12 Agustus, 2008

HAK DAN TANGGUNG JAWAB

"Apabila kita bersembunyi di belakang hak-hak kita, kita kerap kali 'melupakan' tanggung jawab kita. ....Individualisme yang menekankan hak-hak pribadi melebihi tanggung jawab pribadi terhadap kolega atau sesama - jangankan masyarakat yang lebih luas - seperti itu, akan merusak dirinya sendiri sekaligus juga kepentingan umum. Individualisme mendefinisikan apa yang baik sebagai apa yang 'menguntungkan'....

(Christopher Gleeson, SJ, Menciptakan Keseimbangan, Mengajarkan Nilai dan Kebebasan, Jakarta, Gramedia, 1997, hlm. 7.)

86 komentar:

Tangleons mengatakan...

Menurut saya, individualisme seharusnya lebih ditekankan pada prinsip "Stay alone but independent"

Maksud saya adalah, selama dia telah memenuhi tanggung jawab dan kewajibannya pribadi, berhaklah dia menerima apa yang seharusnya dia peroleh. Tapi disini individualisme menurut saya disalahartikan sebagai sikap "lu, lu, gue gue."
Sebagai manusia yang memiliki karakter-karakter yang berbeda, yang harus kita lakukan adalah membuat prioritas berdasarkan moral. Buatlah apa yang anda lakukan sendiri, seburuk-buruknya tidak mempengaruhi orang lain. Kebebasan harus bertanggungjawab.

candidate cxx- persevere mengatakan...

Menurut saya individualisme adalah sifat yang tidak bisa ditolerir.
Harus ada pembedaan antara mandiri dan kurangnya kepedulian...
ingat keinginan untuk hal-hal hanya untuk dimiliki sendiri adalah salah satu dari 7 dosa yang mematikan dalam manusia.

Maksudnya jaman sekarang individualisme orang kota adalah "lu,lu,gue,gue" senang-senang sendiri, mati mati saja sendiri.hal ini yang disebut kurangnya kepedulian antara manusia.

Penuntutan hak tanpa melaksanakan kewajiban adalah hal yang kekanak-kanakan , dunia ini keras kita tidak mungkin selamat hanya dengan bergantung orang lain karena itu
perlu adanya pembedaan yang signifikan antara independent yang real dan egois yang absolut.

Karena itu sebagai manusia kepedulian itu penting, sebagai zoon politicon, bahkan masyarakat pedalaman pun bergotong royong satu sama lain, jadi mengapa kita manusia perkotaan hanya mementingkan keegoisan absolut sehingga tidak memikirkan orang lain,

satu pesan terakhir
"sekali-kali lihatlah ke bawah karena kepala kita akan terasa penat bila kita terus memandang ke atas terus..."

Febrian mengatakan...

Saya setuju dengan pendapat Pastor Christopher Gleeson, SJ yang menyatakan bahwa individualisme menekankan hak-hak pribadi melebihi tanggung jawab. Hal tersebut merupakan sifat dasar manusia. Bila bergabung dengan komunitas, individualisme harus ditekan, dan oleh karena itu manusia belajar untuk rela berkorban. Manusia harus mengurangi penekanan pada "apa yang saya peroleh" dan menambah "apa yang saya beri" dan mulai berbagi.
Namun, saya kurang setuju dengan pendapat Pastor Christopher Gleeson, SJ yang menyatakan bahwa 'apa yang baik adalah apa yang menguntungkan' bukan hal yang benar karena di komunitas pun, apa yang menguntungkan (bagi semua orang yang terkait) adalah hal yang baik; oleh karena itulah orang-orang bernegosiasi dalam merancang sebuah kebijakan atau kesepakatan.
Febrian Sidharta XI C/18

icewing mengatakan...

Menurut saya kepentintan bersama harus lebih didahulukan daripada individualisme.

Sebagai makhluk sosial,manusia harus bersosialisasi dengan sesama.Sosialisasi itu dapat berjalan dengan baik,kalau kita menghargai kepentingan sesama dibandingkan kepentingan individu.Hal ini sesuai dengan C ke 3 dari 3C yaitu COMPASSION.Compassion merupakan hal yang penting dalam menjalin kehidupan kita bersama dengan orang lain.Jikalau kita individualistis terlalu berlebihan,maka kita akan dijauhi dari sesama kita.

Bukan berarti individualistis harus disingkirkan.Individualistis merupakan sesuatu yang sangat perlu bagi tiap individu.Semua orang pasti ingin untung,dan mengganggap yang baik itu adalah yang menguntungkan.Tetapi kita juga harus memperhatikan kondisi orang lain pula.Jikalau hal itu menguntungkan bagi kita,tetapi merugikan bagi orang lain.Hal itu tidak selayaknya kita lakukan,karena hal itu dapat merusak kepentingan orang lain.Jadi sebagai manusia,kita harus mengutamakan kepentingan bersama,dan kebebasan individu kita harus dilakukan secara tanggung jawab dan tidak merugikan orang lain di sekitar kita

wira_canisius mengatakan...

Saya sangat setuju dengan pendapat romo Christopher yang mengatakan bahwa individualisme dapat merusak diri sendiri dan masyarakat sebab ketika seseorang hanya memikirkan diri sendiri, dia tidak peduli dengan lingkungannya sehingga dia tidak mau tahu mengenai apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Sebagai contoh, sekelompok tentara pergi berperang, ada satu tentara dalam kelompok tersebut terlalu individualis, akibatnya sekelompok tentara tersebut terbunuh semuanya. Ini menunjukan bahwa individualis dapat merusak diri sendiri sekaligus masyarakat. Banyak juga orang berpikir bahwa untuk menjadi orang sukses, harus bersikap individualistis. Itu merupakan pemikiran yang salah, sebab untuk menjadi sukses, yang perlu kita tekankan adalah profesionalisme. Ketika seseorang hanya memiliki sedikit ilmu, dia akan berpikir untuk menyimpan ilmunya untuk diri sendiri, namun orang yang memiliki banyak ilmu akan mebagi-bagikannya.
Untuk kalimat terakhir dalam kutipan di atas(Individualisme mendefinisikan apa yang baik sebagai apa yang 'menguntungkan'), saya sangat setuju sebab ketika orang memiliki sifat yang individualis, dia akan melihat hal yang menguntungkan sebagai hal yang baik, sebab dia tidak memikirkan lingkungan sekitarnya, sehingga yang dipikirkan adalah yang penting ada untung, mau merusak lingkungan juga tidak peduli. Banyak terjadi ketika orang menjadi sukses, dia akan lupa masa lalunya dan terus menerus mencari uang. Akibatnya, banyak pengusaha yang memiliki uang banyak, namun tidak memiliki hati nurani sehingga tidak segan-segan untuk merusak lingkungan sekitar. Itulah yang tidak diinginkan SMA CC dari alumnusnya, sebab di CC, kita selalu diajarkan 3C, dimana C ke-2 (Conscience) dan C ke-3 (Compassion) berperan penting dalam hal ini. Ketika orang tidak memiliki kedua C ini, maka orang akan menjadi sangat individualistis. Yang diinginkan SMA CC adalah menjadi pemimpin yang beriman dalam arti kita harus mempertimbangkan baik dan buruknya terhadap sesama dan juga diri kita sehingga kita tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.
Singkat kata, kita sebagai manusia merupakan makhluk sosial yang artinya kita dan orang lain saling membutuhkan untuk bertahan hidup. Apabila kita bersikap terlalu individualistis, maka tidak banyak orang yang akan bergaul dengan kita, sebaliknya semakin hari kita akan menambah musuh. Dan juga kepentingan bersama harus didahulukan ketimbang kepentingan pribadi, namun ada batas-batasnya. Yang terpenting adalah kita harus menyikapi hidup kita sebaik-baiknya dalam berbagai macam situasi dan kondisi sehingga kita dapat menjadi orang sukses tanpa mencelakakan orang lain.
Yohanes Wirawan Putranto XIC/40

Ry0_W4t4n4b3 mengatakan...

Menurut saya kepentingan bersama dan tanggung jawab pribadi harus didahulukan.

Karena menurut saya kita tidak bisa hidup tanpa orang lain. Sedangkan orang lain sendiri juga manusia yang butuh perhatian dari sekitarnya dan juga hak-hak yang bersumber dari tanggung jawab kita. Contohnya adalah ada pekerja-pekerja yang bekerja malas-malasan, tidak becus, dsb. Tapi jika mereka merasa gaji mereka kurang, maka mereka protes dan minta naik gaji. Tentu saja bos mereka tidak mau melakukannya karena melihat sikap kerja mereka yang tidak serius. Akhirnya para pekerja tersebut berunjuk rasa.

Contoh di atas mencerminkan orang-orang yang mengutamakan hak-hak pribadinya daripada hak-hak orang lain dan kewajiban mereka sendiri. Andai para pekerja terebut bekerja dengan serius dan sungguh-sungguh, maka mungkin bos mereka akan mempertimbangkan kenaikan gaji mereka.

Kesimpulan saya adalah kewajiban, perhatian kepada orang lain dan tanggung jawab akan jauh lebih menguntungkan daripada individualisme yang egois dan hanya memikirkan hak-hak pribadi. Meskipun kadang-kadang kita berpikir "untuk apa saya membantunya? apa untungnya buat saya?" tetapi, dengan uluran tangan baik yang kecil maupun yang tidak kecil kepada orang lain, maka kita akan perlahan-lahan menghancurkan individualisme yang bersarang dalam hati kita. Dengan itu, hubungan kita dengan lingkungan sekitar kita menjadi lebih baik.

Marvin XIC/26

Dhani mengatakan...

Sejujurnya, saya merasa bahwa Pastor Christopher Gleeson, SJ adalah seseorang yang sangat mementingkan kewajiban dan menentang individualisme. Hal ini baik adanya tetapi ada satu aspek yang menurut saya terlupakan dalam pernyataan singkat tersebut yaitu keseimbangan itu sendiri.
Sebagai manusia, kita tidak dapat hidup hanya mengandalkan etika. Ada sesuatu yang terkadang harus dipikirkan secara logika. Misalkan saja seseorang sedang berkendara di jalan tol dengan peraturan kecepatan tiap mobil tidak boleh kurang dari 60 km/jam. Tiba-tiba saja, mobil di depannya mengerem. Secara refleks di posisinya tentu kita akan mengerem dan secara kita berpikir logika di sini, sudah seharusnya kita mengerem. Secara etika, kita melanggar tanggung jawab kita untuk mematuhi peraturan dengan tameng hak kita sendiri untuk hidup.
Dalam kasus ini, tentulah sebagian besar atau semua orang akan memilih berdasarkan logika karena walaupun bersifat mementingkan diri sendiri, dalam kasus ini hak kita lebih penting dibandingkan dengan kewajiban kita menaati peraturan di jalan tol.Karena itu, saya menyimpulkan bahwa individualisme dalam situasi tertentu tidak bersifat destruktif. Selain itu, untuk melakukan hal yang terbaik dan paling menguntungkan bagi semua pihak, kita harus dapat menentukan batas-batas dimana kita harus menggunakan etika dan batas dimana kita harus menggunakan logika.
(Dhani.P XIC 13)

rerez mengatakan...

Reinaldo Arifin/ XI-B / 35

Menurut saya individualisme seperti yang tertulis di hak dan tanggung jawab tidak benar. memang kita ada individu individu yang juga memikirkan diri sendiri namun kita juga harus memikirkan orang lain sesama kita. Toh, Tuhan saja rela mati buat kita masa kita cuma untuk memberi sedekah atau membantu mengangkat barang orang lain saja tidak rela? Tentu saja tanggung jawab yang kita miliki harus kita junjung tinggi agar ketika kita menerima hak kita, kita dapat dengan bangga menerimanya. Saya pribadi merasa bahwa orang-orang yang menuntut hak lama-kelamaan akan merusak keseimbangan antara hak dan kewajiban.
Note: terkadang kita melalaikan kewajiban kita tetapi kita harus berusaha untuk melihat dan memperbaikinya

christian_linero mengatakan...

kalau menurut saya,individualisme adalah suatu sifat ataupun sikap yang buruk,dan harus dihapuskan.
karena kita hidup tidak sendiri,kita tidak boleh egois(menang sendiri)dan hanya menuntut hak tanpa melaksanakan kewajiban.berarti orang seperti ini tidak akan dihargai di masyarakat.
Tuhan saja menciptakan kita tidak hanya sendiri,tapi bersama-sama maka dari itu kita tidak blh memiliki sifat individualisme yang menganggap apa yang baik sebagai yang menguntungkan.

~Christian Linero XI-C/09~

Pius Andhika mengatakan...

Apa yang dimaksud dengan individualisme adalah sikap mengutamakan diri sendiri. Sedangkan tanggungjawab dapat dibagi menjadi tanggungjawab terhadap diri sendiri dan tanggungjawab terhadap orang lain. Sehingga, benarlah adanya apa yang dikatakan Romo Christopher Gleeson, SJ. Hak-hak yang kita miliki seringkali membuat kita merasa berkuasa dan membuat benteng tebal di depan diri kita yang menjadikan kita bisa melakukan apa saja. Namun sayangnya akibat adanya benteng tersebut kita jadi seringkali lupa akan tanggungjawab yang kita miliki, terutama terhadap orang lain. Memang semakin tinggi kedudukan kita, tentu hak yang kita miliki semakin banyak, namun sebaiknya semakin kita memiliki hak yang banyak, semakin bisalah kita membedakan mana yang baik dan mana yang benar. Baik dan benar? Ya, segala sesuatu yang benar belum tentu baik, sama juga sebaliknya. Contohnya, sebagai seorang polisi, sudah hak saya untuk mengenakan denda kepada pelanggar peraturan, dan hal itu benar adanya. Namun jika saya meminta uang namun saya pakai untuk kepentingan diri sendiri, perbuatan saya menjadi tidak baik walalupun benar. Hal ini menjadi penegasan akan pernyataan Romo Christopher bahwa hak yang dipakai secara individualistis akan merusak pribadi serta karakter seseorang apabila tidak dapat berlaku secara bertanggungjawab.
Demikian komentar saya untuk posting "Hak dan Tanggungjawab".
-Pius Andhika Gustianto XI-f/32-

SiLveR mengatakan...

