir dapat dipastikan bahwa perbuatan tersebut akan dinilai benar. Tidak hanya itu. Sebuah perbuatan salah bisa dibilang benar, jika kita memiliki uang atau "orang belakang" yang memiliki pengaruh. Menurut saya, hal ini tidak benar. Menurut saya, suatu perbuatan adalah apa adanya. Jika salah maka ia salah, jika ia benar maka benar. Walaupun, ada pula beberapa tindakan yang perlu ditoleransi, misalnya seorang bapa yang telah di-PHK mencuri makanan demi anaknya. Jika, kita sebagai penilai melihat hal ini dari aspek objektif, maka jelas bapak itu salah, tetapi jika kita melihat hal ini dari aspek subjektif, maka hal ini belum tentu salah. Dalam hal ini, yang paling bisa diandalkan adalah Suara Hati. Suara Hati adalah alat penilai dari Tuhan kepada kita yang paling akurat. Suara Hati berbeda dengan tolok ukur yang menggunakan aspek subjektif dan aspek objektif. Berbeda dari cita rasa kita. Suara Hati terbentuk dan semakin akurat dari pengalaman kita dan ia tersimpan di dalam diri setiap orang yang paling dalam(tidak sadar atau ID). Sedangkan cita rasa terbentuk dari dan di ego(bagian diri kita yang paling sadar, yang menyimpan semua keinginan kita). Saya bisa mengatakan ini, karena kenyatannya memang seperti itu. Contoh, seorang karyawan diberi proyek besar oleh bosnya. Ia diberi sejumlah modal, pada saat ia menerima uang itu ia secara spontan berpikir untuk menggunakan uang itu demi proyeknya(Suara Hati). Tapi, setelah lama berpikir, ia merasa lebih baik untuk mengambil sebagian uang itu demi dirinya, apalagi bosnya menyebalkan(cita rasa). Dari sini terlihat, bahwa suara hati bekerja secara langsung dan baik, sedangkan cita rasa bekerja lebih lambat, dan hasil pemikirannya biasanya buruk.
Suara Hati juga bisa salah, menjadi lambat dan tidak lagi akurat. Hal ini disebabkan karena :
1. Pengertian baik buruk yang salah
2. Pengalaman masa lalu
3. Ketidaktahuan akan masalah
Dengan menggunakan Suara Hati, maka moralitas(etika) kita tidak lagi dapat dibataskan pada aspek subjektif atau objektif, tidak lagi dibatasi oleh cita rasa, tetapi lebih luas. Dan, dengan begitu setiap perbuatan penilaian kita akan selalu bisa dipastikan benar.
Kesimpulan saya tentang posting ini adalah Pater Chris ingin membuat kita sadar akan keberadaan Suara Hati, dimana sekarang sudah banyak orang yang tidak lagi menggunakan suara hati, tetapi hanya menggunakan cita rasanya. Dimana, hal itu tidak benar. Dan, saya mendukung Pater Chris.

Wete mengatakan...

William XID-37

Menurut saya sebenarnya hal tersebut tidak masuk akal jika kita mengatakan bahwa menilai sesuatu menurut perasaan. bagi saya sendiri, dalam menilai yang pertama dan paling penting untuk dilihat adalah baik benarnya hal itu, bukan perasaan orang yang melakukannya.

bila semua orang menganggap bahwa etika didunia ini sudah tidak dibutuhkan, maka apa jadinya dunia ini?dunia ini hanya akan jadi dunia yang penuh dengan anarkisme tanpa adanya pemikiran lebih lanjut mengenai apa yang diperbuat.

Jadi bagi saya pribadi, etika merupakan salah satu hal yang penting di dalam hidup ini. etika sendiri merupakan pegangan hidup yang selalu harus dipikirkan sebelum bertindak

SathCCstriker mengatakan...

Satria Utama XI D / 34
Kolese Kanisius


....
Ya, memang benar adanya jika dikatakan sebagian orang, banyak yang menilai moralitas yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari ini melalui dasar pemikiran dia sendiri, hanya melalui pandangannya sendiri, tidak memikirkan bagaimana pandangan dari orang lain.

Tetapi, hal ini merupakan hal yang sudah sering terjadi di berbagai kalangan masyarakat. Kita bisa melihat dari banyak pejabat-pejabat yang berkorupsi, banyak pungutan-pungutan liar yang terjadi, dan sebagainya.

Menurut saya, hal ini sudah terlihat manusiawi jika dilihat dari banyaknya orang yang melakukan hal tersebut. ini dsebabkan karena tidak ada manusia yang akan merasa puas, dan kebanyakan orang akan memuaskan dirinya dengan caranya sendiri dan pandangannya sendiri tanpa memikirkan pandangan orang lain. Tetapi pemikiran-pemikiran seperti ini terjadi karna iman, pengetahuan, solidaritas, pengertian yang kurang dari dari si pelaku. Sifat-sifat ini biasanya muncul dari sejak kecil, bisa dipastikan ini dikarenakan pergaulan yang salah atau pengaruh dari keadaan-keadaan sekitarnya yang ia dapatkan sebelum waktunya, sehingga ia kurang bisa menentukan mana yang baik untuk dirinya dan orang lain.
menurut saya begitulah jaman sekarang.
sekian dari saya. mohon maaf jika ada salah kata atau kalimat2 yang melenceng dari topik.



_satria_

MeLV WanT To HolDinG SumOne mengatakan...

Saya tidak setuju dng pendapat itu.. karena menilai moralitas diri sendiri tidak hanya dari diri kita saja tetapi kita juga harus melihat penilaian moral kita dari orang lain.. karen kita disini hidup tidak sendirian dan juga terdapat tata krama dalam hidup kita.. sehingga kita tidak boleh seenak kita melakukan apa yang kita mau dari dalam diri kita.. tetapi kita harus bisa juga untuk mengerti apa yang orang lain mau.. jadi kita juga harus mendengarkan pendapat ttg moralitas kita dari orang lain.. karena kita hidup bersama-sama.. saling membantu.. sehingga tidak ada keegoisan di dalam diri sendiri..



G. MeLVin / XI-D / 17

sumasumapun mengatakan...

Matthew Sumapung XI B/30

Jika hati nurani kita yang kita yakini kebenarannya benar-benar bersih serta tidak ada satu pun suatu hal yang sebenarnya salah kita anggap benar atau kita benarkan, maka mengategorikan perbuatannya termasuk yang benar atau salah berdasarkan hatinya bukan lah suatu hal yang dapat disalahkan.

Perbedaan budaya dan kultur juga bisa menyebabkan hati nurani seseorang menjadi terkecoh antara yang benar dan yang salah, seperti yang telah banyak disebutkan dalam komen-komen sebelumnya di mana dapat kita lihat melalui contoh di mana seseorang yang berasal dari kebudayaan barat merasa bahwa berciuman di depan umum atau tinggal dengan lawan jenis yang belum terikat dengan status pernikahan bukan lah suatu hal yang patut dianggap salah atau patut mereka sesalkan.

Melihat dan menetapkan suatu hal salah atau benar lebih baik tidak dengan menggunakan perasaan kita masing-masing melainkan kita harus melihat apa norma yang berlaku di lingkungan sekitar dan kita harus bisa memposisikan diri kita menjadi orang lain yang mungkin terkena dampak dari tindakan kita.

Di sini, saya tidak berkata bahwa menggunakan perasaan dalam menilai apa yang baik atau buruk dengan hati nurani kita merupakan hal yang salah, tetapi apa yang saya coba kemukakan adalah kadang kita harus melihat sekitar kita dan merubah cara pandang perasaan kita sesuai dengan apa yang baik bagi orang lain dan diri kita sendiri, jika kita mampu melakukan hal itu, saya rasa menciptakan perasaan yang benar secara penuh bukan lah hal yang mustahil. Jika hal itu telah terwujud, tidak ada salahnya kita menilai suatu tindakan yang benar atau salah dengan perasaan kita.

nick mengatakan...

Menurut saya benar adanya apa yang dikatakan oleh Pater Christopher Gleeson, S.J. Memang terkadang moralitas kita ini hanya dipengaruhi oleh keegoisan diri kita ini. Kita tidak memikirkan apa yang akan dirasakan oleh orang lain, tetapi lebih mementingkan apa akibat yang dapat kita rasakan.
Hal ini juga tidak baik bila kita terapkan dalam hidup kita, karena bila kita mengikuti hal ini dapat membutakan kepekaan hati nurani kita dalam melihat keadaan sesama kita.
Hal ini juga tidak sesuai dengan apa yang diajarkan kepada kita, memperhatikan dan mempedulikan sesama merupakan salah satu bentuk cara agar kita dapat mendekatkan diri kita kepada Allah Bapa. Bila kita tidak mempedulikan sesama kita itu sama saja seperti kita ingin menjauhkan diri kita dari Allah.

Nikkiady Arief XI-D / 26

nick mengatakan...

Menurut saya benar adanya apa yang dikatakan oleh Pater Christopher Gleeson, S.J. Memang terkadang moralitas kita ini hanya dipengaruhi oleh keegoisan diri kita ini. Kita tidak memikirkan apa yang akan dirasakan oleh orang lain, tetapi lebih mementingkan apa akibat yang dapat kita rasakan.
Hal ini juga tidak baik bila kita terapkan dalam hidup kita, karena bila kita mengikuti hal ini dapat membutakan kepekaan hati nurani kita dalam melihat keadaan sesama kita.
Hal ini juga tidak sesuai dengan apa yang diajarkan kepada kita, memperhatikan dan mempedulikan sesama merupakan salah satu bentuk cara agar kita dapat mendekatkan diri kita kepada Allah Bapa. Bila kita tidak mempedulikan sesama kita itu sama saja seperti kita ingin menjauhkan diri kita dari Allah.

Nikkiady Arief XI-D / 26

numb_uh_2 mengatakan...

Daniel Andhika Putra Subeng
XID/08

Saya ingin menanggapi komentar dari Pater Christopher Gleeson, S.J. Saya kurang setuju dengan pendapat pater Gleeson. Menurut saya jaman sekarang moralitas bukan menurut cita rasa tetapi lebih ke pengalaman,lingkungan dan didikan dari orang tua , sebab menurut saya 3 hal ini yang mempengaruhi orang dalam membuat keputusan, sedangkan cita rasa menurut saya adalah apa yang ingin dilakukan orang-orang dalam situasi tersebut.

Contoh : Jika seorang anak dibesarkan dalam lingkungan pencuri, tetapi ia mendengar bahwa teman ayahnya tertangkap dan dihukum oleh warga yang dirampok. Bisa saja anak itu tidak ingin melakukannya sebab ia takut, tetapi karena anak yang tersebut dibesarkan di lingkungan pencuri maka moralnya menyatakan untuk untuk tetap melakukan untuk menghidupi diri dan keluarganya.

Menurut saya rasa "sreg" yang dialami orang adalah efek dari melakukan hal yang sama seperti yang pernah dilakukannya dulu sehingga tindakan itu tidak asing lagi untuk dilakukan ke-2, ke-3 dan seterusnya. Rasa "sreg" itu menurut saya tidak ada hubungan dengan apa yang ingin dilakukan atau apa yang menurutnya patut dilakukan.

numb_uh_2 mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Joseph Hell-O mengatakan...

<-_Joseph Bimandita S._-> XID/21

komentar yang akan saya berikan bersangkut paut dengan pendapat Pater Christopher Gleeson, S.J. Karna menurut saya memang benar bahwa dalam kehidupan kita sehari2, banyak yang menganggap bahwa moralitas(etika)merupakan suatu hal yang didapat dari "cita rasa". Namun cita rasa tersebut tidak hanya satu2 nya hal yang mempengaruhi etika dalam berkehidupan.

Etika yang dianggap benar dalam kehidupan ialah bila etika tersebut tidak hanya sesuai dengan cita rasa atau keinginan diri seseorang sendiri. Melainkan jg yang dianggap orang banyak baik dan benar. Sehingga banyak orang yang hidup dan ingin berpelilaku yang beretika, karna kebanyakan etika yang di bicarakan orang2 ialah etika yang kebanyakan orang tersebut menanggap nya baik.

Perlakuan dan perkataan seseorang dapat menilai orang itu apakah orang itu benar dan salah, karena orang yang beretika dalam perlakuan/perkataan biasanya akan menjadi benar walaupun dalam suatu peraturan itu bisa menjadi salah. Hal tsb dpt berupa berbohong, mencuri dan berbagai macam hal lainnya yang sekarang ini makin banyak terjadi di kehidupan. Namun tidak selalu hal itu berakibat buruk. contoh: pasangan suami istri yang baru saja menikah dan istrinya menganding. Pasti saja sang suami tetap akan berkata bahwa istrinya tidak gendut dan tetap cantik. padahal orang lain dapat melihat keadaan yang berbalik. Namun tidakan berbohong yang tidak sesuai etika tersebut merupakan tindakan yang sangat benar. tidak semua hal perlu dikatakan secara jujur. sehingga bisa dikatakan bahwa moralitas juga harus melihat situasi dan kondisi saat tersebut.

Selain itu juga moralitas(etika juga terpengaruh terhadap faktor linggkungan dimana orang tersebut tingga. karna peraturan dan etika orang yang hidup di tempat berbeda dapat saja berbeda dengan orang di tempat lainnya.

Jadi sebuah etika tsb dapat dilihat baik sesuai dengan cita rasa, situasi dan lingukan orang tersebut berada.

Evan mengatakan...

Saya pribadi setuju dengan pendapat bahwa kita sebagai manusia seringkali menilai orang lain dengan sdut pandang kita sendiri. Kita tidak pernah bertanya kepada orang yang bersangkutan mengapa atau apa alasan orang tersebut melakukan hal yang kita anggap sebagai sebuah tindakan yang tidak baik.
Selain itu juga, kita seringkali men'cap' orang. Dengan 'labelling' ini, orang tersebut akan terus ditekan oleh kita dan oleh semua cemoohan kita karena 1 buah tindakan saja yang menurut kita adalah sebuah kesalahan. Hal ini merupakan salah satu dari sedemikian banyak tipe pembunuhan moral. Pembunuhan moral ini akan terus berlangsung hingga nanti orang yang bersangkutan tinggal nama sekalipun. Luka yang ditimbulkan dari proses pembunuhan moral inipun akan bertahan seumur hidup, karena dengan 'labelling', orang akan dicemooh dan diberi julukan karena ada hal yang tida beres dengannya(menurut pandangan kita).
Selain itu, kita juga seringkali mengikuti perkataan orang lain. Kita seringkali melihat orang lain melalui pandangan orang-orang dekat ataupun teman kita. Seringkali apabila orang terdekat ataupun teman kita mengatakan sesuatu yang buruk mengenai orang lain, kita akan percaya begitu saja tanpa mengecek ulang apa yang sebenarnya terjadi.
Inilah yang menyebabkan banyak orang di dunia zaman sekarang ini salah paham satu dengan lainnya.
Karena itu, mulai dari sekarang, kita harus banyak mengkoreksi dan melihat kembali diri kita, kita harus mencoba untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik bagi masyarakat.
Demikian komentar saya, semoga komentar ini berguna dan semoga kita semua mau merefleksikan semua kesalahan yang telah kita perbuat dan mencoba untuk tidak mengulanginya lagi di masa depan.
Persevera.

Evan Hendra XI-D/13

Le0nard mengatakan...

Leonard / XI-D / 25

Menurut saya, moralitas atau etika memang terkadang hanya dilihat dari pandangan kita saja. Hal tersebut bisa saja terjadi, karena sebagaimana kita tahu bahwa belum ada peraturan yang tertulis, bahkan secara hukum mengenai moralitas/etika tersebut. Selain itu, paradigma setiap orang pasti berbeda dalam menyikapi moralitas.

Akan tetapi, dalam menjalankan etika hidup yang sebenarnya, kita juga mesti melihat dari sisi objektif. Maksudnya, apakah kita sudah menjalankan kehidupan ini dengan baik, dalam artian sesuai dengan norma yang ada atau kita menjalaninya hanya didasari oleh keinginan kita semata.

Jadi, hidup harus seimbang antara keinginan diri kita dengan lingkungan tempat kita tinggal, agar hidup kita menjadi semakin berarti.

Petrus mengatakan...

Petrus Benny J. / XI D / 29

Saya ingin mengomentari pendapat dari Pater Christopher Gleeson, S.J. Saya cukup setuju dengan apa yang diutarakan oleh Pater Gleeson.

Menurut saya, memang seseorang menilai sesuatu menurut pandangan / cita rasa pribadinya. Tetapi tidak secara sepenuhnya orang menilai sesuatu dengan hanya pandangan pribadinya saja. Selain berdasarkan pandangan pribadinya, pasti ada beberapa dasar yang dipakai untuk menentukan baik buruknya sesuatu. Jadi tidak bisa kita katakan bahwa moralitas hanyalah cita rasa semata. Walaupun ada beberapa orang yang bersikap seperti itu.

Sebenarnya secara langsung ataupun tidak langsung, beberapa dasar moral yang kita ketahui dan yang kita anut pastinya mempengaruhi pandangan / cita rasa yang kita miliki terhadap suatu hal.

Cita rasa / pandangan seseorang itu sudah dibangun / dimulai sejak orang tersebut masih kecil. Dari kecil, kita sudah diberikan ajaran tentang etiket-etiket yang baik. Ajaran tentang etiket-etiket itu kita dapatkan dari keluarga, sekolah, Alkitab, buku, dan banyak sumber yang lainnya lagi. Selain ajaran tentang etiket itu, kita sebenarnya telah memiliki kitab hukum yang diberikan oleh Tuhan dalam hati kita. Kitab hukum itu dapat kita rasakan / dengar melalui suara hati yang menggema dalam hati kita.

Namun begitu tidak semua dasar moral yang kita ketahui, anut, yang baik itu sesuai dengan cita rasa kita. Meskipun tidak sesuai dengan cita rasa itu, hal-hal itu tetap akan kita gunakan sebagai bahan pertimbangan tentang moral.

Maka dari sebab itu dapat kita simpulkan bahwa moralitas tidaklah cita rasa melainkan suatu satu kesatuan antara cita rasa, kitab hukum Tuhan yang ada dalam diri kita (SUARA HATI), dan ajaran tentang etiket yang diberikan kepada kita sejak kita kecil.

Demikian pendapat saya. Mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan ataupun ada beberapa pendapat yang keluar dari topik.

-Petrus Benny-

J''DodZz mengatakan...

Doddy J
XID / 12

Saya ingin menanggapi tentang Moralitas sebagai cita rasa. Menurut saya, memang benar bahwa di dunia ini tidak sedikit orang yang menanggapi sesuatu hanya dengan sudut pandangnya saja. Mereka memandang suatu perkara tanpa melihat dari sisi orang lain. Saya kurang setuju dengan hal itu. Karena menurut saya, apabila kita melihat lebih dalam tentang moralitas/etika, kita tentu akan menyadari bahwa itu berasal dari masyarakat. Sudah tentu kita tidak dapat melihat suatu etika itu dengan sudut pandang kita sendiri. Kita harus melihat bagaimana dari sudut pandang orang lain. Kalau tidak, bagaimana prosesnya suatu musyawarah itu bisa ada?? Tentu hal itu dibentuk atas dasar melihat pandangan orang lain. Yang menentukan baik atau tidak baik adalah masyarakat karena itu semua berpengaruh pada masyarakat dan kita sebagai makhluk sosial harusnya menyadari hal itu. Justru dari sudut pandang orang tertentu kita dapat mengetahui bagaimana karakter orang tersebut, bukan tentang etika/moralitas….. saya pribadi menganggap orang-orang seperti ini adalah orang yang egois, karena mereka melakukan sesuatu atas dasar dirinya sendiri yang belum tentu berasal dari lingkungan yang baik, karena lingkungan sangat membentuk karakter dan mempengaruhi moralitas kita.

“Because we never know who will suffer because of us…”

semut_kesemutan mengatakan...

Daniel Luke XID/10

Saya setuju dengan pendapat Pater Christopher Gleeson, S.J.
Memang jaman yang semakin modern ini moralitas dan etika sudah semakin dilupakan.
Perasaan egois dalam diri seseorang yang tidak terkendali membuat seseorang hanya berbuat apa yang ia suka/senangi tanpa berpikir panjang apakah itu melanggar moral/etika atau tidak.
Tetapi menurut saya, ada yang lebih berpengaruh terhadap seseorang daripada hanya perasaan "sreg" yang membuat seseorang melakukan perilaku yang melanggar moral/etika itu, yaitu uang.
Terutama di Indonesia, orang rela menjual harga diri, melanggar moral dan etika serta berbuat apa saja demi mendapatkan uang, entah bagaimanapun caranya, baik halal maupun haram.
Jadi menurut saya, di jaman sekarang ini, etika dan moral telah dianggap sebagai hal yang tidak berguna, bahkan menjadi sampah karena rasa egois yang tidak terkendali dari dalam diri seseorang demi mendapatkan kesenangan untuk dirinya, dan kesenangan itu umumnya adalah uang. Karena dengan uang ia bisa mendapatkan kesenangan duniawi yang ia inginkan seperti rokok, sex bahkan narkoba.
Seperti yang kita tahu, jika kita inginkan suatu perubahan, kita harus mulai dari diri kita sendiri, dalam hal ini kita harus menaati semua etika dan moral yang ada dalam masyarakat kita, agar perubahan itu dapat terwujud.