Hak adalah suatu yang boleh dilakukan oleh seseorang, pada pengertian lain juga, hak adalah sesuatu yang patut diberikan pada seseorang.

Sebagai manusia, tentunya dari awal mula kita hidup telah memiliki hak-hak yang mendasar sejak kita lahir.. Seiring dengan waktu yang terus berjalan dan tak akan pernah bisa berhenti, hak-hak itu terus berkembang disertai juga dengan munculnya tanggung jawab terhadap suatu hal dan hak yang membuat seorang harus melakukan sesuatu disamping suatu hal dan hak yang dapat didapat atau diberikan oleh orang lain..

Hak dan tanggung jawab terhadap hak yang telah diperoleh tersebut berjalan berdampingan dan seimbang, ibaratnya seperti sayap seekor burung yang memiliki kesesuaian dalam tiap kepakannya maka burung itu dapat terbang.. Namun ketika ada ketidak stabilan pada salah satu sayapnya, burung itu akan jatuh. Begitu pula, Hak dan tanggung jawab atau kewajiban tersebut secara seimbang membuat seseorang hidup dengan baik namun, ketika salah satu dari hak atau tanggung jawab tadi terlalu dititik beratkan, maka akan terjadi suatu kondisi dimana kita akan jatuh dalam arti ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya itu..

Sesuai dengan yang dituliskan oleh P. Christopher Gleeson yang dikutip oleh P. Agustinus Sigit Widisana, Apabila kita bersembunyi di belakang hak-hak kita, kita kerap kali 'melupakan' tanggung jawab kita. Situasi ini memang sebuah keadaan nyata dimana setelah hak telah diberikan, maka sering kali tanggung jawab akan suatu hal akan terlupakan. Memang, hak akan kita dapati tanpa menunggu kita melakukan kewajiban. oleh karena itu Sebagian besar Orang akan cenderung memilih untuk mendapatkan hak-hak namun tidak melakukan kewajibannya karena telah terlalu terbawa dengan hak-haknya tersebut. Hal ini dapat teratasi ketika seseorang memiliki kesadaran diri untuk melakukan kewajiban yang wajib dilakukannnya. Apakah untuk menyadarkan betapa pentingnya keseimbangan hak dan kewajiban, hak harus di tahan sampai tanggung jawab terhadap sesuatu di lakukan? Seperti Hak untuk mendapat kartu ulangan di CC yang di tahan sampai tanggung untuk memiliki rambut rapi terpenuhi. Tentunya hal ini tak perlu dilakukan bila memiliki suatu kesadaran yang tinggi tentang tanggung jawab yang harus dilakukannya.

Terlalu terbuainya akan hak-hak yang didapati hingga menjadikan hak tersebut perisai untuk menangkis tanggung jawab terhadap sesuatu akan menimbulkan sikap Individualisme.
Saya berpikir bahwa benar yang telah di sebutkan di atas,
"Individualisme yang menekankan hak-hak pribadi melebihi tanggung jawab pribadi terhadap kolega atau sesama - jangankan masyarakat yang lebih luas - seperti itu, akan merusak dirinya sendiri sekaligus juga kepentingan umum. Individualisme mendefinisikan apa yang baik sebagai apa yang 'menguntungkan'."
Seperti yang telah kita ketahui, manusia memiliki berbagai keinginan untuk mencapai tahap puas. Namun, kepuasan tersebut tak akan pernah tercapai jika tak ada kontrol diri. Oleh karena itu, banyak yang ingin mendapatkan hak-hak pribadi tersebut dan menggunakannya hingga melupakan tanggung jawab apa yang harus dilakukan ketika mendapatkan hak tersebut karena menguntungkan bagi dirinya.
Bukan hanya orang lain yang akan susah jika kita bersikap individualisme,
Individualisme akan membawa kita kepada suatu kondisi dimana orang akan menyingkirkan kita dari suatu pergaulan ataupun dari suatu lingkungan sosial. Tentunya hal ini membuat kita sepi, sendiri, dan tak bisa jalani hidup sebagaimana mestinya.

Seperti salah satu pepatah kuno, “Sebatang lidi akan mudah dipatahkan, tetapi, jika lidi itu ada dalam jumlah besar, maka sulit untuk dipatahkan” dan sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk sosial, sikap individualis akan membuat kita rapuh dan lemah dalam melakukan suatu hal ataupun dalam menghadapi masalahh bila dibandingkan dengan orang yang secara bersama-sama melakukan suatu hal dan dalam menghadapi masalah. Maka, sebaiknya kita tak memiliki sikap individualisme ini

Meski sulit untuk memberi tanggung jawab terhadap suatu hal dan mudah untuk memperoleh dan mengimplementasikan hak-hak dalam kehidupan, kita harus terus mencoba dan berusaha mempertanggungjawabkan hak yang telah kita terima dan menggunakan hak itu secara baik, terutama untuk membantu orang lain agar tetap menjadi homo socialis(makhluk sosial) bukannya menjadi homo individualis.

Akhir kata, dari semua komentar saya, hal yang paling penting dilakukan adalah berdoa pada Tuhan agar berkat rahmat kasihNya, kita dapat menyeimbangkan antara hak, kewajiban, dan tanggung jawab terhadap sesuatu serta tidak menjadi seseorang yang bersikap individualisme.

Sekian komentar dari saya terhadap Posting dari Pater Sigit, terima kasih




Fx
XIF/18

SiLveR mengatakan...

Maaf, Nama Lengkap Lupa di tuliskan

Nama Lengkap:
Felix XIF/18

william mengatakan...

Saya sangat setuju dengan pendapat romo Christopher.

Memang manusia cenderung memiliki sifat yang egois. Terutama manusia yang hidup di kota-kota besar, seperti di Jakarta ini.
Hak-hak pribadi memang perlu, tapi harus diingat juga kalau kita tidak bisa hidup sendiri di dunia ini.

Mungkin terkadang kita pernah berpikir, "untuk apa saya membantu orang lain, toh saya tidak mendapatkan keuntungan apa-apa".
Sikap individualisme ini seperti pada pendapat romo Christopher, dimana manusia hanya melakukan hal yang menguntungkan bagi dirinya sendiri tanpa memperhatikan hal tersebut merugikan orang lain atau tidak. Bila semua manusia di dunia ini memiliki pandangan seperti itu, tidak tertutup kemungkinan kalau suatu saat dunia akan berantakan.

Misalnya saja, seseorang ingin mengeruk banyak keuntungan dengan
menebang berhektar-hektar hutan untuk dijadikan bahan baku. Suatu ketika, hujan datang dan membanjiri rumah-rumah yang berada di dekat sana. Hal ini sangat merugikan bagi orang-orang yang tinggal di sana.
Di Indonesia, hal seperti ini sudah banyak terjadi.

Karena itu, selain ingat akan hak diri sendiri, kita harus ingat pula kalau orang lain juga mempunyai hak yang sama dengan kita. Jadi kita harus bisa menghilangkan sikap individualisme dalam diri kita.
Karena suatu saat, manusia pasti akan membutuhkan bantuan dari orang lain.

William Setiawan__XIc__36

steven_licin mengatakan...

menurut saya,kalimat"Apabila kita bersembunyi di belakang hak-hak kita, kita kerap kali 'melupakan' tanggung jawab kita" sangat melekat pada diri kita sebab dalam kenyataanya kebanyakan manusia lebih bersikap individual, kita juga bersembunyi di belakang hak - hak kita atas kesalahan - kesalahan yang telah kita perbuat,dan bahkan sampai menyalahkan orang lain.

sikap individual ini perlu kita singkirkan,kita tidak lebih memntingkan hak-hak kita daripada tanggung jawab kita, seharusnya hak dan tanggung jawab yang ada pada diri kita seimbang,untuk itulah kita memerlukan sikap bersama.

Tanpa adanya sikap kebersamaan dalam diri kita, hidup kita akan rusak,tidak ada orang yang akan memperdulikan kita dan mungkin kita dijauhkan oleh semua orang karena kita terlalu bersikap individual dan tidak mementingkan kepentingan orang lain. Dengan adanya sikap kebersamaan dan seimbangnya hak & tanggung jawab, hidup kita akan lebih baik.

kita tidak blh memikirkan kepentingan diri kita sendiri,sebab kita tidak mungkin hidup sendiri,kita butuh orang lain untuk membantu hidup kita. Seperti suatu kalimat yang terdapat di dalam kita suci,yaitu Tuhan menciptakan manusia sepasang - sepasang,nah dari situ kita dapat melihat bahwa manusia hidup untuk bersama,bukan hidup untuk sendiri

STEVEN SOLICHIN XI-F / 39

##loco92$&# mengatakan...

Saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat dari Pastor Christopher Gleeson,SJ.Karena ia mengatakan bahwa individualisme mendefinisikan apa yang baik sebagai apa yang menguntungkan.Dalam kehidupan sehari-hari memang benar kita melakukan hal itu,namun kita mengikuti yang sebenarnya.
Contoh dalam ulangan,kita harus bersikap individualisme terhadap teman kita.Jadi individualisme pun menjadi hal penting untuk hal positif.Selain itu kadang hak pribadi pun harus didahulukan dari tanggung jawab pribadi.Seperti contoh kasus seorang karyawan diperintahkan bosnya untuk membunuh lawan tendernya.Karyawan itu adalah seorang yang beriman dan ia tahu itu salah.
Setelah berkecamuk selama 3 hari,ia pun memutuskan untuk tidak melakukannya dan ia pun berhenti dari tempat itu.Ia mendahulukan haknya untuk memilih yang ia yakini benar daripada tanggung jawab terhadap bosnya.
Di sisi lain,saya setuju dengan komentar tadi karena kita pun harus menimbang-nimbang dengan baik antara hak dan tanggung jawab kita untuk bertindak.

##loco92$&# mengatakan...

maaf,saya lupa menuliskan nama

Alvin Goputra
XIC/4

Ephraaaaa mengatakan...

Menurut saya individualisme adalah sesuatu yang bisa merusak diri. Melalui individualisme kita sebenarnya menunjukkan sisi egois diri kita sendiri. Sisi egois menurut saya dapat merusak moral dan tingkah laku seseorang. Saya setuju pada pendapat pater Christopher Glesson bahwa individualisme itu dapat merusak diri sendiri dan kepentingan umum.

Orang yang hanya mementingkan kepentingan diri sendiri hanya akan menjadi orang yang sia-sia. Manusia hidup sebagai makhluk sosial, yang artinya perlu untuk hidup bersama dan saling melengkapi satu sama lain. Menjadi orang individualis bisa membuat diri kita tidak seimbang secara pikiran dan hati. Perasaan kita dapat menjadi mati apabila kita selalu bertindak individualis “semau gue” di kehidupan sehari-hari.

Keadaan dimana perasaan / hati kita sudah mati inilah yang sangat berbahaya. Kita melupakan semua tanggung jawab dan bertindak semaunya sehingga akibat dari perilaku semaunya itu tertimpa pada orang di sekitar kita. Bila sudah sampai pada tingkat ini maka rusaklah kehidupan kita, orang-orang akan menjauhi dan timbul rasa benci kepada kita.

Seharusnya kita menjadi orang yang peduli dan mau bermusyawarah. Tunjukkan eksistensi diri kita melalui perbuatan-perbuatan positif dan bertanggung jawab di kehidupan sehari-hari. Hak diri kita memang perlu untuk kita terima, tetapi jangan sampai kita terpaku hanya pada hak itu dan melupakan tanggung jawab kita. Sikap individualis penting bagi seorang pemimpin, tetapi akan lebih baik jika sikap itu diambil hanya pada saat dimana musyawarah tidak dapat tercapai dan diperlukan suara yang bertanggung jawab dari seorang pemimpin. Seorang pemimpin tanpa sikap individualis akan terlihat ragu-ragu dalam mengambil keputusan, maka dari itu saya mengatakan bahwa sikap individualis sebenarnya juga menjadi hal yang penting jika kita lakukan di kesempatan yang benar.

Jadi kita harus punya batasan-batasan untuk menerima hak dan berperilaku individualistis. Jangan sampai kita melakukannya sehingga merusak diri kita dan masyarakat sekitar. Jika kita sudah melakukan tanggung jawab kita maka barulah kita menuntut hak kita, tetapi dengan batasan.

Jangan pernah menjadi orang yang sia-sia!

Ephraem Joseph Media P
XI F / 16

Boedi mengatakan...

Sebelum mengutarakan pendapat saya,, saya akan menyinggung terlebih dahulu definisi dari "individualisme" yang beberapa kali muncul di posting kali ini... Saya rasa yang dimaksudkan di sini adalah bahwa individualisme menjadi sebuah paham atau ideologi yang cenderung dianut oleh kita, sebagai manusia biasa apabila dilihat dari sudut secara perorangan/pribadi... Jadi yang dimaksud "individualisme" bukanlah suatu sosok, melainkan lebih tertuju pada suatu watak yang memiliki kecenderungan untuk memprioritaskan kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan khalayak banyak...

Saya rasa individualisme sendiri juga menjadi hak dan juga kewajiban dalam hidup seseorang... Dimana seorang manusia memiliki hak untuk memiliki suatu privasi, kepentingan diri, serta ia juga berhak melakukan tindakan-tindakan yang mendukung kepentingan dirinya... Selain itu jugalah menjadi tanggung jawab bagi seorang manusia untuk mempertanggungjawabkan jiwa, raga, dan seluruh anugerah yang ia miliki kepada Tuhan sebagai wujud syukurnya...

Manusia hidup sebagai makhluk sosial sekaligus makhluk individualis,, sehingga dalam tiap jiwa manusia pasti akan ada rasa individualisme dan sosialisme pula,, dimana hak dan tanggung jawab kitalah untuk menjaga dan terlebih untuk menyeimbangkan keduanya sebagai suatu ciri khas karakter kita sebagai manusia yang menjadi ciptaan kebanggan Tuhan...