Stephanus mengatakan...

Stephanus Widjaja XID/36

betul apa yang dikatakan oleh Pater Christopher. sekarang ini orang2 menentukan tindakan2 mereka berdasarkan perasaan mereka saja. bahkan dalam menentukan tindakan dalam soal moral yang sulit sekalipun. sekarang orang2 melakukan tindakan2 yg mereka rasa baik bukannya yang benar2 baik. jadi bisa saja apa yang mereka lakukan itu mereka rasa baik padahal sebenarnya apa yang mereka lakukan itu sesuatu yang buruk. secara tidak langsung, etika menjadi hanyalah masalah cita rasa belaka. orang2 melakukannya hanya melalui hati saja, mereka tidak memikirkannya dalam pikiran mereka. keputusan2 yang mereka ambil hanya dipikirkan oleh mereka dalam hati saja, tidak dalam otak juga. mereka hanya melihat keputusan2 yang mereka buat baik atau tidak hanya dari sudut pandang mereka saja, tidak dari sudut pandang orang lain juga sehingga mereka hanya berpikir apakah keputusan yang akan mereka ambil nantinya bisa sreg dengan dirinya atau tidak. memang setiap mengambil keputusan, kita harus mendengarkan suara hati kita tapi suara hati saja tidak cukup, kita juga harus memikirkannya dengan akal sehat karena bagaimanapun juga, suara hati bisa keliru, oleh karena itu, akal sehat juga diperlukan. jadi, saya setuju tentang apa yg diungkapkan oleh Pater Christopher kalau orang2 jaman sekarang mengambil keputusan hanyalah berdasarkan perasaan mereka yang sreg dengan tindakan mereka.

Gunawan mengatakan...

Gunawan Handoko / XI-B / 24

Menurut saya, apa yang dikatakan oleh Pater Christopher Gleeson, S.J. adalah suatu hal yang benar. Apabila kita berbicara tentang moralitas pasti tak akan lepas dari apa yang dikatakan sebagai cita rasa. Cita rasa tersebut juga akan berbeda tergantung dimana kehidupan orang tersebut dan juga dimana lingkungan serta pergaulan orang tersebut.

Perkara benar atau salah sebuah cita rasa seseorang bukanlah orang tersebut yang menilai tetapi orang lain lah yang menilai cita rasa tersebut. Dan juga keberadaan kita juga menentukan apakah cita rasa kita ini dianggap benar atau salah. Dalam menentukan hal yang benar atau salah sebaiknya kita tidak hanya menggunakan cita rasa tetapi juga harus menggunakan suara hati yang berasal dari hati nurani kita serta menggunakan batasan yang jelas seperti norma-norma yang ada. Karena cita rasa seseorang berbeda denan orang lain dan juga cita rasa tersebut dipengaruhi oleh perasaan dan keadaan mental kita. Apakah kita sedang senang, sedih atai kesal.

sebagai contoh adalah apabila ada seorang anak yang tinggal di sebuah desa terpencil dan kumuh dimana kehidupan disekelilingnya tinggal dan hiduplah para pencuri serta pencopet dimana kegiatan mabuk-mabukan, berzinah dan juga merokok adalah kegiatan yang biasa saja. Apabila anak tersebut berpindah tempat tinggal ke daerah yang lebih maju dan jauh dari lingkungan sebelumnya, perbuatan anak tersebut yang telah tercetak dan terbawa dari tempat tinggal sebelumnya seperti mabuk-mabukan, berzinah dan juga merokok akan dianggap sebagai sebuah hal yang sangat tabuh dan tidak layak dilakukan oleh anak seumuran itu. Suatu penilaian juga akan berbeda apabila yang menilai adalah seorang preman dan seorang yang berpendidikan. Dimana preman akan menganggap hal tersebut biasa saja sedangkan orang yang berpendidikan akan menilai hal tersebut sangatlah tidak baik karena sangat bertentangan dangan apa yang telah diatur oleh peraturan-peraturan pemerintah.

Seharusnya anak tersebut memikirkan hal yang akan dilakukannya. bukan hanya berpikir dengan menggunakan otak tetapi juga berpikir menggunakan akal sehat dan yang paling penting adalah suara hati. Karena suara hati adalah salah satu bentuk komunikasi yang kita miliki dengan tuhan dimana suara hati dapat menunjukan hal yang terbaik bagi kita tidak seperti cita rasa yang dimiliki oleh seseorang dimana cita rasa tersebut terkadang dipengaruhi oleh keadaan hati kita apakah kita sedang dalam keadaan senang, sedih atau marah.

Maka dari itu, kita tidak boleh memandang dan menilai orang hanya dengan hanya menggunakan perasaan bukanlah hal yang tepat karena perasaan kita dapat berubah sewaktu-waktu.

-AMDG-

ReyNaLd mengatakan...

Reynald / XI-D / 32

Memang benar bahwa kebanyakan orang menganggap moralitas atau etika ini hanyalah masalah selera masing-masing individu. Mereka hanya dapat menilai suatu tindakan, bukan melihatnya dari sudut pandang orang lain serta meninjau fakta yang terjadi.

Kita tentu menyadari bahwa setiap orang tentu memiliki sifat dan kebiasaannya masing-masing yang berbeda satu sama lain. Kita memiliki perasaaan, pandangan, hati nurani dan jalan pikiran yang tidak sama, serta tidak dapat dipaksakan. Maka apabila suatu perbuatan yang kita lakukan itu hanya atas dasar pemikiran dan perasaan diri kita masing-masing. Tentu akan dapat terjadi suatu perbedaan dan pertentangan yang meluas oleh karena hal ini.

Maka pada dasarnya, kita perlu saling mengerti satu sama lain dan tidak egois, yaitu dengan mempertimbangkan serta memikirkan suatu perbuatan yang akan kita lakukan dari sudut pandang orang lain pula. Bukan hanya atas perasaan dan selera kita sendiri. Karena apa yang kita perbuat itu mungkin baik dan 'benar' di mata kita. Mungkin itu cocok dan pas buat pemikiran kita. Namun tidak dengan orang lain. Bahkan, bisa saja tindakan kita itu menyakiti dan tidak berkenan untuk orang lain.

Memang seringkali hal ini menjadi suatu kendala dalam kehidupan keseharian kita, terutama dalam bermoral atau berperilaku. Terkadang, apabila kita sudah menyadari hal ini, kita akan merasa bingung dan ragu akan perbuatan kita. Apakah ini memang menjadi suatu etika yang dapat melangungkan kehidupan secara keseluruhan, dalam arti perbuatan itu benar-benar dapat diterima dan sesuai dengan perasaan orang lain.

Namun, lebih dalam lagi, satu hal yang dapat kita pastikan dari moralitas ini adalah kebenaran daripada tindakan itu sendiri. Jika memang suatu hal yang kita perbuat itu memanglah tepat, tindakan itu benar-benar sesuai dengan situasi dari tata kehidupan dan lingkungan yang ada, serta pada prinsipnya betul. Tentu mayoritas orang akan dapat menerima tindakan kita itu sebagai suatu etika yang tepat pula.

BGSLOVEB사랑은 좋은 거 mengatakan...

REINARD BAGUS XID/31




Menanggapi pendapat Pater Christopher Gleeson, S.J. Saya secara pribadi berpandangan bahwa pikiran kita manusia yang berkaitan dengan moralitas memang berbeda satu sama lain. Tetapi benarlah jika teman-teman saya sebelumnya telah mengatakan bahwa pikiran tiap individu mengenai moralitas yang berbeda-beda itu tidaklah penting, yang penting adalah bagaimana kita bisa berpikir sesuai dengan apa yang terjadi dalam masyarakat, dalam dunia. Norma objektif yang ada adalah kuncinya. Dan norma objektif yang berlaku dalam masyarakay luas itu tentu membatasi pikiran personalia kita tentang moralitas. Dari situlah muncul moralitas objektif yang mengatur kehidupan kita dan membatasi pikiran kita. Moralitas memang adalah sesuatu yang berhubungan erat dengan kehidupan. Ia telah menjadi bagian dari kehidupan kita karena dengan adanya moralitas itu, kehidupan kita akan disatukan dengan pengetahuan tentang yang baik dan buruk.


Sejenak saya ingin menghubungkan moralitas dengan judul post yaitu JAMAN SEKARANG. Blak-blakan saja saya menanggapi posting ini, saya ingin mengatakan bahwa moralitas yang terjadi pada jaman sekarang ini sudah sangat hancur. Tidak hanya di Indonesia, juga di dunia. Faktanya, dunia modern sudah tidak memperhatikan lagi keorisinilan moralitas yang sebenarnya. Moralitas jaman sekarang sudah ‘dimodifikasi’ sebagai sesuatu yang jauh, jauh lebih liar. Contoh simpel, bom seks telah terjadi dimana-mana mulai tahun 80an. Teknologi-teknologi multimedia telah membawa individu-individu membuka imajinasi kotor mereka lewat gambar dan suara. Dari situ pikiran mereka pun tercemar dan membawa mereka mempraktekkan hal yang telah mereka pelajari tersebut. Seni pun telah berubah menjadi ‘sangat terbuka’, dan lebih parahnya lagi, seni ‘terbuka’ itulah yang membuat mereka bisa laku di pasaran, tanpa itu mereka tidak ada apa-apanya di dunia ini. Benar-benar dunia modern ini.. Itulah sebagian contoh dari moralitas jaman sekarang yang semaikn beringas, yang jelas tercipta dari cita rasa manusia yang tidak lagi memandang norma objektif, namun subjektif.


SALAH SIAPA? Salah pikiran manusia sendiri? Adakah hubungan perbedaan pikiran jaman modern dengan pikiran masa lampau? Benar sekali, manusia sendiri yang membuat teknologi itu, cita rasa dalam diri manusia yang membuat segala sesuatu menjadi lebih liar. Karena modernisasi mereka sendiri, manusia menjadi tidak rasional lagi. Maka norma objektif telah hilang pula karena ulah manusia itu, dari pikiran mereka dan kembalilah mereka pada perbuatan ‘apakah saya sreg melakukan ini?’ yang didasari pada moralitas dan cita rasa pikiran mereka sendiri. Singkatnya, from chaos to denonment, back to the chaos again. Ash will return to ash.

Terima kasih.

B G S

kiel mengatakan...

Saya ingin menanggapi pendapat Pater Christopher Gleeson SJ.

Memang pada dasarnya banyak orang yang berperilaku dan bertindak hanya sesuai dengan perasaan dan cita rasanya saja. Mengapa??? Menurut saya karena orang sudah berkembang untuk menjadi semakin individualis. Seseorang sudah berperilaku hanya sesuai kehendaknya, tidak melihat ke luar dirinya yaitu orang di sekitarnya. Memang itulah kenyataan yag ada di masyarakat kita sekarang ini.
Saya setuju dengan pendapat ini bahwa hal ini yang ada dalam realita yang ada di masyarakat, tetapi seharusnya kita sebagai manusia tidak hanya memandang moralitas hanya sebagai cita rasa saja. Karena bila hanya sebagai cita rasa, itu berarti kita hanya mementingkan diri kita sendiri tanpa melihat pada kepentingan orang lain.


Padahal semboyan kolese kita adalah "Man and / for with Others".
Bila kita melihatnya dari sisi kita sebagai kanisian seharusnya kita memperhatikan kepentingan orang lain.

contohnya :
Seorang pemuda ingin mendapatkan uang untuk memenuhi kehidupannya. Ia sudah di bujuk oleh teman - temannya untuk mencuri saja. Seandainya jika ia melihat moralitas sebagai cita rasa semata - mata pasti ia akan bingung dan mudah goyah kepribadian dan pendiriannya. Tetapi jika ia sadar dan mau untuk melihat ke luar yaitu keadaan orang yang akan ia curi, ia akan tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak mencuri karena ia sudah memposisikan dirinya sebagai orang yang dicuri tersebut.

Sebagaimana contoh di atas kita sebagai manusia harus merubah cara pandang kita, jangan hanya kita memantingkan diri sendiri tanpa memperdulikan orang lain.
Terimakasih...
GBU...

kiel mengatakan...

Maaf saya lupa mencantumkan nama.
Nama : Yehezkiel Nathanael
Kelas : XI D / 39

Ivan mengatakan...

Ivan W./XI-D/20

Saya ingin menanggapi pendapat Pater Christopher Gleeson SJ.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pada jaman sekarang ini banyak orang bertindak berdasarkan perasaannya saja. Seseorang menilai sesuatu berdasarkan cita rasa dan perasaannya saja. Apabila ia merasa tidak "sreg" dengan suatu tindakan maka ia akan menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang buruk.
Oleh karena itu, menurut saya penilaian itu bersifat subjektif di mana penilaian setiap orang berbeda-beda terhadap suatu hal. Sehingga moralitas sangat bergantung kepada diri orang yang bersangkutan. Hal tersebut mengacu kepada penilaian dan kepribadian diri dari orang yang bersangkutan.
Moralitas sangat bergantung kepada penafsiran dan kepercayaan seseorang, sehingga secara tidak langsung, moralitas juga dipengaruhi oleh lingkungan di sekitar pribadi yang bersangkutan di mana mereka tumbuh dan berkembang serta mempelajari hal-hal yang baru.
Oleh karena itu, lingkungan di sekitar seseorang sangat berpengaruh terhadap moralitas seseorang. Lingkungan yang baik akan membantunya tumbuh dan berkembang ke arah yang baik pula, di mana hati nuraninya akan terbuka terhadap bisikan dan bimbingan dari Tuhan. Sebaliknya. lingkungan yang tidak mendukung akan menjerumuskannya ke dalam penilaian dan penanggapan yang salah, sehingga akan menimbulkan kerugian baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain yang berada di sekitarnya. Lingkungan yang tidak mendukung tersebut akan mempengaruhi suara hati seseorang sehingga menjadi tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Ia mengambil keputusan berdasarkan pandangan subjektif dirinya sendiri yang belum tentu benar melainkan hanya mengambil keputusan yang menurutnya "sreg".
Oleh karena itu, moralitas seseorang harus didukung oleh hati nurani yang terbuka dan lingkungan yang baik pula.

tanLe mengatakan...

Stanley/XI-B/36

Ya, saya sangat setuju dengan Pater Christopher Gleeson SJ. Hal ini sangat jelas terjadi di dalam kehidupan manusia. Banyak orang, termasuk kita menilai moralitas / etika hanyalah dari yang ada di dalam pemikiran kita sendiri. Sering kali kita menilai seseorang hanyalah dari sudut pandang kita sendiri. Jika menurut kita sesuatu perbuatan itu salah untuk dilakukan dan perbuatan itu dilakukan oleh orang lain, kita langsung beranggapan bahwa orang tersebut telah melakukan suatu kesalahan, padahal tidak selalu demikian, kita harus mempertimbangkannya lebih jauh dan luas lagi, tidaklah hanya dalam lingkungan kita. Semua ini sangat jelas terjadi di Negara kita, Indonesia. Di Indonesia terdapat banyak sekali peraturan – peraturan yang mengatur masalah etika hidup. Kita ambil saja satu contoh yaitu Undang – Undang yang mengatur mengenai Pornografi. Hal ini sangat ditentang sekali oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal ini berbeda dengan di Negara – Negara lain terutama di bagian Barat. Menurut mereka hal ini biasa – biasa saja dan tidak perlu diributkan. Hal ini jadi semakin aneh menurut saya. Menurut saya di Indonesia terlalu berlebihan. Banyak orang di Indonesia, terutama untuk artis, jika mereka sedang berenang di pantai dan menggunakan pakaian yg minim, hal ini langsung dipeributkan. Padahal menurut saya hal ini wajar saja jika dilakukan pada saat sedang berenang. Sayapun sering bingung, mereka salah tempat untuk melakukan hal seperti itu atau kah Indonesia yang salah dalam mebuat aturan terutama mengenai etika ini.

damien_mike mengatakan...

Reinaldi XID/30

Saya ingin menanggapi pendapat Pater Christopher Gleeson, S.J.

Moralitas sebenarnya memiliki ukuran dan batasan yang dapat berasal dari berbagai sumber, yaitu moralitas menurut agama, moralitas menurut ketentuan hukum, moralitas menurut aturan etika dalam adat istiadat dan budaya, hati nurani yang lurus, dsb. Dalam setiap lingkungan moralitas menjaga agar dipatuhinya suatu etika tertentu. Namun dalam prakteknya, moralitas tersebut sering dibengkokkan karena kepentingan individu atau kelompok tertentu. Maka batasan moralitas bukan lagi didasarkan etika moralitas namun lebih didasarkan pada selera atau kepentingan pribadi atau kelompok. Lebih lanjut lagi penyimpangan moralitas tersebut dapat menular kepada orang atau kelompok lain baik karena nyaman, terpaksa, meniru, menguntungkan, dsb. Dan apabila hal ini dibiarkan bahkan dapat mempengaruhi moralitas suatu bangsa dan menimbulkan berbagai kerusakan besar pada berbagai aspek dalam kehidupan bangsa tersebut. Tak ada orang yang tak pernah khilaf dalam hal moral namun hal tersebut dapat diperbaiki.

hahahaha mengatakan...

Memang benar ada sebagian orang yang menilai sesuatu berdasarkan cita rasanya. Cita rasa yang baik adalah bila cita rasa itu adalah suara hatinya, bukan perasaan ingin dan tidak ingin. Menjadikan suara hati sebagai moralitas memang baik mengingat suara hati adalah suara Tuhan. Meskipun begitu, suara hati tidaklah selalu benar. Hal ini dikarenakan suara hati bisa menjadi sesat. Hal ini dikarenakan kita sering mengabaikan suara hati kita sehingga menjadi tidak peka. Suara hati juga bisa menjadi sesat akibat pengaruh lingkungan sekitar. Kita bisa menjadi bingung mengenai mana yang benar dan mana yang salah. Agar kita bisa memiliki suara hati yang benar kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan seperti dengan rajin berdoa atau membaca alkitab.
Meskipun setiap orang sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk, tetap ada orang yang bertindak sesuai dengan suara hatinya. Ia lebih memilih untuk melakukan hal yang ia inginkan, yang lebih enak bila dilakukan, meskipun itu bertentangan dengan moralitas yang sudah ia ketahui. Banyak orang yang sering melakukan hal yang ia inginkan semata, tanpa memikirkan masalah moralitas.
Jadi, meskipun kita bisa menilai sesuatu dengan baik berdasarkan hati nurani kita, kita harus mengikuti apa kata hati nurani kita dalam tindakan kita. Bila kita hanya tahu mana yang benar dan yang baik tetapi hanya bertindak berdasarkan perasaan ingin dan tidak ingin, maka tidak ada gunanya dan dapat membuat suara hati kita sesat.

Fransiskus Kevin.P XI D / 16

adrianus_henri mengatakan...

Adrianus Henri/XI-B/2

Saat ini sulit bagi kita, sebagai manusia yang memiliki keterbatasan untuk mempertahankan nilai-nilai kebenaran klasik.Kesulitan ini semakin lengkap ketika semuanya dihadapkan pada banyak pilihan. Pilihan untuk mempertahankan nilai "baik" dan "buruk" menjadi semakin kabur dan sangat relatif. Bagi sebagian orang, mata hati menjadi sangat bertentangan dengan keyakinan orang lain. Hal ini sangat jelas terjadi di lingkungan saya berada. Misalnya, terjadi benturan kepentingan antara beberapa pihak. Untuk memilih pilihan yang menurut semua orang baik memang agak sulit namun dalam setiap pilihan pasti ada nilai yang akan didapatkan dan dikorbankan. Di sini menjadi sangat berarti hati nurani dan nilai-nilai moral yang mendukung untuk mengambil keputusan atau pilihan.

Evan mengatakan...