Bila ada yang bertanya " Apa sih yang anda cari di dunia ini?" atau apabila anda dihadapkan pada pertanyaan "Untuk apa sih kita ini hidup di dunia?"... Sebagian mungkin akan menjawab bahwa manusia hidup untuk mencari kebahagiaan, untuk menggenapkan takdir, atau untuk menemukan rahasia hidup itu sendiri... Mungkin mereka tidak bisa dibilang salah... Karena pertanyaan itu merujuk pada pendapat,, dimana pendapat tidak menjadi suatu yang bisa dinilai kebenaran atau kesalahannya... Kebebasan berpendapat pun telah diakui oleh seluruh ahli,, dan dari sanalah pikiran" besar muncul...
Dan bilamana pertanyaan itu datang menghampiri saya,, maka saya akan menjawab bahwa kita hidup untuk diri kita sendiri, orang lain, dan Tuhan yang mencintai kita...
Hal ini mewakili pendapat saya bahwa manusia pada dasarnya hidup untuk menerima, memberi, dan mengembalikan semuanya kepada Bapa di surga...

Intinya adalah bahwa hak dan tanggung jawab menjadi sesuatu yang tidak dapat dipilih... karena hak dan tanggung jawab berjalan seiringan dengan perbandingan setara dimana seberapa banyak yang kita dapatkan, sedemikian jugalah yang harus kita persembahkan kepada orang lain, dimana saya tekankan di sini bahwa kata "banyak" bukan merujuk pada materi yang dapat dihitung,, melainkan lebih pada perbuatan dan tindakan kasih yang nyata dan tulus...

Orang yang bersembunyi di balik hak mereka bagaikan iklan layanan masyarakat tentang pajak yang berbunyi "Ga maw bayar pajak, tapi mau fasilitasnya, APA KATA DUNIA?"...

Mengenai perusakan diri dan kepentingan umum, apa yang dapat saya katakan adalah bahwa seorang manusia dengan individualisme yang berlebihan tanpa rasa sosialisme menjadi benalu bagi orang lain... Individualisme yang berlebihan akan berkembang menjadi sifat egois dan mulai serakah... Karena ketika seseorang melupakan orang lain, ia mulai melupakan Tuhan...

Menyinggung soal baik dan menguntungkan,, menurut saya perspektif yang diambil sudah tepat... Karena pada dasarnya baik atau buruk adalah relatifitas yang tidak terhingga... Tiap karakter memiliki perspektif yang berbeda-beda... Sistem yang berlaku dalam masyarakatlah yang kini menjadi landasan penentu apakah suatu hal itu adalah baik atau bukan,, seperti contohnya adalah mengenai hukum... Orang tidak akan tahu apakah suatu hal itu baik atau buruk, pada dasarnya mereka akan memilih pendapat mereka sendiri,, namun dengan munculnya hukum yang jelas,, sudut pandangan mereka difokuskan pada kordinat tertentu dimana dari sanalah mereka akan melihat bahwa adanya aturan yang sedemikian rupa diperlukan demi mencapai keteraturan... Sistem demokrasilah yang membentuknya,, dimana pendapat orang terbanyak yang akan dipilih menjadi sesuatu yang dianggap kebijakan... Namun apakah semua kebijakan itu pastilah yang paling bijak? Benarkah itu semua adalah yang paling baik? Anda bisa menjawabnya sendiri dalam hati anda...

Lalu apalah definisi dari menguntungkan? Apakah keuntungan yang dimaksud selalu berupa materi? Bila ia,, maka pendapat itu dapat dibenarkan bagi seorang individualis... Namun apabila tidak,, saya rasa masih banyak "bentuk" lain dari suatu hal yang dianggap menguntungkan...
Menguntungkan tidak sama dengan menerima secara konkrit... Contoh ekstrimnya : apabila seorang kaya dermawan menyumbang pada panti asuhan dan ia merasa bahagia akan hal itu... Siapa di sini yang diuntungkan?? Keterkaitan antara memberi, menerima dengan keuntungan dan kerugian, maupun baik buruknya sesuatu tak dapat diukur dengan keidentikan pandangan sesederhana itu...

Hak dan Tanggung Jawab kita sebagai manusia adalah untuk menyeimbangkan hak dan tanggung jawab kita itu sendiri...

Boedi Setia Utama
XI F / 08

Kengputra mengatakan...

Individualisme, menurut saya merupakan suatu hal yang sangat tidak bisa ditolerir. Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa hidup sebagai individu, melainkan kita perlu orang lain untuk membantu atau mendukung kehidupan kita.
Dari apa yang diposting oleh Pater Sigit, bahwa orang yang individualis akan menekankan hak-hak pribadi mereka dibanding dengan tanggung jawab pribadi terhadap orang-orang disekitarnya. Menurut saya, orang-orang yang individualis tidak akan bisa berkembang dalam kehidupan karena mereka terlalu mementingkan hak-hak mereka sehingga melupakan kewajiban mereka untuk melakukan tanggung jawab akan membuat mereka akan dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya. Dan jika itu terjadi, maka orang-orang yang individualis akan dibenci sehingga mereka tidak dapat berinteraksi dengan orang lain. Yang hakekatnya sangat diperlukan manusia sebagai makhluk sosial yakni berinteraksi dengan orang lain. Jika ini terjadi,akan timbul dampak-dampak negatif yang akan muncul bagi orang-orang yang individualis yakni mereka tidak dapat berinteraksi dengan orang lain karena mereka sudah sangat dibenci akibat sikap mereka yang individualis tersebut.
Oleh karena itu, kita sebagai manusia yang dianugerahi akal budi dan pikiran harus mampu untuk berpikir apa yang baik dan apa yang salah sehingga kita harus bisa untuk tidak bersikap individualis dan bisa melaksanakan tanggung jawab dan tidak hanya bisa menuntut HAK dan dalam menuntut hak tersebut kita juga harus MEMIKIRKAN ORANG LAIN

Kengputra Ekawijaya
XI-F/26

Jason Hamdani mengatakan...

Menurut saya apa yang dikatakan oleh Christopher Gleeson ada benarnya. Individualisme yang 'berlebihan' dapat merugikan dia sekaligus orang - orang di sekitarnya, sebab kewajiban yang harusnya ia lakukan sebagai warga masyarakat tidak ia acuhkan. Orang tersebut membuat 'tembok pembatas' antara dirinya dengan orang lain. Padahal manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan sesama. Contohnya Indonesia, yang saat ini dikuasai oleh orang - orang dengan rasa 'Individualisme' yang tinggi. Akibatnya Indonesia dicap sebagai salah satu negara dengan tingkat-korupsi paling tinggi.

Di lain pihak, individualisme yang tidak dilakukan secara 'ekstrem' dapat berakibat positif. Orang - orang yang terbiasa bekerja sendiri akan mengetahui kelebihan maupun kekurangannya. Sehingga pada akhirnya nanti jika ia membuka diri dan bekerja sama dengan masyarakat, ia mempunyai gambaran yang luas dan mampu saling melengkapi dengan rekan - rekan kerjanya. Contohnya adalah Cina, yang sempat menjadi negara 'Individualis'. Ketika Cina bangkit, ia menjadi pusat perdagangan dengan harga bersaing di pasaran. Cina mampu mengatasi kelemahannya, dan memaksimalkan kelebihannya.

Kesimpulannya adalah Individualisme merupakan hal yang baik dalam batas - batas tertentu. Namun ingat, setelahnya kita masih membutuhkan sesama kita.

Jason / 22 / XI-C

Gunawan mengatakan...

hal tersebut memang sering terjadi dalam kehidupan kita selama ini dimana seseorang lebih memikirkan hak-hak nya dibandingkan dengan kewajiban dan juga tanggung jawab atas hak-hak tersebut.

individualisme merupakan sesuatu yang sangat tidak baik dimana seseorang tidak memikirkan orang lain. hal tersebut dapat saya katakan tidak baik karena kita hidup didunia ini adalah sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dan sesama bukan sebagai makhluk yang individualis. dan individualisme sma sekali tidak menguntungkan tetapi akan merugikan orang lain.

- AMDG -

Nobunaga's Wrath mengatakan...

Saya setuju dengan Romo Christopher Gleeson, SJ. individualitas memang merusak hubungan kita dengan sesama. Memang individualitas yang berlebihan akan memunculkan sikap cuek dan akan lebih mengedepankan hak daripada melaksanakan kewajiban kita. Tetapi individualitas yang tidak berlebihan, yang bukan dimaksud di sini, juga penting karena dengan itu kita bisa bebas berpendapat dan tidak mengikuti 'arus'.

Di kota besar seperti Jakarta, individualitas memang sangat terasa, apalagi di tengah kemiskinan yang melanda. Kita tahu kalau menyangkut 'soal perut', kita cuek dan hanya bernafsu mendapat makanan. Seperti perumpamaan ini, kita seringkali ingin memuaskan nafsu kita untuk mendapatkan hak. Karena hal ini sudah begitu 'menjamur' bahkan dikatakan sebagai budaya, individualitas yang berlebihan itu dianggap normal oleh masyarakat.

Maka kita sebagai Kanisian, harus bisa mengatur tingkat individualisme kita sebagaimana kita mengatur hak dan kewajiban kita agar seimbang.

Arya Putra
XIC nomor 8

Steven mengatakan...

saya amat setuju dengan pernyataan P. Christopher Gleeson, SJ tersebut.

Akhir-akhir ini kita telah melihat banyak sekali contoh dalam kutipan P. Christopher Gleeson, SJ. Manusia cenderung memikirkan dirinya sendiri daripada orang lain. Ini dikarenakan sifat egosentris yang menggerogoti pikiran kita dimana kita digiurkan oleh apa yang dapat kita peroleh dengan mementingkan diri kita sendiri.

Contohnya, ada seorang teman yang saya amat akrab dengannya. Sejak kelas 10 ia sudah tinggal jauh dari rumah orang tuanya dan memilih tinggal di rumah tantenya karena alasan jarak ke sekolah. Setiap hari setelah pulang sekolah, ia selalu ingin pulang langsung ke rumah karena ia merasa bosan di sekolah, padahal adik dia yang duduk di bangku SMP memiliki jadwal tugas lain setelah pulang sekolah dan adiknya sangat sibuk, tetapi ia tidak pernah menuruti adiknya malahan ia bersikeras pulang duluan bersama tantenya dimana adiknya tersebut merupakan anak tantenya. Ia merasa bahwa ia harus didahulukan dan ia tidak malu akan perilakunya terhadap keluarga tantenya yang telah menyediakan tempat tinggal dan transportasi setiap hari pergi pulang sekolah. Ini adalah contoh sifat individualisme.

Di dalam kitab suci disebutkan bahwa “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima." - KIS 20:35.
“Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima” - ini adalah benar karena lebih baik memberi daripada menerima sama halnya kita “memberi” bagi sesama yang membutuhkan dan dengan itu, kita melunturkan keegoan dan keindividualisme kita. Dalam semangat 3C, yaitu Compassion pun kita diwajibkan untuk membantu sesama.

Jika kita membiasakan diri untuk lebih peka dan lebih banyak membantu sejak dini dan di dalam lingkup yang kecil, maka dalam kehidupan di masyarakat pun kita tak akan menemui kesulitan ataupun hambatan karena orang yang ego dibenci oleh masyarakat , kita tak ingin menjadi orang seperti itu kan? Malahan dengan membantu kita akan menerima banyak bantuan dari Tuhan melalui teman kita. Selain itu, kita percaya dalam iman kita, bahwa jika kita berbuat baik, maka upah yang diterima pun akan setimpal.

Karena Yesus pun pernah bersabda :

Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.” - LK 6:25
Ayat ini ditujukan kepada mereka yang bersikap ego dan tidak mau membantu sesama karena ia akan dicampakkan dari segala yang ia punya dari sifat keegoannya.

Yesus pun pernah bersabda bahwa :
“Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu”2KOR 8:8

Dalam kutipan ayat di atas pun kita dapat melihat bahwa Tuhan Yesus pun menguji keikhlasan hati kita yang dinyatakan melalui perbuatan menolong bagi sesama, bukan sifat ego.

Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah” - IBR 13:16
Dalam hal ini, kita pun sadar bahwa dengan berbuat kasih dengan menolong sesama terutama yang membutuhkan pertolongan, kita berkenan di hadapan Allah.

Man For and With Others!

Steven Sanjaya
XI F / 38

Michael mengatakan...

Memang kita mengetahui bahwa setiap orang di dunia ini masih terikat pada hal-hal duniawi yang membutakan mata mereka sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban yang harus mereka tempuh untuk mendapatkan suatu hak yang ingin dicapainya. Saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan dalam artikel tersebut bahwa hak-hak itu akan terus selalu menekan hidup manusia dan manusia pun dapat bersembunyi dalam hak-hak tersebut. Maka dari itu, hidup kita sebagai anak raja(Tuhan) harus menyeimbangkan hidup antara hak dan kewajiban.

Keseimbangan itupun akan membawa manusia ke dalam suatu keselarasan hidup dan mengerti bahwa hak-hak yang diperoleh harus dilewati dengan kewajiban. Semua yang berlebihan itu tidak baik, jadi terimalah apa-adanya dari diri kita sendiri, misalnya: seseorang mendapatkan uang yang begitu banyak dalam hidupnya tanpa merasakan betapa beratnya untuk menjalani hidup, sehingga secara sadar atau tidak sadar uang seakan-akan menjadi sampah yang sangat mudah untuk dibuang. Oleh karena itu, ia tidak bisa mengerti bahwa sebagaimana susahnya untuk mendapatkan uang tanpa melakukan kewajiban, itulah contoh orang yang selalu hidup dalam daging.

Hak yang kita diperolehpun akan terasa begitu indah saat menyelesaikan kewajiban, contoh: seorang pelajar yang menyiapkan ulangan dengan belajar yang rajin, banyak melakukan latihan dan selalu memperhatikan guru menerangkan, memang dalam hatinya akan terasa begitu lelah, namun saat menghadapi ulangan, anak tersebut pun akhirnya mendapatkan hasil yang memuaskan dan hatinya pun akan terasa begitu menyegarkan karena pengorbanannya atas kewajiban dapat ditebuskan dengan hak berupa nilai yang memuaskan.

Sekaranglah waktu yang tepat untuk merubah semua hal-hal pemikiran kita tentang hak-hak yang selalu menekan dan membutakan kita sehingga kewajiban dilupakan.