Evan
XI-B / 19

Memang pada kenyataannya banyak orang yang menilai moralitas sesuai dengan perasaannya sendiri. Hal ini menurut saya sangatlah salah, karena suatu moralitas tidak dapat dinilai oleh perasaan satu orang saja melainkan kita harus menyertakan perasaan atau penilaian orang lain juga,karena pikiran dan hati nurani setiap orang berbeda-beda. Pikiran seseorang timbul dari keseharian dan pergaulan mereka. Jika ia bergaul dengan orang-orang tidak benar maka pikirannya pun akan kacau dan dengan pikiran tersebut mereka tidak dapat memikirkan sesuatu dengan melihat nilai-nilai yang terkandung dalamnya. Contohnya dalam hal pornografi, faktanya orang yg berpikiran yang sempit sangat berbeda dengan seseorang yang berpikir dengan pikiran luas(melihat nilai-nilai yang ada). Orang yang berpikiran sempit saat melihat foto seseorang yang berpose-pose dengan bikini, akan langsung mengatakan bahwa hal itu adalah suatu pornografi. Berbeda dengan orang dengan pikiran bersih, orang tersebut akan menganggap foto-foto itu memiliki nilai seni seperti tingkat kesulitan foto itu diambil, memilih tempat yang sesuai dan sebagainya.
Hati nurani membantu kita dalam menentukan hal yang kita lakukan itu baik atau buruk. Hati nurani selalu berbisik pada kita apakah hal yang ingin kita perbuat atua sudah kita perbuat itu baik atau buruk sehingga kita tidak mengambil keputusan yang salah. Tetapi dalam beberapa perbuatan, walaupun perbuatan itu menurut kita dan hati nurani kita benar belum tentu benar dimata orang lain sehingga orang tersebut menganggap kita tidak bermoral. Sebagai contoh, kita berbicara saat makan. Di sebagian orang ada yang menganggap hal itu biasa-biasa saja tetapi ada masyarakat lain yang menganggap hal itu buruk sehingga pada saat mereka makan ditempat yang sama, orang tersebut(yang menganggap buruk) langsung menilai orang b tidak bermoral.
Jadi dalam menilai moralitas kita tidak dapat menilainya hanya dengan perasaan kita saja tetapi harus disertakan perasaan/penilaian orang lain terhadap hal tersebut. Sehingga kita tidak seakan-akan main hakim sendiri, menilai suatu hal tidak bermoral. Jadi kita harus menyertakan cita rasa(perasaan) orang lain terhadap hal itu siapa tahu penilaian orang tersebut berbeda dengan penilaian kita.
(Maaf jika ada kata-kata tidak berkenan.)

Kivat mengatakan...

Dibuat Oleh : LEO NUGRAHA / XI-B / 29

Berdasarkan artikel dari Romo Christopher Gleeson, S.J, saya kurang setuju dengan pendapat yang menyatakan kalau moralitas hanya berdasarkan perasaan individu saja. Hal ini disebabkan moralitas menyangkut masalah hati nurani kita yang merupakan sangar suci Allah sekaligus inti manusia yang paling rahasia sehingga perasaan maupun logika manusia tidak dapat memengaruhinya. Di sana manusia seorang diri dan akan mendengar suara Allah bergema dalam hatinya.

Andaikata setiap manusia hanya beretika sesuai perasaannya saja, maka keputusan yang diambil hanya dipengaruhi lingkungan saja, hal ini merupakan hal yang wajar mengingat kecenderungan manusia yang ingin menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya padahal tindakan seseorang itu benar atau salah diputuskan melalui norma sebagai acuannya, karena norma sendiri mengandung nilai – nilai kebenaran yang bersifat universal. Contohnya: bila seorang anak berada di lingkungan pencuri yang membenarkan mencuri, maka perasaan si anak akan membenarkan mencuri karena lingkungan turut memengaruhinya, akibatnya kecenderungan anak untuk membenarkan mencuri pun muncul, sedangkan bila berpatokan dengan norma malah sebaliknya.

Selain itu, bila moralitas hanya menyangkut perasaan saja, maka keputusan yang diambil hanya dipengaruhi ego pribadi yang ingin mengambil keputusan impulsif demi menutupi kesalahan, setiap manusia punya kecenderungan psikologis untuk menutupi kesalahannya, namun bila tidak dibenarkan kalau kesalahan yang sampai merugikan itu sampai ditutupi atau dilempar ke orang lain. Contohnya: bila kita telah melakukan kesalahan, kontan kita ingin menutupi atau melemparnya ke orang lain. Bila menuruti ego (yang berdasarkan suka atau tidak), tentu kita berusaha berbohong, padahal norma tidak membenarkan berbohong.

Untuk itu pembinaan suara hati sebagai orang beriman didasarkan pada Gal 5: 16-25 yang mengingatkan bahwa membina semangat hidup sebagai orang kristiani agar suara hati terbina secara baik yaitu hidup dalam roh; artinya setiap kali menghadapi kesulitan dalam situasi konkret, kita perlu membuka diri dan hati agar Roh Allah yang membimbing kita di dalam mengambil keputusan suara hati (ayat 18). Sehingga hasilnya dapat dirasakan banyak orang dan menggembirakan (ayat 22 dan 23).
Adapun syarat yang diperlukan adalah :
1.Berani melihat situasi konkret secara obyektif bukan impulsif/subyektif. Artinya didasarkan norma bukan perasaan.
2.Jujur terhadap diri sendiri.
3.Terbuka terhadap sabda Allah baik melalui diri kita sendiri maupun melalui sesama atau ajaran Gereja dengan nilai kebenaran.

Note : Mohon maaf kalau ada kata – kata yang kurang berkenan di hati.

edoo mengatakan...

Saya ingin menanggapi tulisan dari Pater Christopher Gleeson, S.J.

Saya setuju dengan apa yang dikatakan dalam tulisan diatas melihat dalam kenyataannya di kehidupan kita sehari-hari. Tetapi, menurut saya, perasaan sreg juga tidak sepenuhnya salah. Karena perasaan ini juga muncul dari hati nurani kita sendiri. Pada dasarnya, moralitas setiap orang tidaklah sama. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu adanya pandangan moral yang berbeda karena adanya perbedaan suku, modernisasi yang membawa perubahan besar dalam struktur nilai dan kebutuhan masyarakat, dan juga berbagai ideologi yang berbeda yang mengajarkan ajaran yang berbeda bagaimana seorang manusia harus hidup.

Namun tak jarang juga, moralitas ini dipengaruhi oleh kebiasaan. Sebagai contoh adalah pada saat sebuah pelajaran dimana seorang guru mengharuskan semua siswanya memasukkan bajunya pada saat ia mengajar. Kemudian ada seorang siswa yang tidak ingin memasukkan bajunya. Dalam kasus tersebut, si siswa bisa saja merasa sreg dengan apa yang dilakukannya, karena dia memiliki alasan yang kuat, dimana dalam buku pedoman pelajar (misalkan) tidak tertulis harus memasukkan bajunya dan pada jam pelajaran lain tak ada satu guru pun yang menyuruhnya memasukkan bajunya sehingga ia pun merasa pantas untuk tidak memasukkan bajunya. Namun di sisi lain, si guru juga tidak bersalah karena dia mengajarkan etika yang benar. Lalu dalam kasus ini siapa yang betul? Tentu sulit bagi kita menentukan yang betul, karena masing-masing pihak sama kuat, tetapi jika kita bicara mengenai etika, tentu saja si gurulah yang pasti kita anggap benar.

Sebetulnya parameter dalam kita menentukan baik atau benarnya tindakan kita untuk “jaman sekarang” sangatlah sulit. Mungkin, kita sudah melakukan hal yang menurut kita sreg dan menurut orang lain betul, tetapi apa jadinya jika hanya kita yang bertindak sesuai etika. Dalam arti lain mengapa kita harus beretika ketika orang lain sama sekali tidak beretika? Hal inilah yang sebenarnya menjadi pokok masalah. Konsep seperti inilah yang sudah banyak dipegang oleh masyarakat kita selama ini. Jika tidak ada kesadaran diri dalam masing-masing pihak maka moralitas pun sulit untuk ditentukan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, perasaan sreg yang muncul dalam diri manusialah yang pada akhirnya dijadikan tolak ukur, baik atau buruknya suatu tindakan pada jaman sekarang. Tidaklah salah untuk menggunakan perasaan sebagai tolak ukur, tetapi harus dipegang juga sebuah prinsip bahawa perasaan kita tidak selalu benar dan sesuai dengan etika yang ada. Sehingga, dalam bertingkah laku yang benar dan sesuai , tidak hanya memerhatikan perasaan kita yang sreg saja tetapi juga perasaan orang lain dan juga aturan moralitas yang berlaku.
(maaf jika ada kata-kata yang salah dan kurang berkenan)

Eduardo Rotama XI-B/17

damnra mengatakan...

Wilibrordus Armand Amadeus XI B/39

Menurut saya, pendapat yang dikemukakan ini benar. Moralitas terserah pada mata orang yang memandangnya karena memang begitulah bagaimana cara pada awalnya moralitas atau etika terbentuk. Sebagian besar masyarakat di suatu lingkungan memiliki pandangan yang sama akan suatu hal, kemudian pandangan itu menjadi sebuah kebiasaan cara pandang masyarakat dalam menghadapi masalah tersebut. Lama-kelamaan karena sudah terbiasa, pandangan tersebut dianggap benar dan apabila ada orang lain yang berpandangan diluar hal itu dianggap salah. Jadi moralitas sebenarnya hanyalah merupakan apa yang dianggap mayoritas orang perilaku yang benar, baik, dan sesuai kebiasaan.

Setelah mengetahui proses terbentuknya moralitas, bila ingin berpikir secara logis dan rasional kita dapat berkesimpulan bahwa moralitas atau etika yang ada tidaklah selalu benar. Bisa saja moralitas atau etika yang ada sekarang ini salah apabila sejak awal masyarakat memang memiliki pandangan yang salah tentang suatu hal. Pandangan yang salah itu diteruskan turun-temurun, sehingga seakan-akan menjadi sesuatu yang benar dan dijadikan sebagai sebuah moralitas atau etika.

Karena itu, menurut saya sangat wajar dan lumrah bila pada jaman sekarang masyarakat menilai moralitas atau etika akan suatu hal terserah pada diri masing-masing orang yang memandangnya. Cara berpikir masyarakat pada jaman sekarang sudah lebih open minded, tidak terkungkung oleh paksaan dan aturan baku yang kadang justru menghambat perkembangan kehidupan manusia. Sekarang masyarakat tidak lagi takut untuk menentang pendapat orang yang lebih tua asalkan ada bukti konkret yang mendukung pendapatnya. Tidak selalu orang yang lebih tua benar.