Efek yang ditimbulkan dari perubahan tersebut dapat dirasakan bagi hidup kita dan menjadi berkat bagi orang lain. Dari cara berperilaku, bagaimana susahnya mendapatkan hak,dan bertanggung jawab atas kewajiban kita dapat dirasakan dan direfleksikan dalam hidup kita.

Jadi, saya menyimpulkan bahwa sebelum hak terpenuhi, kewajiban selalu ada di depannya dan diikuti oleh hak yang selalu memboncengnya.

Alexander I. L. / XIC/ 03

Aron mengatakan...

Saya benar-benar setuju dengan pendapat Pater Christopher Gleeson mengenai individualisme.Seperti yang kita ketahui bahwa individualisme dibagi menjadi 2 kata yaitu individu dan imbuhan –isme yang artinya suatu paham.Jadi individualisme adalah suatu paham dimana seseorang yang menganut paham tersebut lebih mementingkan dirinya sendiri daripada kepentingan orang lain yang lebih membutuhkan.Saya juga yakin bahwa setiap orang juga pasti cenderung melakukan sesuatu yang menguntungkan bagi dirinya,hanya saja bagaimana cara orang itu menanggapi lebih lanjut rasa keegoisan tersebut.Seseorang bisa memilih untuk terus mementingkan dirinya tanpa mempedulikan orang lain atau menyetarakan kepentingan bagi dirinya dengan kepentingan orang lain.

Jika memang benar adanya eksistensi dari paham ini(atau saya sebut ‘sikap’),maka ini sangat bertentangan dengan fakta bahwa manusia adalah makhluk social yang artinya manusia saling membutuhkan sesamanya untuk dapat bertahan hidup.Dan saya juga bersyukur bahwa di Kolese Kanisius tempat saya bersekolah,ada salah satu dari semboyan 3C,yaitu compassion .Compassion artinya adalah kepedulian terhadap sesama.Dengan adanya kepedulian,diharapkan semua siswa Kolese Kanisius dapat menjadi manusia yang tidak ber’sikap’ individual,tetapi mementingkan orang lain.Kiranya dari kepedulian yang hanya tertanam sedikit dari sekian orang banyak di dunia ini,da-pat menjadi modal utama masyarakat Indonesia yang rakyatnya egois dan mementingkan diri sendiri.

Jadi kiranya kita jangan melupakan kewajiban utama kita,yaitu kewajiban untuk mementingkan orang lain juga.Karena semua orang mempunyai hak untuk menjadi lebih baik dengan bantuan dari sesama.Dan kita juga harus selalu ingat fakta bahwa klita adalah makhluk social yaitu makhluk yang tidak dapat bertahan hidup tanpa bantuan sesame kita,manusia.Tuhan saja mau mengorbankan nyawa-Nya demi kepentingan kita,umat manusia,kita sebagai ciptaan-Nya yang serupa dengan-Nya juga harus meniru sikap yang Tuhan lakukanMulailah dari sekarang memikirkan kepentingan orang lain.JANGAN EGOIS!!!!

Christian Aron XIF/10

willysh mengatakan...

saya willy XI B / 40

individualisme memang kebanyakan menyabotase diri kita sendiri, tentu saja semua orang tau dan kebanyakan mereka memiliki individualisme yang tinggi pada jama sekarang ini. Jadi yang terpenting adalah kita sendiri , bukan orang lain ! Misalnya ketika dalam pelajaran di sekolah , teman kita tidak mengerti pelajaran yang diterangkan tetapi saya mengerti pelajaran tersebut dan saya tidak mau menjelaskan ke teman saya tersebut , karena yang penting saya bisa, orang lain tidak bisa ya biarkan saja.

Mungkin itulah yang dimaksud pater christoper , jadi seringkali kita bersembunyi di belakang hak hak kita yang menimbulkan individualisme yang sangat tinggi.

Saya percaya anak kanisius tidak akan berbuat seperti itu , jadi anak kanisius mengembangkan 3c , yaitu compassion , consience , dan juga competence. Jadi kita tidak hanya mempunyai kemampuan untuk diri kita sendiri tetapi kita mempunyai kemampuan untuk bersama-sama supaya kita bisa saling melayani dan juga saling melengkapi.

Akhir kata kita tidak baik bersembunyi di belakang kemampuan kita atau hak kita, memang hak wajib kita miliki setelah kita melaksanakan kewajiban , tetapi tidak untuk diri sendiri dan melupakan kewajiban dan tanggung jawab kita yaitu saling melengkapi dan saling melayani satu sama lain.

George mengatakan...

Menurut saya, pendapat Pater Christoper Gleeson, SJ benar adanya. Manusia lebih sering mengedepankan hak-haknya daripada melakukan tanggungjawabnya. Perilaku memprioritaskan hak-hak itu pada akhiornya disebut sebagai tindakan yang individualistis.
Sebagai contoh, seorang anak bernama A menjadi ketua kelompok percobaan biologi. Lalu ketika ada praktek yang memerlukan bahan-bahan yang sulit, si A memerintahkan para anggota kelompoknya untuk membawa bahan-bahan tersebut. Hingga pada akhirnya teman-temannya berhasil mengumpulkan bahan-bahan tersebut dengan susah payah, sementara dirinya hanya duduk berpangku tangan. Padalah, nilai yang didapat dalam satu kelompok adalah sama.
Pada cerita di atas, si A terlalu menuntut haknya sebagai ketua kelompok Memang sebagai ketua kelompok ia mempunyai hak untuk memerintah anak buahnya, tetapi si A juga mempunyai tanggungjawab kepada kelompoknya, yang mana sebagai ketua kelompok ia harus membantu anak buahnya dalam melaksanakan tugas sehingga “bawahan”nya tidak mengalami kesulitan.
Seringkali sebagai manusia kita mengalami situasi di atas. Kita terlalu meminta kepada orang lain untuk memenuhi hak-hak kita. Akan tetapi kita lupa bahwa sebagai tanggungjawab kita justru lebih penting. Jika kita hanya menginginkan hak kita saja, keadaan tidak bisa berjalan sinkron karena justru orang lain akan merasa dirugikan. Bahkan jika dilanjutkan bisa berakibat fatal, yaitu dikucilkan dalam pergaulan.
Seperti dalam ilmu sosiologi, manusia adalah makhluk sosial. Maka dari itu manusia harus selalu berinteraksi dengan sesama. Interaksi bisa berjalan dengan baik jika manusia dalam pergaulan bisa mementingkan tanggungjawabnya untuk menjamin hak(kepentingan) umum. Baru setelah tanggungjawab dilakukan manusia dapat menuntut haknya. Jangan hanya meminta hak saja. Dengan demikian manusia bisa lebih maju dan lebih menghargai sesamanya.

George Andreas Winata
XI-C / 21

ruliff mengatakan...

Menurut saya,hak dan tanggung jawab adalah sepasang kejadian kehidupan yang harus berjalan seimbang dan tidak berat sebelah. Namun terkadang,kita sering kali terlena oleh hak-hak yang menggiurkan,sehingga kita dengan seenaknya melupakan tanggung jawab yang harus kita laksanakan. Kelakuan seperti ini hampir terjadi di setiap manusia,semua manusia pasti ingin menuntut hak-haknya terlibih dahulu. Dalam kondisi seperti ini,kita sebagai manusia harus mempunyai hati nurani yang kuat untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jika kita mampu membedakan baik dan buruk dalam memanfaatkan hak dn tanggung jawab,maka kita sudah membuat diri kita menjadi pribadi yang seimbang.

Menuntut hak-hak yang kita miliki,memang sudah menjadi sikap manusai yang tidak pernah puas. Tetapi jika kita menuntut hak yang berlebih,ini akan menyulitkan orang-orang disekitar kita. Begitu pula jika kita melaksanakan tanggung jawab kita dengan sembarangan tanpa memikirkan orang lain,maka hal ini akn dapat menyulitkan orang lain pula. Sebagai contoh, jika saya menjadi seorang yang berkewajiban sebagai orang yang menetapkan pajak, lalu saya menetapkan potongan pajak dengan harga yang tinggi,maka orang lain akan dibuat kesusahan dengan keputusan saya. Maka saya akan dianggap sebagai orang 'jahat' yang tidak peduli dengan masyarakat sekitar. Sementara itu,jika saya sebagai seorang anak yang hanya bisa menuntut hak terus menerus, tentu orang tua saya akan marah dan menganggap saya sebaai anak yang 'egois' dan indiviualis pada orang tua.

Seperti kasus yang telah saya contohkan, maka kita tidak boleh menetapkan kepentingan hak dan tanggung jawab kita di-atas orang lain. Maka benarlah pendapat yang dikatakan oleh Christopher Gleeson, SJ. Hal ini juga sesuai dengan pepatah yang diberikan yesus pada kita "Barangsiapa memberi lebih,ia tidak akan kekurangan,dan barangsiapa memberi sedikit tidak akan berlebih" hal ini sesuai dengan tanggung jawab dan hak yang harus kita berikan.


~RULIFF DEMSY XIF/35~

Albert mengatakan...

Ya.. Saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Pater Christopher Gleeson, SJ bahwa sikap indiviudalisme dapat merugikan orang yang melakukannya dan kepentingan bersama. Contohnya sangat dekat dengan kita, yaitu saat kita ikut dalam Percasis di SMA Kanisius awal tahun ajaran 2007-2008. Di acara yang kita ikuti di awal kita masuk sebagai siswa kelas X itu kita diajak untuk menyadari apa yang menjadi kewajiban dan hak kita, dan untuk tidak bersikap individualis terlebih pada teman-teman kita, baik dalam satu maupun di luar kelompok. Andaikan saja kita bersikap individualis dalam acara tersebut, yaitu memilih apa yang menguntungkan kita sambil melupakan tanggung jawab, niscaya kita beserta kelompok di mana kita berada akan gagal. Saya kira contoh yang saya berikan di atas telah menjelaskan apa yang dimaksud oleh Pater Gleeson, juga maksud dari Compassion yang dianut dan diajarkan di sekolah kita. Oleh karena itu, dalam suatu komunitas, masing-masing dari kita harus merelakan sebagian hak-hak dan menerima tanggung jawab yang ditujukan untuk mendukung kepentingan bersama. Di dalam komunitas itu juga, semakin besar tanggung jawab kita semakin besar hak yang kita dapatkan, begitu juga dengan sebaliknya.. Namun, apa yang saya sampaikan di kalimat sebelumnya tidak berarti bahwa ketika ia mendapatkan banyak hak dengan kerja keras yang ia lakukan ia boleh tidak peduli pada orang lain, melainkan harus menggunakan tanggung jawab dan haknya itu untuk dapat peduli pada orang lain, seperti halnya teman kita yang berprestasi membagi kemampuannya kepada temannya yang kurang prestasinya.

Sekian comment dari saya..
Albert Santoso XIC/2

alexander mengatakan...

Saya setuju dengan pernyataan Pastor Christopher Gleeson,SJ yang menyatakan bahwa individualisme lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain. Memang dalam hidup ini banyak manusia yang mementingkan hidupnya, ini tidak salah. Ini adalah sifat dasar manusia. Ini dilakukan untuk mempertahankan hidupnya. Namun perbuatan ini menjadi salah apabila kita tidak memperhatikan kehidupan orang lain. Contoh konkrit banyak pabrik yang membuang limbahnya ke sungai ataupun selokan. Ini dilakukan untuk mengurangi pengeluaran untuk membuat penampungan limbah sendiri, namun hidup banyak orang menjadi menderita. Individualisme sebenarnya adalah hal yang baik. Akan tetapi banyak yang salah mengartikanya. Untuk orang-orang yang seperti ini, saya rasa mereka harus belajar hidup di dalam komunitas. Dengan ini mereka bisa belajar bahwa yang mereka rasa baik belum tentu baik untuk semua orang.

Apabila kita kaitkan dengan hak dan tanggung jawab maka banyak orang yang salah mengartikan individualisme akan melupakan tanggung jawabnya dan mereka terus meminta-minta hak.

sekian

alexander kevin
XIF/3

Stepz mengatakan...

Menurut saya, pernyataan ini dapat dibagi menjadi 2 bagian inti di mana dua bagian itu sebenarnya adalah satu kesatuan dan saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya...

Bagian pertama adalah mengenai hak dan tanggung jawab pada manusia. Di dunia kita saat ini, masih banyak sekali manusia yang mempergunakan hak mereka dengan salah. Sebenarnya apakah hak itu?
Hak adalah sesuatu yang didapatkan oleh seseorang, baik hak yang didapat pada saat dia lahir, tumbuh dewasa, maupun pada saat dia sudah mulai bekerja di suatu tempat. Sekarang kita mengganti konsepnya menjadi mengapa banyak orang yang salah mempergunakan hak mereka?
Biasanya mereka menutupi tanggung jawab mereka dan berlindung di balik hak mereka dengan tujuan agar mereka tidak disalahkan dan terhindar dari masalah. Inilah suatu kesalahan yang ada di dunia ini. Sebagai contoh, kita berhak menggunakan fasilitas yang ada di Indonesia karena kita adalah warga Indonesia itu sendiri. Tapi, kita juga mempunyai tanggung jawab, seperti membayar pajak, dan menjaga fasilitas yang sudah disediakan. Namun, pada kenyataanya kita melihat masih banyak warga yang mau menggunakan fasilitas, tapi berusaha menghindar dari tanggung jawab yang ada. Dari sini kita bisa melihat bahwa masih banyak orang yang menyalahgunakan hak mereka itu sehingga apa yang mereka lalukan itu salah karena tidak sesuai dengan tanggung jawab yang ada.