Contoh etika yang tidak selalu benar misalnya: kalau memberikan sesuatu harus dengan tangan kanan, tangan kiri dianggap tidak sopan. Memang apa yang salah dengan tangan kiri? Tuhan menciptakan manusia dengan kedua tangan, kiri dan kanan. Mengapa yang kanan harus lebih tinggi derajatnya dibandingkan yang kiri? Apakah memberikan sesuatu menggunakan tangan kiri sebuah kejahatan? Bagaimana seandainya ada orang yang tangan kanannya mengalami kecelakaan sehingga perlu diamputasi, apakah dia dianggap tidak sopan terus sepanjang hidupnya? Ini hanya merupakan satu contoh dari banyak etika atau moralitas yang menurun saya tidak logis, hanya karena kebiasaan dari orang jaman dahulu saja sehingga terus dipertahankan.

Bahkan Tuhan Yesus sendiri pun mengajarkan untuk tidak perlu terpaku pada etika yang ada. Pada waktu hari Sabat, yang seharusnya waktu untuk beristirahat dan berdoa pada Allah sesuai kebiasaan yang ada, Yesus malah bekerja dan menolong orang yang sakit. Hal ini dilakukan karena Yesus merasa kebiasaan atau etika yang ada itu tidak selalu benar. Jauh lebih penting menolong orang sakit dibandingkan beristirahat demi mengikuti kebiasaan.

Melihat fakta tersebut, seharusnya dalam melakukan berbagai tindakan jangan hanya terpaku pada moralitas dan etika yang ada saja. Moralitas boleh dijadikan sebagai pertimbangan dan panutan tapi harus tetap diingat bahwa moralitas belum tentu selalu benar. Kita tetap harus menggunakan hati nurani kita, karena hati nurani itulah yang sebenarnya merupakan parameter terbaik dalam menentukan tindakan baik atau salah. Tindakan baik akan menimbulkan perasaan senang, bangga, dan puas dalam hati sementara tindakan salah akan menimbulkan rasa cemas, kecewa, dan merasa bersalah.

Maka, untuk menjawab pertanyaan awal dari pendapat Christopher Gleeson, S.J, sebaiknya dalam mengambil tindakan yang sulit kita harus berpedoman bahwa tindakan yang kita ambil tersebut harus benar, sesuai dengan hukum formal yang berlaku serta ajaran agama. Setelah itu, kita juga harus sreg dengan tindakan yang kita ambil, berpedoman pada hati nurani masing-masing jangan hanya terpaku pada moralitas yang sudah ada.

Clayton P.L.J. XIB / 15 mengatakan...

CLAYTON P.L.J. XIB / 15

Saya setuju dengan pernyataan ini. Namun, selain itu saya rasa perbuatan apa juga menjadi alat ukur apakah mereka akan mengambil keputusan akan tindakan itu melalui sreg atau tidaknya. Sebagai contoh, banyak murid-murid sekolah yang suka iseng seperti menyembunyikan kotak pensil temannya. Dalam hal ini, mereka mengambil keputusan dengan sreg atau tidaknya. Namun bila mereka kesal dengan temannya, mereka tidak mengambil keputusan untuk membunuh. Sebab mereka mengambil keputusan berdasarkan salah atau benar. Dan mereka merasa hal itu salah. Walaupun memang ada beberapa orang tetap mengambil keputusan dengan sreg atau tidaknya dalam hal ini.

Evan'S mengatakan...

Evan W. Tanotogono
(XI B / 20)


“We were born to unite with our fellow men,
and to join in community with the human race…”
- Cicero -


Secara keseluruhan saya menyanjung pendapat Pater Christopher Gleeson yang mampu melihat dunia dewasa ini dari kacamata mayoritas. Namun saya agak terganjal dengan judulnya “Jaman Sekarang?” yang cenderung memandang hanya dari sebelah mata saja. Padahal, jika kita amati secara lebih mendalam, ‘pribadi-pribadi cita rasa’ seperti yang diungkapkan tersebut telah ada dan membayang dalam diri manusia, seiring dengan perkembangan keberfungisannya. Contohnya adalah seperti yang diilustrasikan Yesus dalam kisah orang Samaria yang murah hati. Bahkan dapat kita simpulkan, tokoh-tokoh seperti Imam dan sang orang Lewi mungkin digambarkan Yesus seperti tokoh cita-rasa tersebut, yang hanya memperhatikan kepuasan diri sendiri dan kurang menaruh kepedulian pada orang lain.
Tapi memang tak bisa dimungkiri bahwa manusia jaman ini – bahkan mungkin bukan lain adalah kita sendiri – seringkali lupa atau memang sengaja melupakan nilai-nilai bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kita hidup berdampingan dengan orang lain, maka segala hidup kita baik secara disadari maupun tidak merupakan bagian dari lingkungan masyarakat dan dipengaruhi. Sebagai timbal baliknya, kita juga turut mempengaruhi lingkungan itu sendiri. Maka ingat, kita harus bertindak dan berpola pikir jangan dibasiskan pada ego diri kita sendiri saja, melainkan untuk keberfungsian dan rasionalitas kehidupan sosial, dan juga demi semakin bertambahnya kemuliaan Tuhan.
Di samping itu, kita juga tidak dapat melupakan bahwa selain kita menyadari diri kita sebagai elemen sosial, kita juga harus menyadari bahwa ada suatu pribadi yang adipersonal dalam diri kita, yaitu suara hati (conscientia) yang kerapkali kita kesampingkan. Betul atau tidaknya suatu tindakan dapat kita introspeksi baik sesudah maupun sebelum bertindak dengan cara menilik suara hati kita. Sehingga bukan hanya pribadi eksternal saja yang merasa disenangkan, tetapi juga dibenarkan oleh suara hati kita. Sempat saya tertarik dengan selarik kalimat pada iklan Dirgahayu Republik Indonesia yang saat ini sedang gencar-gencarnya tampil di televisi. “Kemerdekaan sejati hadir dari keberanian mengikuti kata hati” , begitu bunyi kalimat itu. Memang, kita adalah makhluk yang bebas dan merdeka, bahkan secara mutlak memiliki kebebasan itu sendiri. Namun, adakalanya kita berandai-andai bahwa arti bebas bukanlah berbuat semaunya, melainkan bebas berinteraksi dalam suasana yang penuh damai. Untuk itu, perlu kita mengikuti suara hati kita agar relasi kita dengan lingkungan kita menjadi mulus. Meskipun sebenarnya tidak dapat disalahkan juga bahwa setiap adat dan kebiasaan di setiap daerah adalah berbeda-beda, namun cara kita menghargai manusia dapat kita lakukan berdasarkan kodrat dasarnya seperti tidak membunuh, ramah, tidak mengambil hak orang lain, dll.

- Ad Maiorem Dei Gloriam -

Jan...Jan... mengatakan...

Janitra/XIB/26

Moralitas ada di setiap diri manusia,dan setiap orang memiliki pandangan sendiri terhadap moralitas tersebut. Menanggapi Pater Christopher Gleeson, S.J, saya cukup setuju bahwa moralitas saat ini dianggap hanya sebagai masalah cita rasa.Orang-orang masa kini kebanyakan menanggapi baik dan buruk tidak melalui suara hatinya yang memang mengatakan bahwa itu benar,melainkan melalui perasaan yang mengatakan “apakah ini “BAIK” bagi saya?”Dalam hal ini,manusia tidak memanfaatkan suara Allah yang berada dalam suara hatinya, melainkan memakai pandangan subjektif yang melihat dari untung ruginya tindakan tersebut bagi mereka,mereka tidak menggunakan suara hati sebagai tolok ukur mereka,melainkan perasaan yang didasari keinginan untuk mendapatkan keuntungan atas suatu tindakan.

Azla mengatakan...

Soni Hartono XID/35

Bagi saya, "Moralitas (etika) bagi sebagian orang hanyalah masalah cita rasa" adalah sesuatu yang sangat relatif. Baik-buruknya relatif, caranya relatif, hasilnya relatif pula. Semuanya tergantung pada orangnya sendiri. Nah, sekarang orangnya benar atau tidak?
Pandangan (cita rasa) seseorang tentang moralitas dan etika sangat tergantung pada banyak faktor. Salah satunya adalah budaya. Misalnya, seseorang dari suku kanibal tidak akan merasa bersalah jika ia membunuh dan memakan sesama manusia, sedangkan orang modern pasti akan merasa berbeda. Lalu, etika juga dipengaruhi oleh kelas sosial dari individu-individu tersendiri. Karena itulah orang-orang kaya dan pejabat-pejabat cenderung berperilaku lebih sopan daripada orang-orang di pinggir jalan. Faktor lain lagi yang mempengaruhi adalah hati nurani. Pada dasarnya hati nurani setiap orang adalah sama, tetapi seberapa jauh orang tersebut menggunakannyalah yang membedakannya. Ada orang yang hati nuraninya benar-benar berjalan karena sering digunakan, ada juga yang sudah "mati" karena tidak pernah dipakai. Tentu saja tidak hanya hal-hal ini yang mempengaruhi pandangan seseorang.
Karena hal-hal di ataslah kita tidak dapat menyatakan hal ini sebagai baik atau buruk. Jadi, jika anda ditanyakan mengenai pendapat anda, jawab saja, "Ya tergantung orangnya dong".

Patrick mengatakan...