Bagian ke dua adalah mengenai individualisme. Seperti yang kita ketahui, individualisme adalah sifat individu atau keegoisan yang ada pada diri setiap manusia. Seperti pernyataan Christopher, individualisme hanyalah menekankan segala hal demi mencapai keuntungan pribadi. Masih banyak orang yang yang lebih menekankan diri ke arah kepentingan pribadi ketimbang kemauan untuk melaksanakan tanggung jawab mereka itu. Sebagai contoh, kita masih dapat melihat ada banyak orang yang melakukan hal di luar tanggung jawab demi egoisme mereka sendiri, dan demi kepentingan mereka sendiri. Hal seperti inilah yang terjadi di masyarakat di Indonesia, yang menyebabkan masih Indonesia menjadi negara yang mengalami kemajuan yang cenderung lebih lambat dibanding dengan negara yang lainnya. Menurut orang yang menekankan individualisme, segala yang baik adalah segala yang menguntungkan sehingga apa yang mereka lakukan itu didasarkan pada keuntungan pribadi mereka semata. Mereka tidak peduli kalau ternyata apa yang mereka lakukan itu tidak baik, mereka berpikir kalau apa yang baik adalah yang menguntungkan mereka walaupun mereka tahu kalau apa yang mereka lakukan itu merugikan orang lain.

Stefanus Setiawan
XI-F/37

kevin mengatakan...

Hal yang diungkapkan oleh Pastor Christopher Gleeson, SJ bagi saya memang benar adanya. Kita tak bisa memungkiri, bahwa dalam lingkungan masyarakat yang liberal, hak-hak pribadi selalu dijunjung tinggi. Namun, perlu kita ingat bahwa hak-hak pribadi ini tak boleh sampai menghalangi hak-hak orang lain.

Namun, dengan berkedok hak-hak ini, kita memang jadi melupakan tanggung jawab kita. Individualisme di masyarakat yang madani sangatlah tinggi. Hal ini sebenarnya tidak salah, namun kita jadi kehilangan nilai-nilai dasar yang dulu dimiliki oleh bangsa ini yakni nilai seperti bergotong royong. Individualisme adalah pembunuh moral masyarakat.

Fenomena ini telah mengubah paradigma masyarakat. Dulu dalam kehidupan bermasyarakat, kita bermusyawarah untuk mencapai ,mufakat demi kebaikan bersama walau kadang keinginan kita secara pribadi dikorbankan. Namun saat ini, kita hanya melihat bahwa hanya hal yang menguntungkan buat kita adalah hal yang baik. Maka kita pun mengupayakan segala cara untuk menghindari apa yang disebut dengan tanggung jawab. Contoh nyata adalah pajak. Masyarakat dan pengusaha beramai-ramai menghindari pajak karena dinilai "tidak menguntungkan".

Menurut saya, patut kita renungkan apa yang telah dikatakan oleh Pastor Christopher Gleeson, SJ ini untuk membuat masyarakat Indonesia lebih baik lagi karena setelah 63 tahun merdeka, ternyata kita masih terseok-seok dengan berbagai persoalan yang menimpa negeri ini.

Kevin Eka Putra XI F / 28

Dari Kaskuser untuk Indonesia ... mengatakan...

Menurut saya,
kita sebagai manusia, hidup dengan dianugrahi hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban yang telah dianugrahkan Tuhan kepada kita, harus bisa berjalan secara seimbang. Karena jika hal itu sampai berat sebelah, maka tidak bisa tercipta suatu keseimbangan dalam hidup. Dan karena itu, kita diberi akal budi agar bisa menjaga keseimbangan dua hal tersebut.

Sejak kecil kita sudah diajarkan untuk melaksanakan kewajiban kita terlebih dahulu, baru menuntut hak kita. Karena memang hal itu yang seharusnya terjadi. Karena hal itu bisa memicu semangat kita untuk menyelesaikan kewajiban kita dengan baik. Sebab sudah tertanam di otak kita kalau akan ada suatu "hadiah" menanti setelah kewajiban terselesaikan.

Bagaimana jika seseorang, menuntut haknya terlebih dahulu? Itu akan membuat orang tersebut menjadi malas, dan tidak bertanggung jawab. Sebab, ia sudah mendapatkan "hadiahnya" sebelum dia bekerja. Dan jika hal itu terus menerus terjadi, maka akan merusak kepribadian orang tersebut. Menjadi seorang pemalas, dan hal itu tidak hanya akan merusak dirinya sendiri, tapi juga akan berpengaruh terhadap lingkungan sekitar. Orang yang seperti itu(yang lebih mendahulukan hak ketimbang kewajibannya) adalah orang yang besifat individualisme. Dia ber-ego tinggi. Baginya, keuntungan adalah segala-galanya. Dan hal ini sudah banyak sekali terlihat, bahkan sudah mulai terlihat sejak kecil.

Lalu, apakah orang yang telah mendapat haknya lalu boleh menggunakan haknya secara bebas? Ingat, walaupun kita telah mendapatkan hak kita, tetapi kita sebagai manusia susila harus tetap memikirkan bahwa, kita di dunia ini tidaklah hidup sendirian. Kita hidup dengan berinteraksi dengan orang lain. Jadi dalam menjalankan hak kita, kita harus tetap memikirkan kepentingan orang lain. Jangan sampai kita merugikan orang lain.

Jadi sebaiknya kita bisa mendahulukan kewajiban kita dahulu, baru hak kita. Karena memang seharusna hal itu lah yang diterapkan dalam kehidupan kita sebagai manusia, dan tetaplah memperhatikan kepentingan orang lain dalam melaksanakan hak dan kewajiban.
Gio/XI-F/22

Key_4n9 mengatakan...

Individualisme di dalam kehidupan manusia sangat erat kaitannya. Maanusia memiliki sifat egois yang telah melekat di dalam jiwa masing-masing manusia itu sendiri. Sifat individualisme manusia merupakan sifat dasar kita sebagai manusia normal pada umumnya. Individualisme yang diartikan oleh Pater Christopher Gleeson, S.J memang benar, sikap individualisme manusia memang cenderung menekankan hak-hak pribadi kita dibandingkan dengan tanggung jawab yang harus kita pikul. Hal ini tentu menyebabkan ketidakseimmbangan antara hak dan kewajiban kita. Manusia cenderung ingin selalu hidup dengan tidak bersusah payah, selalu menginginkan sesuatu yang mudah tetapi tidak mau melakukan timbal balik dari hal-hal yang telah didapatkan. Ketidakseimbangan ini tentu merugikan semua orang. Sifat individualisme yang ditimbulkan oleh sifat egois dalam diri manusia itu membuat kehancuran bagi diri sendiri dan juga orang lain.
Keseimbangan hak dan tanggung jawab harus selalu dijaga agar membuat kehidupan ini menjadi lebih mudah dan bermanfaat. Sebab keseimbangan ini membuat kita sebagai manusia menyadari bahwa setiap kita diminta untuk melakukan sesuatu hal pastilah kita diberi hak-hak yang dapat mendukung kita dalam melakukan hal itu dan sebagai gantinya kita harus melakukan hal itu sepenuh hati sesuai tanggung jawab yang diberikan kepada kita. Keseimbangan hak dan tanggung jawab inilah yang membuat timbal balik yang saling menguntungkan antar sesama manusia bukan sikap individualisme yang cenderung menguntungkan diri sendiri tetapi tidak orang lain.

Dibuat oleh :
Kevin Angga
XI-F / 27

Andre Nicolas Immanuel mengatakan...

Menurut saya, individualisme dipengaruhi oleh kemajuan teknologi yang membuat kebutuhan semakin beraneka ragam. oleh, karena itu, hal ini dianggap lumrah dalam masyarakat kini ketika seseorang menuntut haknya daripada kewajibannya.

Namun, tetap saja manusia adalah makhluk sosial. Jadi, manusia akan selalu membutuhkan orang lain untuk mempertahankan hidupnya. Maka, sudah seharusnya sifat egoisme dan individualisme harus dipangkas ketika kita berhubungan dengan orang lain, baik keluarga, teman, ataupun dalam masyarakat. Sehingga, keseimbangan dan keharmonisan itu tercipta.

Selain itu, saya kurang setuju dengan pernyataan apa yang baik adalah yang menuguntungkan. Terkadang, hal yang baik malah muncul dari hal yang 'merugikan'. Sehingga, pernyataan ini menurut saya kurang tepat.

Andre Nicolas Immanuel XI-C / 5

Randianto mengatakan...

Menurut saya, sikap individualisme tidak boleh sampai melangkahi tanggung jawab kita, karena tanggung jawab adalah aspek penting dalam pembentukan kepribadian manusia yang kuat. Kalau kita tidak pernah bertanggung jawab dan hanya bersikap individualis, "semau gue", "yang penting enak" dsb, maka kita tidak akan pernah merasakan bagaimana caranya mengatasi berbagai kesulitan. Inilah yang akan membuat kita menjadi manusia yang lemah.

Namun, disisi lain individualisme yang terbatas juga diperlukan, tapi hanya dalam bidang-bidang tertentu saja, agar kita tidak disetir oleh "tangan-tangan" yang berpotensi mengendalikan kita, seperti orang-orang yang ingin memanfaatkan kita ataupun cengkeraman lembaga ekonomi terhadap idealisme filosofis dan kesenian.

Randianto Susilo / XI C / 31

pgumulia mengatakan...

individualisme memang sudah menjadi sikap yang merebak di masyarakat(terutama di Indonesia). Menurut pendapat saya, sikap individualisme harus ditekan.
Kita pun seringkali menuntut segala hak-hak kita dan melupakan tanggungjawab kita masing-masing. Padahal hak tersebut semestinya kita peroleh setelah tanggung jawab kita laksanakan atau penuhi.

Perlu kita semua ingat pula bahwa kita tidak dapat hidup sendiri. KITA SEMUA MEMBUTUHKAN ORANG LAIN.
Pola yang seringkali kita lihat selama ini adalah teman-teman atau sesama kita dianggap hanya sebagai OBAT BATUK. kita seringkali mencari sesama kita di saat sedang dibutuhkan saja yang biasanya di saat duka. Pada saat suka, teman atau sesama atau bahkan sahabat dibiarkan begitu saja.

Yang ingin saya sampaikan sebenarnya bukanlah kita harus selalu mengutamakan kepentingan sesama, tetapi lebih kepada BERTANGGUNGJAWAB dan PEDULI terhadap kepentingan bersama.
Kita semua sebagai manusia hidup bersama, selalu melakukan hubungan timbal balik, selalu ada "take and give" satu sama lain.

hidup sendirian, siapa yang bisa?
Peter Hansel Gumulia XIC/30

Andrew mengatakan...

Menurut saya, apa yang dikatakan oleh pastor Christopher Gleeson, SJ itu sangat kelihatan sekali di masyarakat kita sekarang ini terutama di masyarakat Indonesia. Individualisme di Indonesia semakin menjadi-jadi dengan adanya korupsi.
Namun, ketika seseorang masuk ke dalam suatu kelompok yang biasa kita sebut dengan masyarakat harus bisa membuang rasa individualisme-nya. Dimana kita adalah makhluk sosial atau zoon politicon.Manusia bukanlah makhluk individual, Tuhan menciptakan kita supaya kita bisa menolong orang lain yang membutuhkan kita, bukan hanya untuk mementingkan diri kita sendiri. Kita harus melihat banyak orang yang jauh lebih membutuhkan daripada kita. Jika kita terus menerus melihat ke atas, kita tidak akan merasa puas. Lihatlah ke bawah, maka kita akan bersyukur dengan apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita.Setelah bersyukur dengan apa yang kita miliki, kita mencoba membantu orang-orang yang kurang beruntung sebisa kita. Namun, memang sekarang apa yang dianggap oleh orang kebanyakan hal yang baik bagi mereka adalah hal yang menguntungkan. Namun, hal yang menguntungkan dan baik tersebut harus dicapai setelah melakukan kewajiban atau tanggungjawab yang diberikan kepada kita. Tidak dengan hanya berpangku tangan saja dan mendapat hasil yang menguntungkan.

Andrew Halim XI-C/6

Yohanes mengatakan...

Yohanes Rico / XI-C / 38

Sering kali orang lebih menuntut haknya, tapi bila disuruh bertanggungjawab mereka saling melemparkan tanggungjawab pada orang lain (tidak mau repot). Misalnya pada masa ini banyak orang yang sedikit-sedikit melakukan demo, tapi belum tentu orang yang berdemo itu bisa menjalankan kewajiban yang dibebankan pada dirinya (tidak disiplin dalam bekerja, sering menunda pekerjaan).

Orang yang mempunyai hak yang lebih seringkali menyalahgunakan hak yang mereka miliki, dan lupa bahwa mereka juga mempunyai kewajiban yang lebih besar. Dengan kata lain lebih mementingkan sikap individualisme. Bila kita mempunyai sikap individualisme yang berlebihan dalam diri kita bisa-bisa kita tidak memiliki orang yang mau membantu kita lagi, karena kita tidak mau membantu orang lain.

Sikap individualisme terkadang juga diperlukan untuk kemajuan diri kita sendiri. Setiap manusia pasti memiliki sikap ego untuk mendahulukan kepentingan diri sendiri baru memikirkan kepentingan orang lain. Karena kalau terus-menerus kita memperhatikan kepentingan orang lain terlebih dahulu rasa-rasanya untuk diterapkan di zaman modern ini sangatlah sulit.

Jadi, segala sesuatu harus dilakukan secara seimbang, sesuai porsinya. Tidak selalu merugikan orang lain dan juga tidak selalu menguntungkan diri sendiri.

edo mengatakan...

Menurut saya apa yang dikatakan oleh pater Chrisopher sangatlah tepat. Kita lebih sering bersembunyi dari tanggung jawab kita dan lebih suka menerima hak kita. Dari kebiasaan ini memunculkan sikap kita yang individualis, yaitu sikap buruk manusia yang lebih mementingkan egoismenya dibanding rasa sosialnya. Hal ini sangatlah bertentangan dengan apa yang dimaksudkan Tuhan. Karena Tuhan telah menciptakan manusia berpasangan dengan maksud agar dapat hidup bersama dengan orang lain. Sehingga kita tidak akan melaksanakan maksud Tuhan kepada kita. Selain itu dalam menerima hak hendaknya kita tidak berlebihan dan harus diimbangi dengan tanggung jawab yang telah kita lakukan, bahkan Yesus sendiri mengajarkan agar manusia lebih baik memberi daripada menerima. Bila disangkutpautkan dengan artikel ini maka apa yang dimaksud oleh Yesus adalah kita harus melakukan kewajiban dan tanggung jawab lebih banyak dibanding menerima hak. Hal itu harus dilakukan karena mengingat kita adalah manusia yang hidup dengan bebas di bumi maka tidak hanya harus menerima hak, tetapi kita harus menjalankan kebebasan yang diberikan Tuhan dengan penuh tanggung jawab.