Saya ingin menanggapi pendapat Pater Christopher Gleeson, S.J. Setiap dari kita memiliki kepribadian yang berbeda, memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Dalam menentukan tujuan hidup kita juga mempunyai tujuan kita sendiri. Begitu pula dengan moral yang wajib kita punyai masing-masing. Memang tidak seharusnya setiap orang bersikap sama dalam bermoral. Setiap orang memiliki pandangan dan pengertian yang berbeda-beda. Ada yang cuek, ada yang menaati moral yang sudah tertanam sejak kecil, ada yang hanya ikut-ikutan saja. Semua itu tergantung dari faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan hidup kita. Faktor-faktor yang dimaksud adalah lingkungan keluarga, lingkungan ini merupakan lingkungan pertama di saat kita menghirup nafas pertama kali. Keluarga yang baik akan mendidik anaknya dengan moral yang baik pula, sehingga dari kecil sudah terbiasa dan hingga dewasa nanti kebiasaan yang dari kecil tersebut akn selalu digunakan. Sebaliknya jika dari kecil sudah berada dalam lingkungan keluarga yang tidak sehat dan tidak mendapat pendidikan moral yang semestinya, maka kemungkinan besar saat dewasa nanti moral anak tersebut akan rusak. Kemudian faktor lingkungan pergaulan, bergaul bukanlah dimaksud dengan narkoba, bergaul bukanlah tawuran, bergaul bukanlah memberontak dan merusak. Tetapi bergaul adalah membaur dengan masyarakat agar setiap dari kita saling melengkapi tiap elemen-elemen masyarakat tersebut. Banyak orang yang terjerumus ke dalam pergaulan bebas sehingga moral dan akhlaknya sudah rusak dan akhirnya dikucilkan dari lingkungan masyarakat. Pergaulan merupakan hal yang penting dalam kehidupan kita, karena kita, manusia adalah makhluk sosial, kita tidak bisa hidup tanpa orang lain. Tetapi bergaul harus dilakukan dengan cara yang benar, agar moral kita dapat dikembangkan dengan lebih positif. Lalu pendidikan agama, agama merupakan hal yang tak terpisahkan dari kehidupan kita, agama merupakan pedoman kehidupan kita. Dengan beragama kita dapat mengetahui tujuan hidup kita dan dibimbing agar tidak melenceng. Jika dari kecil kita sudah dibiasakan taat beragama dan kebiasaan itu bertahan hingga kita dewasa, sudah seharusnya hati nurani kita juga berkembang dengan baik. Pendidikan agama yang baik akan mengajarkan bagaimana kita menggunakan dan mengembangkan hati nurani untuk hal yang positif. Sehingga dalam menentukan berbagai pilihan yang kita temui dalam hidup kita, kita dapat memilihnya dengan tepat, karena hati nurani kita sudah terlatih untuk hal-hal yang positif. Tetapi jika hari nurani kita sudah terbiasa untuk berhadapan dengan hal yang negatif, maka pilihan yang kita lakukan adalah pilihan negatif pula. Jadi, pada akhirnya setiap orang bebas berpendapat dan berperilaku terhadap moral itu sendiri, asal faktor-faktor yang sudah dijelaskan tadi dikembangkan dengan baik di dalam setiap diri kita, tetapi dengan tidak meninggalkan perubahan zaman, karena untuk mengikuti perubahan zaman dengan moral yang baik adalah suatu hal yang cukup sulit. Tetapi jika dapat melakukannya, maka itu menjadi yang terbaik.

Patrick L. Tobing
XI-B/32

Evan'S mengatakan...

Evan W. Tanotogono
(XI B / 20)


“We were born to unite with our fellow men,
and to join in community with the human race…”
- Cicero -


Secara keseluruhan saya menyanjung pendapat Pater Christopher Gleeson yang mampu melihat dunia dewasa ini dari kacamata mayoritas. Namun saya agak terganjal dengan judulnya “Jaman Sekarang?” yang cenderung memandang hanya dari sebelah mata saja. Padahal, jika kita amati secara lebih mendalam, ‘pribadi-pribadi cita rasa’ seperti yang diungkapkan tersebut telah ada dan membayang dalam diri manusia, seiring dengan perkembangan keberfungisannya. Contohnya adalah seperti yang diilustrasikan Yesus dalam kisah orang Samaria yang murah hati. Bahkan dapat kita simpulkan, tokoh-tokoh seperti Imam dan sang orang Lewi mungkin digambarkan Yesus seperti tokoh cita-rasa tersebut, yang hanya memperhatikan kepuasan diri sendiri dan kurang menaruh kepedulian pada orang lain.
Tapi memang tak bisa dimungkiri bahwa manusia jaman ini – bahkan mungkin bukan lain adalah kita sendiri – seringkali lupa atau memang sengaja melupakan nilai-nilai bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kita hidup berdampingan dengan orang lain, maka segala hidup kita baik secara disadari maupun tidak merupakan bagian dari lingkungan masyarakat dan dipengaruhi. Sebagai timbal baliknya, kita juga turut mempengaruhi lingkungan itu sendiri. Maka ingat, kita harus bertindak dan berpola pikir jangan dibasiskan pada ego diri kita sendiri saja, melainkan untuk keberfungsian dan rasionalitas kehidupan sosial, dan juga demi semakin bertambahnya kemuliaan Tuhan.
Di samping itu, kita juga tidak dapat melupakan bahwa selain kita menyadari diri kita sebagai elemen sosial, kita juga harus menyadari bahwa ada suatu pribadi yang adipersonal dalam diri kita, yaitu suara hati (conscientia) yang kerapkali kita kesampingkan. Betul atau tidaknya suatu tindakan dapat kita introspeksi baik sesudah maupun sebelum bertindak dengan cara menilik suara hati kita. Sehingga bukan hanya pribadi eksternal saja yang merasa disenangkan, tetapi juga dibenarkan oleh suara hati kita. Sempat saya tertarik dengan selarik kalimat pada iklan Dirgahayu Republik Indonesia yang saat ini sedang gencar-gencarnya tampil di televisi. “Kemerdekaan sejati hadir dari keberanian mengikuti kata hati” , begitu bunyi kalimat itu. Memang, kita adalah makhluk yang bebas dan merdeka, bahkan secara mutlak memiliki kebebasan itu sendiri. Namun, adakalanya kita berandai-andai bahwa arti bebas bukanlah berbuat semaunya, melainkan bebas berinteraksi dalam suasana yang penuh damai. Untuk itu, perlu kita mengikuti suara hati kita agar relasi kita dengan lingkungan kita menjadi mulus. Meskipun sebenarnya tidak dapat disalahkan juga bahwa setiap adat dan kebiasaan di setiap daerah adalah berbeda-beda, namun cara kita menghargai manusia dapat kita lakukan berdasarkan kodrat dasarnya seperti tidak membunuh, ramah, tidak mengambil hak orang lain, dll.

- Ad Maiorem Dei Gloriam -

Are_Ya mengatakan...

Arya Cipta/XI-B/12

Saya ingin menanggapi pernyataan dari Pater Christopher Gleeson, S.J.

Pertama-tama, saya mendukung pernyataan bahwa “mengukur moralitas bukan dengan tolak ukur yang berlainan dari dirinya sendiri, tetapi hanya dengan perasaannya sendiri mengenai dirinya sendiri”. Menurut saya, dalam pernyataan ini berarti dalam hati tiap orang, Tuhan telah membisikkan suatu suara dan menuntut kita untuk melaksanakannya, yang biasa kita kenal dengan sebutan suara hati. Dalam persoalan moral yang sulit, kita pun sering kali lebih berpikir mengenai sreg atau tidaknya kita, bukan betul atau salahnya tindakan tersebut, sebagain contoh, apabila kita sedang melaksanakan tugas yang diberikan oleh orang tua kita, dan ketika sedang mengerjakan tugas tersebut, ada peristiwa lain yang terjadi, misalkan terbakarnya rumah tetangga kita, bila kita berpikir tentang betul atau salahnya sebuah tindakan maka kita harus tetap melaksanakan tugas yang diberikan oleh orang tua kita, karena itu adalah sebuah kewajiban, namun di sini, suara hati kita bekerja dan membuat kita lebih berpikir tentang sreg atau tidaknya kita mengenai tindakan tersebut, yang membuat kita membantu tetangga kita yang sedang mengalami musibah itu. Hal ini merupakan sebuah hal yang amat positif, sebab ini berarti Tuhan masih menyertai kita lewat suara hati yang membuat kita melakukan perbuatan yang dikehendaki oleh-Nya, asalkan suara hati itu sendiri belum tercemar oleh pengaruh-pengaruh lain yang dapat membuatnya (suara hati) menjadi keliru.

-AMDG-

Putera mengatakan...

Putera Utama XIB 33

Saat moralitas adalah suatu hal yan sreg atau tidak sreg adalah sebuah kondisi dimana ada nilai negatif dan positif yang bisa diambil. Nilai negatif adalah bahwa seseorang akan melakukan dan menjalani kesehariannya dengan seenaknya dan tak terpikir apakah yang ia lakukan sesuai dengan moralitas atau tidak, sebab baginya moralitas adalah apa yang ingin dan tak ingin dia lakukan. Pandangan umum tak dianngap lagi. Namun, hal negatif itu bisa dan sudah seharusnya diatasi dengan nilai positif yang kemudian muncul yaitu bahwa bila moralitas berasal dari sreg atau tidak sregnya seseorang, moralitas itu kemudian akan lebih mudah ditanamkan pada generasi muda yang masih mempertanyakan arti sebenarnya arti moralitas, sehinnga moralitas yang tertanam kuat dan sudah sejalan dengan cara pikir akan membuat seseorang lebih mudah bertindak sesuai kata hatinya di kemudian hari.

Stephan Celebesario Sonny mengatakan...

Stephan Celebesario Sonny XI-B 33

Menurut saya, moralitas bisa saja diukur hanya dengan cita rasa. Hal ini terjadi karena perlakuan yang berbeda-beda terhadap suatu hal di suatu wilayah atau bagian tertentu. Misalnya, memakai baju yang minim di Amerika merupakan suatu hal biasa, sedangkan bila di Indonesia bisa mengundang kecaman berbagai pihak. Namun ada kalanya moralitas juga harus diukur dengan suara hati tiap manusia. Oleh karena itu, tolok ukur moralitas harus seimbang antara dengan menggunakan perasaan dan suara hati agar tidak terjadi sebuah ketidakseimbangan di dalam kehidupan kita yang juga saling berinteraksi dengan sesama.

kaka--aka--kevin k mengatakan...

Kevin Kurnia / XI B / 28

Orang-orang memang biasanya melakukan hal tersebut, yaitu menilai hanya dengan perasaan semata tidak menggunakan pemikiran lebih jauh. Pemikiran berdasarkan logika, sedangkan perasaan berdasarka hati nurani. Hati nurani adalah suara Tuhan sendiri . Hal itu terjadi apabila suara hati atau hati nurani tidak sesat, sehingga kita dapat mendengarkan suara Tuhan yang akan menilai tindakan yang dilakukan. Kadang kala suara hati dapat sesat apabila orang tersebut tidak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, juga ketika hal itu sudah menjadi kebiasaan.

Misalnya ketika seseorang berbohong. Di satu sisi tindakan itu dapat kita bilang 'boleh' apabila manfaat yang diperoleh baik, tapi di sisi lain jika kita berbohong untuk kepentingan lain, tindakan itu dianggap tidak boleh.
Kadang kalau sudah menjadi kebiasaan, berbohong pun serasa berbicara biasa saja.