Sekian pendapat dari saya,

Edward Emanuel XIC/15

Kevin mengatakan...

Saya sangat setuju dengan pendapat Pastor Christopher Gleeson, SJ. Menurut saya individualisme adalah sifat manusia yang ingin terlihat lebih unggul dibanding dengan orang lain, sehingga ia tidak mau membantu teman - temannya.

Kita tidak seharusnya bersikap individualisme. Kita harus ingat bahwa kita hidup sebagai makhluk sosial, maka kita harus mau menolong teman.

Memang benar bahwa kita diberi kebebasan dalam bersikap. Namun sebaiknya kebebasan itu jangan sampai membuat kita bersikap egois terhadap teman - teman kita.

Kevin XI.C/25

Erick mengatakan...

Menurut saya,individualisme dalam hal ini adalah individualisme yang berlebihan. Dalam hal ini sikap individualisme yang dimaksud adalah kebebasan yang tidak mempedulikan orang lain dan keadaan sekitar. Kebebasan yang seperti ini adalah kebebasan yang egois. Egois karena yang paling diutamakan adalah kepentingan diri sendiri tanpa memandang intensitasnya dengan kepentingan umum.

Sebagai makhluk sosial, kita punya tanggung jawab untuk membangun pribadi bersama dengan orang lain. Dengan tujuan ini, Allah menciptakan setiap manusia untuk hidup bersama, hidup berkelompok, agar dapat mengembangkan pribadi masing-masing sehingga dapat memenuhi perannya masing-masing sebagai citra Allah. Tanpa orang lain, kita tak dapat berkembang maksimal. Contohnya murid membutuhkan guru agar ia dapat menguasai suatu bidang pembelajaran tertentu dengan baik, pasien membutuhkan dokter agar ia segera diobati lalu sembuh sehingga bisa beraktivitas secara optimal lagi. Di lain sisi, sebagai makhluk sosial, Allah juga memberikan kebebasan / hak kepada manusia untuk mengembangkan pribadinya berdasarkan keinginan pribadi mereka dan cara mereka sendiri.

Namun perlu diingat kembali, dalam pemenuhan hak ini, kewajiban sebagai citra Allah juga sama pentingnya, sehingga kita tidak boleh berat sebelah, apalagi terlalu menguntungkan diri kita sendiri dan merugikan orang lain. Individualisme tetap ada karena manusia punya pribadi yang sifatnya private. Tapi hendaknya individualisme tidak diprioritaskan sehingga sebagai manusia, kita dapat tumbuh optimal bersama sesama.
Frederick Adhi Putranto XIC/20

alfred_k mengatakan...

Saya sangat setuju mengenai pendapat yang dituliskan oleh pater Christopher. Individualisme telah membuat suatu komunitas dimana orang-orang hanya mendefinisikan kata baik dan bagus ketikahal tersebut menguntungkan bagi mereka. Mereka cenderung ingin menghindari tanggung jawab dengan cara membebankan tanggung jawab tersebut pada orang lain. Yang sebenarnya harus dilakukan di sini adalah menyadarkan bahwa sebenarnya tanggung jawab pribadi memang harus ditanggung sendiri dan jangan membebankan orang lain. Karena dengan membebankan orang lain dengan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita akan mempersulit orang lain.
Alfred Kusuma XIF/4

eduardus.ivan mengatakan...

ya, memang benar..
individualisme yang hanya menekankan kepentingan sendiri membuat manusia hanya berpikir 'segala sesuatu yang penting menguntungkan.'

terkadang, hal itu menjadikan mereka lupa terhadap tanggung jawab atas segala hak yang telah didapatkan. tentu hal ini memberi efek yang tidak menyenangkan. manusia cenderung menjadi egois, hanya mau 'enaknya' tanpa memikirkan apa yang bisa diakibatkan oleh perbuatannya. hak dan tanggung jawab tidak berjalan secara seimbang.

banyak orang yang hanya meminta hak tanpa memikirkan tanggung jawabnya. tapi, bila kita melihat lebih jauh lagi tidak sedikit orang yang sudah menjalankan tanggung jawabnya secara benar mendapatkan hak kurang dari porsinya. misalnya saja buruh-buruh atau TKI yang tidak mendapat tunjangan hidup sesuai dari atasannya. padahal atasannya telah mendapatkan haknya oleh jasa mereka. inilah individualisme. karena banyak orang lebih sering menuntut hak, membuat hak orang lain terabaikan.

tetapi, tidak selalu apa yang disebut individualisme membawa dampak negatif. ada beberapa hal yang memang harus dilakukan secara 'sendiri'. sesuatu yang tepat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. kita butuh orang lain! namun ada kalanya sendiri menjadi jauh lebih baik...

*eduardus ivan xic/14

Johan mengatakan...

Manusia, sepanjang hidupnya, mempunyai 2 hal yg saling bertolak belakang yg harus seimbang perlakuannya.. Hal ini yaitu adalah Hak dan Kewajiban.

Manusia perlu sekali menyeimbangkan antara hak dan kewajiban yg dimilikinya. Jika hanya salah satu yg dilakukan, maka akan terjadi ketidakseimbangan di dalam kehidupannya sebagai manusia.

Nah, individualisme sendiri merupakan salah satu contoh ketidakseimbangan yg terjadi antara hak dan kewajiban. Individualisme dapat diartikan sebagai sikap yg hanya mementingkan diri sendiri tanpa rasa tanggung jawab. Hal ini berarti ia hanya mementingkan hak dan ego-nya, namun tanpa mementingkan kewajiban dari dirinya sendiri. Sikap seperti ini yg menurut saya harus dihindari. Sikap individualisme yg terlalu tinggi akan membuat seseorang mengalami kesulitan dalam mengembangkan pribadinya sebagai Man for and With Others, dan membuat orang tersebut banyak tidak disukai dalam masyarakat.

Maka sebenarnya, kita sebagai manusia harus tepat memilih mana yg harus kita lakukan dengan rasa tanggung jawab, tanpa melupakan kewajiban kita sebagai manusia itu sendiri.

Johan M Sinaga
XIC/24

Aditya mengatakan...

Saya tidak setuju terhadap pendapat Pastor Christopher Gleeson yang menyatakan bahwa individualisme mendefinisikan apa yang baik sebagai apa yang ‘menguntungkan’. Arti sebenarnya dari individualisme adalah pandangan yang mengutamakan kebebasan dan tanggung jawab individu. Namun arti tersebut berubah saat kebanyakan orang lebih mengutamakan kebebasan yaitu hak-hak mereka dibanding tanggung jawab atau kewajiban mereka terhadap sesama atau bahkan diri sendiri. Pada hal ini individualisme lebih cenderung mengarah kepada egoisme dibanding liberalisme.

Kebanyakan orang lebih suka melakukan sesuatu yang menguntungkan diri sendiri, seenaknya melupakan kewajiban, dan dengan semangat menuntut hak mereka. Kita seharusnya lebih menyeimbangkan hak dan kewajiban kita, bahkan kalau bisa lebih mengutamakan kewajiban dibanding hak agar tercipta keseimbangan di dalam masyarakat.

Selain itu, walaupun sebenarnya individualisme diperlukan untuk meningkatkan kekreatifan dan semangat bersaing yang sehat, kita sebaiknya lebih meningkatkan rasa kepedulian, tenggang rasa dan rela berkorban, semangat kebersamaan, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial.

Aditya A. S.
XI-f / 1

franky mengatakan...

menurut saya pendapat romo Christoper Gleeson amat benar.
keinginan manusia untuk hanya menerima hak tanpa melakukan kewajibannya terlebih dahulu tidak dapat dibenarkan, dan sayangnya hal inilah yang banyak terjadi dalam struktur masyarakat kita. perilaku seperti ini sering kita sebut sebagai individualisme dan parahnya lagi hal seperti ini sudah dianggap lumrah karena adanya pergeseran nilai dan norma.
manusia seyogyanya harus memperhatikan dan peduli terhadap kepentingan bersama dari kepentingan pribadi, bila tidak hubungan antar masyarakat akan rusak terlebih lagi dengan Tuhan.
meskipun di lain sisi, individualisme justru diperlukan, tapi dalam hal-hal tertentu saja dan dalam konteks yang positif. individualisme diperlukan untuk semakin meningkatkan kinerja pribadi dan kelompok yang pada akhirnya akan bermuara pada inovasi baru untuk kepentingan bersama.

Intinya, individualisme berebihan itu tidak baik apalagi dengan mengesampingkan kewajiban dan hanya menuntut hak saja. jadi apa yang harus kita lakukan sebgai kanisian yang baik? yang harus kita lakukan ada 3 hal, melakukan semua kewajiban kita, menerima dan mengoptimalisasikan segala hak kita dan membatasi sejauh mana tingkat individualisme yang ada dalam diri kita.

sekian komentar dari saya..


~franky wirianto_XIc_19~

Ray mengatakan...

Saya sangat setuju dengan pendapat Romo Christoper.
Kerap kali kita mengesampingkan tanggung jawab kita dan hanya menikmati hak-hak kita saja. Hal ini membuat kita menjadi tidak peduli akan tanggung jawab kita masing-masing, dan hanya memikirkan diri kita sendiri, dengan kata lain individualisme.

Individualisme memang merugikan diri kita sendiri dan terlebih orang lain. Individualisme membuat kita cenderung hanya memikirkan 'keuntungan' bagi diri kita sendiri. Kita menjadi tidak peduli dengan keadaan orang lain, yang mungkin menderita karena perbuatan kita menuju 'keuntungan' tersebut. Hal ini patut kita hindari sepenuhnya. Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi sesama, seperti yang telah ditunjukan oleh kasih-Nya kepada kita semua.

Bukan berarti kita tidak boleh mendapatkan hak-hak dan keuntungan untuk diri kita, namun kita tetap harus memenuhi tanggung jawab kita dalam usaha mendapatkan hak dan keuntungan tersebut. Sebisa mungkin, perbuatan kita tidak membuat orang lain menderita atau merugi karena kita. Berusaha maksimal dengan penuh tanggung jawab.

Ray Chandra XIF/33

Steven mengatakan...

Individualisme merupakan hal yang kita jumpai sehari-hari baik di lingkungan sekolah,keluarga,maupun dalam masyarakat luas.
Sebagai contoh sederhana,individualisme yang terjadi di kalangan pengguna jalan di Jakarta.Pengendara mobil,pengendara sepeda motor,pengendara kendaraan umum sekalipun sering kita lihat masih menunjukan sikap individualisme yang berlebihan di jalanan.Sikap-sikap itu contohnya : sikap mau menang sendiri yang ditunjukan dengan tidak maunya para pengendara berbagi dengan pengguna jalan yang lain sehingga menimbulkan kemacetan yang begitu parah.Sikap lainnya yaitu sikap tidak mau bersabar menunggu atau mengantri bila di jalanan sedang macet atau sedang antre.Banyak para pengendara yang bersungut-sungut dan emosi menghadapinya.
Benar apa yang dikatakan oleh Pastor Christopher Gleeson, SJ bahwa individualisme hanya mengutamakan kepentingan pribadi dan membuat kita lupa dengan tanggung jawab dan hal-hal lainnya yang menyangkut kepentingan bersama.
Sikap individualisme ini menurut saya disebabkan oleh tumpulnya Suara Hati di dalam individu-individu yang bersangkutan.Dalam menilai suatu kejadian yang konkret,Suara Hati manusia pasti membawa kita ke jalan yang benar.Memang keputusan Suara Hati tidak mudah untuk dilaksanakan karena biasanya Suara Hati kita mengharuskan kita melakukan sesuatu yang tidak kita suka.Tetapi bagaimanapun,Suara Hati membawa kita ke jalan yang benar.Biasanya manusia sering bertindak di luar Suara Hatinya sendiri.Kita sering melakukan hal yang kita anggap benar saja.Sikap ini sebenarnya membuat suara hati kita tumpul.
Suara Hati yang tumpul inilah yang membuat kita menjadi lebih indivualistis.
Sikap individualisme ini bisa kita perbaiki dengan cara mau membuka diri terhadap sesama dan lebih peka lagi terhadap Suara Hati kita.

Steven XI-C/35

DNICHO mengatakan...

Menurut saya individualisme seseorang adalah sebuah bagian dari kehidupan yang dimiliki setiap manusia tanpa dapat dibantahkan. Sebaik-baiknya orang, tentu tetap memiliki sisi individualisme yang juga dapat berfungsi sebagai variasi-variasi kehidupan. Seperti yang dikatakan oleh Pastor Christopher Gleeson, SJ, bahwa bila kita terlarut dalam keinginan untuk memperoleh hak-hak pribadi tentu nya kita dapat melupakan tanggung jawab pribadi, Itulah cerminan sisi individualisme manusia.

Tapi sudah menjadi sebuah kepastian bahwa sebelum hak-hak itu ingin didapat kita harus menyelesaikan tanggung jawab kita terlebih dahulu. Jadi semuanya ada aturannya.

Pastor Christopher Gleeson adalah seorang pastor yang sangat mementingkan prioritas untuk menghargai adanya sebuah hak dan tanggung jawab dengan pertentangan terhadap individualisme. Apalagi dijaman yang semakin keras ini orang-orang makin bertingkah semaunya sendiri. Inilah yang menyebabkan individualisme manusia bertambah tinggi.

Seharusnya kita memiliki sikap yang menghargai keduanya sebagai bagian dari pencitraan hidup kita semua. Setiap yang ingin mendapatkan hak harus melaksanakan tanggung jawab terlebih dahulu. Yang paling penting adalah kita sebagai makhluk yang tidak dapat hidup sendiri harus bisa meletakkan hak dan tanggung jawab pada tempatnya agar keseimbangan kehidupan pada lingkungan hidup kita tidak goyah.

Nicholas Hadi

XIC/27

Yohanes mengatakan...

Saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh Lih.Christopher Gleeson, SJ., karena sifat dasar semua manusia sama, yaitu individualistis dan egois.

Tetapi semua itu harus kita hilangkan secara perlahan,dengan cara lebih mengutamakan kewajiban dibanding menerima haknya.Karena dengan melaksanakan semua kewajiban kita otomatis kita akan mendapat hak sesuai dengan yang seharusnya.Memang dengan berbagai sifat individualistis atau egois kita lebih melihat terlebih dahulu dan menimbang-nimbang apakah sesuatu itu menguntungkan atau tidak bagi diri kita sendiri. Pendapat itulah yang seharusnya kita ubah, dengan melihat apakah suatu hal tersebut berguna atau bermanfaat bagi orang sekitar kita dan diri kita sendiri.

Seperti yang pernah disampaikan oleh presiden Amerika Serikat, John F.Kennedy, yang mengatakan bahwa jangan bertanya apa yang dapat diberikan oleh negara kepada kita tetapi apa yang dapat kita berikan kepada negara. Dari semboyan tersebut dapat disimpulkan bahwa kita harus mendahulukan kepentingan orang lain atau memberikan sesuatu terlebih dahulu daripada memikirkan apa yang akan kita peroleh (take and give). Seperti prinsip memberi dan menerima. Kita tidak dapat berpikir untuk menerima terus menerus dari orang lain tanpa pernah memberi sekali pun.
Yohanes Sugihtononugroho X1c-39

ERIK_XIC/16 mengatakan...

Menurut saya kita sebagai manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama. Kita tidak bisa mementingkan diri sendiri atau mengatakan,"gua ya gua, lu ya lu". Sejak kecil kita sudah diajarkan tentang hak dan kewajiban yaitu seseorang harus menjalankan kewajibannya baru bisa menuntut hak, tidak terus-menerus menuntut hak. Individualisme dapat merusak kepribadian. kita perlu mengutamakan kebersamaan karena manusia yang merupakan makhluk sosial perlu memiliki teman dan tidak bisa mementingkan diri sendiri karena lama-kelamaan tidak akan mungkin kita terus mementingkan diri karena tidak mungkin ada orang yang akan terus membantu orang yang terus menuntut haknya

aditz mengatakan...

Menurut saya, individualisme sebagaimana yang dibicarakan telah merajalela dalam diri kita sebagai manusia. Seringkali kita bertindak sesuai dengan yang kita inginkan karena kita selalu merasa bahwa ini merupakan hidup kita dan yang harus menentukan adalah kita pula.
Saya ingin mengatakan bahwa ini sangatlah SALAH karena kita diciptakan untuk menikmati dan menjalani hidup bukan menentukan hidup. Jika kita berpikir demikian, pastilah kita dapat dengan mudahnya menerima apapun masalah atau halangan dalam hidup.


Juga seperti yang dikatakan oleh Christopher Gleeson, SJ bahwa individualisme membuat kita berpikir bahwa yang baik bagi kita adalah sesuatu yang menguntungkan bagi kita. Dengan ini, mulai muncul sikap keegoisan yang akan membuat kita terpuruk nantinya. Kita dapat melihat ini dalam minat belajar kita. KIta seringkali berpikir bahwa perlu ada keseimbangan antara belajar dan bermain. Namun seringkali kita lupa pada komitmen ini. Dan hasilnya kita lebih cenderung banyak bermain dan melupakan kewajiban kita untuk belajar. Ini juga yang menyebabkan kita tidak bertanggung jawab atas apa yang telah kita lakukan. Tanpa adanya kesadaran untuk lebih bertanggung jawab pastilah nantinya kita akan rugi sendiri dan juga orang lain pasti ikut dirugikan.


Kita dapat mengatasi rasa individualisme ini dengan semangat Kanisian yaitu 3C (Competence, Conscience, and Compassion). Dengan semangat ini, kita akan lebih peduli dengan orang lain dan juga kita mulai dapat bertanggung jawab. Dalam hal COmpetence, kita dituntut untuk dapat menyalurkan kemampuan otak (intelejensi) kita kepada teman - teman yang kesulitan dalam hal ini. Kedua, dalam Conscience, kita dituntut untuk bertindak sesuai hati nurani. Disini kita dilatih untuk dapat mendengarkan suara hati kita dan bertanggung jawab. Misalnya, kita berada dalam situasi dimana kita harus memilih 1 opsi di antara 2 opsi. Saat kita menentukan mana opsi yang kita pikir benar maka kita harus bersedia menerima apapun konsekuensi atau risikonya. Dengan hal inilah, kita dapat membuktikan apakah diri kita sudah dapat dikatakan bertanggung jawab atau tidak. Dan untuk yang terakhir, Compassion. Dari sikap ini kita dituntut untuk peduli pada sesama. Dan dari 3 hal pokok inilah, kita dapat menjadi orang yang lebih bertangggung jawab dan tidak egois.


Aditya P. / XI-F / 2

Sano mengatakan...

Menurut saya, individualsime adalah suatu sifat yang merupakan kelemahan yang sangat besar yang sebagian besar masyarakat Indonesia miliki. Saya setuju dengan pendapat Lih.Christopher Gleeson, SJ, yang mengatakan bahwa "Apabila kita bersembunyi di belakang hak-hak kita, kita kerap kali 'melupakan' tanggung jawab kita." Pendapat itu sangat mencerminkan perilaku masyarakat indonesia, dalam hal ini, saya tekankan kepada masalah lalu lintas di jakarta.

Banyak orang berpendapat bahwa untuk melaksanakan kewajibannya, mereka berhak untuk mendapatkan haknya terlebih dahulu sehingga dapat melaksanakan kewajibannya lebih baik. Tetapi menurut saya hal itu sangat salah, dan semakin sering hal tersebut dilakukan, semakin besar kelakuan MANJA seseorang dan juga semakin besar tingkat ketergantungannya. Dalam hal ini, saya ingin menghubungkan dengan keadaan lalu lintas jakarta. Sering kali kita melihat Jakarta macet, dan jarang juga kita sadar bahwa hal itu terjadi karena masyarakat jakarta jauh lebih mementingkan hak haknya, yaitu untuk mendapatkan kenyamanan di jalanan, dan juga hal itu, sifat individualisme merekapun meningkat pesat. Sehingga yang terjadi di jalan adalah, 1 sama lain sulit untuk mengalah, kebanyakan pengendara sepeda motor ingin cepat sampai tujuan sehingga menggunakan segala jenis cara seperti memotong jalan untuk memutar yang bisanya akan membuat macet dan sulit bergeraknya kendaraan lain.
Meskipun terdengar sangat simpel, tetapi sebenarnya masalah tersebut sangat berpengaruh pada kehidupan sehari hari, contohnya, pengendara sepeda motor yang seperti yang saya sebutkan diatas tadi biasanya berlaku seenaknya bila di rumah, maupun di tempat tempat lain, seakan akan hanya dia saja yang ada disitu. Suatu saat, orang yang meiliki sifat Individualisme yang sangat tinggi seperti itu akan semakin dijauhi oleh orang orang lain karena kebanyakan tindakannya juga merugikan orang lain, dan ama lama juga akan merugikan diri sendiri meskipun menguntungkan pada awalnya.
Tetapi tetap saja, seorang manusia memang tidak bisa hidup tanpa sifat individualismenya, karena itu, menurut saya sebaiknya sifat ini tidak perlu dihilangkan, melainkan dikurangi. Banyak cara untuk mengurangi sifat individualisme seseorang yang berlebihan, contohnya adalah dengan mengikuti kegiatan kegiatan berkelompok, misalnya kegiatan kerja bakti, live in, dan lain lain. Contoh kongkrit yang dapat kita terapkan untuk mengatasi contoh seperti pengendara sepeda motor diatas adalah, dengan lebih mengikuti dan peduli terhadap peraturan, dan lebih banyak mengalah kepada orang lain.
Sekali saya pernah mendengar di radio, Orang Jepang rela memutar lewat jalan yang lebih jauh demi tidak merepotkan kendaraan dibelakangnya. Dari contoh ini, bisa dilihat bahwa sifat individualisme warga jepang sangatlah kecil, dan mereka juga memiliki rasa compassion yang sangat tinggi. Mereka menjalankan kewajibannya terlebih dahulu yaitu dengan mengikiuti peraturan jalanan dan mendapatkan haknya kemudian yaitu merasakan jalanan yang nyaman.
Bila saja masyarakat indonesia dapat menjadi seperti mereka dengan mengurangi sifat individualisme dan meningkatkan rasacompassion, tidak butuh waktu lama dan Indonesia pun dapat menjadi negara maju seperti Jepang, karena secara tidak langsung, masalah seperti korupsi pun akan berkurang drastis.


Fransiscus Rosano Adi Prakoso
XIF/19

HitMan mengatakan...

Menurut saya individualisme merupakan suatu paham mengenai kemerdekaan seseorang menjalankan hak dan tanggung jawab mereka, dalam hal ini hal dan tanggung jawab harus dilakukan secara adil.

Tanggung jawab merupakan hal yang harus dilaksanakan terlebih dauhulu, barulah kita mendapatkan hak kita. Misalnya, seseorang yang berprofesi sebagai pemain sepak bola, pemain sepak bola proffesional bertanggung jawab untuk merawat kondisi badan dan terus berlatih untuk melatih kemampuannya. Jika sudah berlatih dengan keras maka ia bisa menjadi pemain yang hebat karena dia bisa tekun berlatih. Maka, karena kemampuannya dia bisa berprestasi dan berhak mendapat kenaikan gaji atau ia akan diingat selalu oleh para pendukunganya. Intinya, "No Pain, No Gain" jika kita tidak berusaha melaksanakan tanggung jawab kita, kita tidak akan mendapat hak kita secara utuh.

Pada dasarnya memang kita semau di wajibkan untuk melakukan tanggung jawab kita terlebih dahulu, dan kita harus bisa memakai individualisme kita dengan sebaik-baiknya, karena manusia juga tidak akan pernah bisa tumbuh dan berkembang jika tidak mementingkan individualisme sendiri.

Kita sebagai manusia yang hidup dalm suatu lembaga masyarakat juga harus bisa mengimbangi antara individualisme dan kepentingan bersama atau dalam masayarakat. Jika individualisme saya merugikan orang banyak, maka itu bukan hal yang bijak untuk dilakukan.

Jadi, menurut saya, individualsime kita harus kuat namun kita juga harus bisa memilih kapan kita melaksanakan individualisme kita atau kapan kita mementingkankan kelompok. Satu hal yang pasti, adalah bahwa kita harus bisa mengimbangi tanggung jawab dan hak kita dah tidak bersembunyi dalam hak-hak kita.

Saya Arnold Adinugroho
XI F / 6

Napsky mengatakan...

Menanggapi mengenai hal "Hak dan Tanggung Jawab" sudah sepantasnya kita berpikir bahwa hak dan tanggung jawab haruslah seimbang. Dapat kita lihat bahwa sebenarnya berbagai persoalan di masyarakat berakar dari hal ini. Banyak orang yang melalaikan tanggung jawabnya tetapi berani berbuat apa saja untuk mempertahankan haknya, tidak heran bila banyak orang - orang yang dirugikan dengan perilaku seperti ini.
Saya ambil sebagai contoh, banyak orang yang mempertahankan haknya untuk dibayar atas pekerjaannya (diberikan gaji),namun tidak sedikit pula dari orang - orang ini yang bekerja seenaknya, dengan kata lain ia hanya berpikir bahwa ia dibayar, tidak peduli apakah pekerjaanya itu baik atau tidak. Maka untuk masalah seperti ini, banyak perusahaan yang memberikan gaji berdasarkan hasil usahanya bukan karena asal bekerja.

Individualisme, seperti pendapat dari Pastor Christopher Gleeson, SJ, adalah sesuatu yang salah. Orang yang menganut paham ini akan merusak orang lain dan keadaan sekitarnya dan terutama dirinya sendiri, sebab bila prinsip individualisme ini dipegang teguh oleh orang tersebut, maka seumur hidupnya ia hanya mencari keuntungan bagi dirinya sendiri dan melupakan hal - hal lainnya yang lebih penting. Akan muncul keegoisan dalam hidupnya, bila hal ini berlangsung terus menerus, maka perlahan - lahan orang lain akan mulai menyadari kekurangannya dan mulai menjauhinya, apalagi bila ia berusaha mengambil keuntungan yang sebanyak - banyaknya dari semua orang yang dijumpainya, apalagi orang terdekatnya, misalnya keluarga.

Agar kita dapat menghindari, mengurangi bahkan menghilangkan paham seperti ini, kita harus mengajak orang lain di sekitar kita
untuk melihat kehidupan ini. Apakah tujuan kita hidup? Apakah hanya untuk kesenangan kita lalu meninggal? Apakah tidak ada orang lain yang berada di sekitar kita? Kita hidup tidak untuk kesenangan dan keuntungan kita saja, kita harus bisa untuk melayani orang lain dari sekarang, seperti hati nurani kita yang harus dilatih (seperti dalam 3C), sebab bila kita melakukan hal demikian, kita tidak hanya menyenangkan orang lain dan diri sendiri, tetapi kita juga menyenangkan Tuhan, sehingga kita akan terlatih untuk lebih banyak memberi daripada menerima dan kita akan memberkati orang lain.

Sekian komentar dari saya,
Maldy Vinandar Agavia ,XIF / 30

Ardeno mengatakan...