Jadi etika bagi sebagian orang hanyalah masalah cita rasa adalah benar adanya dan sering kali dijadikan sebagai pedoman.

LIBERMAN AJE mengatakan...

Adrian Liberman / XI B / 2

menurut pendapat saya moralitas selain merupakan suatu perasaan pada manusia, moral juga merupakan suatu keharusan yang harus diterapkan pada kehidupan kita, di mana pun kita berada, kapan pun, selalu ada moralitas yang diterapkan. tetapi memang harus diakui, moralitas secara umum mungkin sama, tapi beberapa di antara nya hanya berlaku di kawasan tertentu, yang disebut sebagai adat. tetapi apapun itu, moralitas tetap harus diterapkan, bukan berdasarkan apa kita merasa sreg dengan itu melainkan apakah yang kita lakukan itu sesuai dengan etika dan baik bagi orang lain.
terlepas dari betul atau tidak, beberapa moralitas yang berlaku di masyarakat mungkin tidak baik bagi suatu orang tertentu, oleh karena itu, menurut saya, perasaan dan suara hati kita sendiri harus bekerja pada apapun yang kita lakukan, agar sesuai dengan etika, tanpa mengharapkan balasan apapun.

aRU mengatakan...

Menurut saya pendapat Pater Christopher Gleeson, S.J. adalah sesuatu yang sesungguhnya sering terjadi di sekitar kita. Umumnya kita tidak berpikir dengan matang terlebih dahulu sebelum mengerjakan sesuatu. Kita lebih menggunakan perasaan, bukan pikiran kita dalam mengerjakan sesuatu. Meskipun begitu, menggunakan persaan dalam keadaan kedaan tertentu sangatlah diperlukan.

Sebagai contoh, apabila kita menemukan seorang korban kecelakaan yang harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan padahal kita tidak mengenalnya, maka akankah kita menolongnya? Bila dalam keadaan ini kita berpikir logis tentu kita tidak akan menolongnya karena menolong korban tersebut tidak memberikan keuntungan apapun untuk kita, bahkan kita harus mengorbankan waktu serta biaya untuk membawanya ke rumah sakit. Tapi secara nurani, sebagai sesama umat manusia sudah sepatutnya kita saling menolong bila dalam kesulitan.
Jadi kesimpulan menurut saya untuk menjawab ‘betulkah ini?’ atau ‘apakah saya merasa sreg dengan tindakan ini’ adalah suatu hal yang relatif. Dalam beberapa kejadian tertentu kita harus mengambil keputusan sesuai norma hukum yang ada, tapi tidak terlepas pula kita harus bisa menjadi orang yang fleksibel di masyarakat, di mana perasaan/hati nurani dibutuhkan.

aruna harsa
XI-B/10

dimaz mengatakan...

Dimas Prawita XI F / 13

saat ini, orang-orang termasuk diri kita sendiri kurang memahami apa itu arti moralitas. akibatnya, tindakan yang kita ambil bukanlah berdasarkan moral, akan tetapi berdasarkan perasaan kita.

hati nurani kita akan berkata tidak untuk hal yang tidak baik. sebaliknya, hati nurani kita akan mendukung hal yang baik. dalam kondisi sulit, dan kita harus mengambil keputusan, di sinilah suara hati kita bekerja. di saat seperti ini, kita biasanya menggunakan perasaan kita. mana yang menurut kita enak, itulah yang kita pilih. pilihan itu belum tentu benar. ini yang membuat orang satu sama lain bermasalah.

sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa hanya memikirkan diri kita sendiri. egoisme harus dihilangkan. sudah saatnya membuka diri bagi sesama. meskipun orang yang kita kenal itu berbuat baik atau tidak, tentu kita bisa menyaringnya. menilai tindakan seseorang bukan melalui pribadi saja, karena kalau begtu, akan merugikan orang lain. artinya, bnyak pengaruh yang mempengaruhi tindakan dan penilaian kita terhadap sesuatu. maka dari itu moralitas tidak bisa dipandang sebelah mata. tetapi ini menjadi hal yang penting

wira_canisius mengatakan...

Sangatlah salah apabila kita selalu mempertimbangkan berdasarkan perasaan kita saja, melainkan kita harus menilai suatu masalah berdasarkan moralitas (etika) bukan berdasarkan perasaan kita saja. Sebab, apa yang kita rasakan benar belum tentu benar di mata masyarakat. Maka kita harus mengikuti moralitas (etika) yang berlaku di masyarakat, sehingga kita akan dihormati oleh orang karena kita melaksanakan etika yang sesuai dengan kodratnya.

Yohanes Wirawan Putranto
XIC/40

Echo mengatakan...

Ferdian XI B/21
Menurut saya moralitas itu memang terkadang sesuai cara pandang masing-masing orang. Masalahnya adalah hukum yang ada dan moral itu sendiri dibuat oleh manusia. Sebagai contohnya bila anak kecil hidup di kalangan pencontek maka ia akan menganggap menyontek adalah hal biasa, walaupun mungkin pada awalny dia merasa sedikit bersalah karena hati nuraninya. Namun seiring dengan berlalunya waktu, hati nuraninya tidak lagi bekerja dengan baik dan akhirnya hal itu menjadi kebiasaan. Hal ini berarti anak itu memandang moral dari sudut pandang dirinya sendiri. Namun kalau sudah besar dan ada yang memperingatkannya bahwa hal itu adalah hal yang tidak baik, maka ada kemungkinan dia akan mengubah pandangannya mengenai moral yang berlaku, jadi tidak pasti berubah. Intinya adalah moralitas ini tergantung pada bagaimana orang itu dididik dan dibesarkan. Jadi pertanyaannya adalah 'betulkah ini?' namun jawabannya tidak selalu sama dengan orang lain.
"Jaman Sekarang?" Judul itu menurut saya kurang tepat karena hal ini sudah terjadi sejak berabad-abad yang lalu, hanya saja mungkin karena kita tidak hidup di jaman itu maka kita hanya merasakan jaman ini saja. Bukti bahwa hal ini pernah terjadi pada jaman dulu, misalnya pada abad kegelapan bagi para ilmuwan, di mana pada saat itu gereja berkuasa. Siapapun yang melawan teori yang dipercaya oleh gereja dianggap membangkang dan akan dihukum mati. Itu berarti hak manusia mengemukakan pendapatnya dikekang dan pada jaman dulu hukuman mati adalah hal biasa untuk para pembangkang dan kriminal. Moral pada jaman dulu memperbolehkan hal itu terjadi. Jaman sekarang? tentu tidak. Hal ini berarti moral pun ikut berkembang seiring berjalannya waktu, namun tetap harus diingat bahwa moral itu sendiri tetap dibuat oleh manusia.

willy sandi mengatakan...

willy XIB-40

menurut saya orang memandang moralitas sebagai kepentingannya atau hak yang patut ia dapatkan, dan moralitas ini berhubungan dengan tindakan kita.

Misalnya seorang anak yang moralitasnya tinggi , ia tidak mau dijatuhkan atau dicemoohkan , maka ia berbuat hal hal yang tidak benar , misalnya merokok atau menjadi anggota geng , memang dengan begitu ia tidak akan dilecehkan ! tetapi pada akhirnya hal yang buruk ia anggap menjadi hal yang baik !

menurut saya hal hal seperti itu tidak bisa kita biarkan mumpung anak anak kita masih kecil , semenjak kecil anak-anak harus diberikan suluhan atau bimbingan supaya berbuat hal hal yang baik semenjak kecil , dengan begitu dia akan mengerti hal-hal yang baik dan hal-hal yang buruk.

tetapi moralitas juga kita perlukan sebagai cita rasa kita yang disebut dengan Hak Azazi Manusia , jadi kita mempunyai berbagai hak misalnya yaitu hak untuk berbicara , hak tersebut kita gunakan untuk bicara yang baik dan enak untuk kita sendiri

jadi kesimpulannya kita harus bersyukur karena diberikan berbagai kemampuan oleh Tuhan yang menjadi hak kita , dan hendakna digunakan dengan baik bukan asal sreg atau tidak sreg

Aditya mengatakan...

Memang, manusia kebanyakan menilai baik dan buruk hanya dengan perasaannya. Hal ini bisa disebabkan oleh karena pengaruh masyarakat di sekitar mereka, orang-orang yang dekat dengan mereka, kebiasaan-kebiasaan mereka.

Selain daripada hal tersebut, mayoritas orang juga sering mengandalkan perasaan dalam suatu penilaian. Mereka menilai baik buruknya tindakan seseorang dari siapa orang tersebut bukan dari apa yang dilakukan mereka.

f r a n k y mengatakan...

saya kurang setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa moralitas dapat diukur melalui perasaannya sendiri. baik atau buruknya sesuatu/tindakan kita tidak dapat diukur melalui perasaan atau hati nurani kita.

memang benar bahwa hati nurani kita merupakan tempat Tuhan menyuarakan apa yang baik dan buruk bagi kita..tapi terkadang hati nurani kita juga sudah tercemar oleh dosa kita sendiri.. dan perlu dilihat juga bahwa di dalam alkitab juga dikatakan "Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang njis dan orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis" (Titus 1:15)
maka dari itu suara hati pun tidak bisa dijadikan standar yang pasti. satu-satunya standar yang dapat dijadikan acuan adalah alkitab , tidak ada yang lain.

demikian pendapat saya...terima kasih


_Franky XIc/19_

endii mengatakan...

Banyak sekali orang yang mengambil keputusan berdasarkan sreg atau tidak untuknya. Orang-orang seperti itu lah yang menurut saya adalah orang berpikiran sempit (narrow-minded). Hanya memikirkan untuk kepentingan dirinya semata. Seseorang dalam mengambil keputusan semestinya dengan melihat dampak dari keputusan yang akan diputuskannya. Apakah menguntungkan untuk orang lain atau justru malah merugikan orang banyak?

Endii K
XIA-07

Ry0_W4t4n4b3 mengatakan...

menurut saya, cita rasa seseorang untuk menentukan baik tidaknya atas apa yang ia lakukan tergantung pada suara hati orang tersebut. Jika ia selalu merasakan dan mendengar suara hatinya, ia selalu merasa apa yang ia lakukan benar. Suara hati bisa saja salah karena bisikan iblis. Oleh karena itu, kita harus rajin-rajin berdoa agar kuasa Tuhan menjauhkan kita dari godaan-godaan iblis yang menyesatkan dan memperburuk moralitas atas apa yang kita lakukan.

Marvin
XIC/26