Menurut saya, individualisme identik bahkan dapat didefinisikan sebagai sikap egois. Berdasarkan katanya, individualisme berasal dari kata 'individual' yang artinya perorangan (diri sendiri) sedangkan 'isme' artinya suatu pemahaman atau pemikiran. Seperti yang telah dituangkan oleh Pater Christopher Gleeson, SJ, individualisme mencerminkan hal - hal berikut :

- sembunyi di belakang hak dan melupakan tanggung jawab
-mementingkan hak - hak pribadi di atas kepentingan bersama
- menguntungkan diri sendiri

Sekarang ini, kebanyakan masyarakat di sekitar kita menonjolkan sikap individualisme. Mereka sembunyi di belakang hak - hak mereka; artinya mereka hanya ingin memperoleh hak - hak tersebut tanpa memikirkan apa yang menjadi tanggung jawab mereka. Dalam hal ini, kelompok individualisme berusaha melupakan semua tanggung jawab mereka demi tercapainya hak - hak pribadi mereka. (Tentu, hak - hak pribadi-lah yang mereka utamakan, bukan hak - hak atau kepentingan kelompok.) Selain itu, sembunyi untuk memperoleh hak serta melupakan tanggung jawab adalah sikap yang memalukan karena itu berarti kita berusaha memanfaatkan apa yang menjadi hak kita untuk menutupi kelemahan kita. Contoh konkret dalam kehidupan sehari - hari : salah seorang tim basket tidak mengikuti latihan bersama, dengan alasan untuk mengikuti kursus fisika. 1) Dia lebih mengutamakan kepentingan pribadi, 2) sembunyi dari hak-nya yaitu izin dari pelatih basket, dan 3) dengan melupakan tanggung jawabnya untuk berlatih rutin sebagai tim basket.
Banyak sekali kerugian yang kita peroleh jika kita masih mementingkan hak - hak pribadi kita. Bahkan dapat dikatakan hal itu dapat merusak diri sendiri dan orang lain sebab apa yang dianggap baik, dianggap sebagai sesuatu yang menguntungkan. Jika kita melihat lebih dalam, sosok individualisme telah salah dalam menilai sesuatu yang baik. Mereka menganggap bahwa apa yang menguntungkan mereka adalah yang 'baik'. Sehingga tak kala, membantu sesama, mengutamakan orang lain, dianggap sesuatu yang tidak baik karena menyusahkan diri sendiri. --> Melalui penjelasan di atas, kini kita tahu mana yang baik untuk kehidupan bersama. Selayaknya kita harus membuang jauh - jauh sikap individualisme dan lebih mengutamakan kepentingan bersama.
Sebagai makhluk sosial, kita saling membutuhkan orang lain dalam menjalani hidup ini. Entah berkumpul, menolong, bercerita, dll, kita pasti membutuhkan orang lain dalam berinteraksi. Jadi baiklah kita lebih mengutamakan kepentingan bersama agar tercipta kehidupan yang harmonis.
Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan untuk lepas dari sikap individualisme??? Pertama, kita harus membiasakan diri lebih mengedepankan kepentingan bersama dari hal yang kecil. Contohnya dalam kerja kelompok, berlatih basket, mengikuti ekstrakurikuler, membantu teman yang tidak membawa alat tulis, dan lain sebagainya. Yang cukup penting, bagaimana kita dapat mengaplikasikan apa yang sering ditekankan oleh Pater Sigit Widisana, SJ, yaitu "a man for and with others". Seorang laki - laki yang mampu hidup berbagi, berguna, dan untuk menolong orang lain. Dengan menerapkan kata bijak tersebut, kita pun dapat melepas sikap individualisme untuk mencapai kehidupan yang lebih harmonis.
-Ad Maiorem Dei Gloriam-


Ardeno Wibisatria
XI-F / 5

dimaz mengatakan...

Dimas Prawita XI F / 13

melakukan sesuatu hanya untuk kepentingan pribadi bukanlah suatu hal yang baik. tak kepedulian sedikitpun kepada orang lain. kita sebagai kanisian, diajarkan untuk mengembAngkan sikap peduli. mulai dari sekarang, sikap ini harus tertanam di hati kita..

dengan kita memikirkan ego kita saja, itu berarti kita tidak bertanggung jawab. kita tidak hanya bertanggung jawab terhadap diri sendiri saja, oranglain pun juga. tidak dibenarkan bagi seseorang untuk bersikap individualis.

manusia memang bebas untuk bersikap. tetapi hanya dengan memikirkan keuntungan sendiri, akan menganggu manusia yg lain. yang menguntungkan bagi kita, blum tentu menguntungkan bagi orang lain. ke depan, orang yang bersikap individualis, tidak akan berhasil. tanpa sosialisasi, orang yang bersikap individualis akan bekerja sendiri, tanpa bantuan orang lain.

mari bersama-sama kita berdoa baik bagi diri kita maupun bagi sesama kita agar kita tidak bersikap individualis. GBU.

Angga EP_XI C_7 mengatakan...

Tak dapat kita pungkiri, manusia memiliki individualisme. Menurut saya sifat ini tidak selalu bersifat negatif seperti yang selama ini di pikirkan orang. Karena dengan adanya individualisme, manusia bisa hidup mandiri dan berkembang. Akan tetapi, seringkali kita sebagai manusia lupa akan batasan-batasan yang ada. Sifat individualisme tersebut terlalu besar sehingga kita tidak peduli dengan dunia luar. Bahkan demi kepentingan kita sendiri seringkali kita lupa akan kepentingan orang lain sehingga merugikan banyak orang. Dan lagi karena terlalu besarnya individualisme, kita menjadi makhluk yang hanya menginginkan sesuatu tanpa berusaha. Kita memaksakan hak-hak kita atau bahkan hak-hak yang semestinya bukan milik kita tanpa melakukan kewajiban kita terlebih dahulu.

Jadi menurut saya, individualisme juga dibutuhkan oleh manusia untuk semakin berkembang. Namun sikap tersebut tidak boleh terlalu dominan.

Angga Eri Putra
XI C/7

Handri Winata mengatakan...

Saya setuju terhadap pendapat Pater Christopher Glesson yang mengatakan bahwa individualisme itu dapat merusak diri kita sendiri dan kepentingan umum. Saya berpendapat sama seperti itu karena individualisme mengajarkan dan membiasakan kita untuk bersikap egois dan tidak mau mengalah. Sikap seperti itu dapat merusak keharmonisan dalam pergaulan dan dapat merusak moral kita. Individualisme itu sendiri adalah paham atau ideologi yang cenderung mengutamakan kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan bersama. Sehingga, sangat penting kita mengutamakan kepentingan umum dibanding kepentingan pribadi.

Kita semua sebagai manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Orang lainpun sama. Ia tidak bisa hidup sendiri. Hal ini karena Tuhan menciptakan manusia tidak untuk sendirian, tetapi bersama-sama menjaga dan melindungi, serta melestarikan segala kekayaan alam yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Oleh karena itu kita tidak boleh menanamkan paham individualisme yang menganggap apa yang baik sebagai yang menguntungkan.

handri winata
XIF/23

Edwin mengatakan...

Individualisme seperti ini memang harus dicegah karena akan ada banyak pihak yang menerima efeknya. Jika ingin memperoleh hak, silahkan saja tapi harus dengan bertanggung jawab. Sama halnya dengan orang-orang khususnya orang-orang Indonesia. Kita diberi banyak sekali banyak kesempatan untuk bersuara dan mengklaim hak-hak kita, namun kita cenderung melakukannya dengan perbuatan-perbuatan yang anarkis. Krakter-karakter sperti inilah yang seharusnya kita hilangkan dari dalam diri kita. Jika ingin mengeluarkan pendapat ataupun meminta hak-hak kita yang lain, lakukanlah secara sopan dan terhormat.

Prioritas utama kita untuk memperoleh keseimbangan antara hak dan tanggung jawab adalah bagaimana kita dapat memposisikan diri kita sebagai pihak yang tidak diuntungkan, dalam hal ini adalah pihak yang menjadi korban kesewenangan orang yang tak tahu etika dalam memperoleh haknya.


Yohanes Edwin Subianto
XI F/41

ralvin - mengatakan...

Saya setuju dengan pendapat dari Pater Christopher Gleeson, SJ .

"Individualisme mendefinisikan apa yang baik sebagai apa yang 'menguntungkan'."
Menurut saya pribadi, individualisme merupakan sifat yang sering muncul dalam diri kita sebagai manusia, terutama sebagai seorang anak Jakarta. Dan pada kenyataannya, sikap individualisme ini dapat merugikan orang lain, karena seseorang yang memiliki sikap individualisme kerap kali tidak memperdulikan hak / kepentingan orang lain dalam bertindak.

Keseimbangan antara hak dan tanggung jawab manusia sangat berperan penting agar manusia dapat membuat hubungan yang saling menguntungkan 1 sama lain, dan dapat menghindari sikap individualisme yang kerap kali muncul tersebut.

Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk menghilangkan sifat "individualisme" tersebut, karena pada kenyataannya kita hidup sebagai makhluk sosial dimana kita memerlukan satu sama lain untuk saling melengkapi kekurangan yang kita miliki masing-masing.

Sekian komentar dari saya, maaf Pater saya telat mem-posting komentar ini, karena saya tidak masuk minggu lalu & baru tahu tugas dikumpulkan paling lambat hari ini.

Reinardus Alvin / XIC / 32

Septian mengatakan...

apa yang dikatakan oleh Christopher Gleeson, SJ sangatlah penting bagi kita semua.

kita sebagai manusia seharusnya mengedepankan apa yang disebut dengan kewajiban sebelum meminta hak. oleh karena itu, sifat indivdualisme merupakan hal yang berbahaya bagi kita semua. dengan individualisme, kita menjadi hanya memikirkan diri kita sendiri. kita menjadi acuh dengan apa yang ada di sekitar kita. kita juga tidak peduli apapun yang terjadi selama kita merasa nyaman dan tidak terganggu dengan apa yang kita lakukan.

walau begitu, individualisme bukanlah hal yang tidak diperlukan. sebagai manusia biasa, kita harus selalu berusaha untuk maju dan menjadi lebih baik. hanya saja kita tidak boleh terlalu mengedepankan kepentingan diri sendiri. kita harus selalu mengingat konsekuensi dari perbuatan kita.

sebagai kanisian, kita harus mengingat salah satu dari 3C yaitu COMPASSION. kita harus selalu berbagi dan membantu sesama kita dalam berbagai hal. oleh karena itu, kita harus selalu berhati-hati dalam bertindak dan berpikir jauh ke depan. perbuatan yang kita lakukan jangan sampai mengganggu orang-orang di sekitar kita.

Septian Chandrika XI-F/36

Ganda mengatakan...

No man is an island, kalau kata orang. Kita hidup selalu berdampingan dengan orang lain dan kita mempunyai tanggung jawab pada orang lain itu.
Individualisme, yaitu sikap apatis atau tidak mau tahu terhadap kewajiban pada sesama dan selalu mementingkan hak-hak pribadi. Ini adalah sifat cacad yang tidak dikehendaki pada siswa SMA Kanisius yang diharapkan menjadi pribadi-pribadi yang unggul. Selain berlawanan dengan 3C, tidak sesuai juga dengan moto "to be a man with and for others", bahkan tidak sesuai dengan nilai pancasila.
individualisme tidak hanya menjangkit pribadi, tapi juga kelompok. Jaman sekarang memang tidak terlalu masalah nilai skolastis, yang penting itu prinsip. Dan prinsip kanisian adalah 3C, Competence, Conscience, dan compassion.

Ganda/XIC/37.

mohon maaf jika ada kesalahan dalam tulisan

Edwin Sebastian mengatakan...

Individualisme itu lebih dikenal dengan sifat yang cenderung egoistis.

Sifat individualis juga mempunyai kecenderungan tidak memedulikan keadaan dari orang lain, dan hanya mementingkan diri sendiri.

Mereka yang bersifat individualis juga menganggap bahwa lingkungan yang sosialnya hanya ada untuk dirinya sendiri, bukan orang lain.

Saya setuju dengan pendapat dari Pastor Christopher Gleeson, SJ.
Karena di dunia ini kita diciptakan dengan bakat dan juga kemampuan yang berbeda-beda,oleh karena itu kita harus bisa hidup bersama,(tidak dengan sifat individualisme) dengan orang lain agar kita bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing.

Edwin Sebastian XIF/14

Christianto Handojo mengatakan...

Menurut saya, sikap individualisme yang dijelaskan di atas merupakan sikap yang harus ditekan seminimal mungkin. Tetapi ini tidak berarti individualisme harus dihilangkan sama sekali. Karena tanpa individualisme, sebuah individu bukanlah individu yang lengkap.

Maksud saya, sikap ini tidak boleh ditonjolkan dalam kelompok karena akan menghancurkan kelompok itu sendiri. Orang tak bisa hidup tanpa orang lain,
itu berarti kita membutuhkan orang lain dan orang lain juga membutuhkan kita. Maka sikap individualisme semua pihak harus ditekan ke tingkat yang tidak berbahaya / wajar.

Yang dimaksud dengan wajar adalah kita meminta hak kita dalam keadaan yang tepat. Kita harus mau mengerjakan tugas / kewajiban kita terhadap orang lain dulu sebelum meminta hak-hak kita dipenuhi orang lain. Dengan ini kehidupan satu sama lain bisa terjaga dengan baik dalam bentuk apapun.

Christianto XI-F / 11

Raymond mengatakan...

Saya sangat setuju dengan pendapat Pater Christopher Gleeson, SJ bahwa individualisme dapat merusak diri sendiri dan masyarakat. Mengapa hal ini dapat terjadi?? Karena ketika seseorang menjunjung tinggi hak-hak pribadinya dan hanya memikirkan dirinya sendiri, dia tidak peduli dan tidak mau tahu mengenai apa yang terjadi di sekitar lingkungannya, bahkan sampai menghalangi hak-hak orang lain. Jangankan masyarakat luas, di sekolah kita saja masih banyak siswa-siswa yang menutup diri. Mereka semua jangankan membagi-bagikan ilmu, bahkan mereka tidak mau belajar kelompok atau pasif dalam kerja kelompok. Bahkan, ada yang mengambil tugas temannya itu sebagai hasil kerjanya dan ini sangat merugikan temannya. Oleh karena itu, menurut saya Consience dan Compassion di SMA Kanisius harus lebih ditingkatkan dan diarahkan lagi sehingga dapat menjadi pemimpin yang beriman dalam arti kita harus mempertimbangkan baik dan buruknya terhadap sesama dan juga diri kita sehingga kita tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Saya sangat setuju dengan pendapat Pater Christopher Gleeson, SJ dalam menanggapi pendapat individualisme mendefinisikan apa yang baik sebagai apa yang 'menguntungkan'. Seorang yang individualis melihat hal yang menguntungan sebagai hal yang baik, tanpa peduli mau menghancurkan lingkungan sekitar sampai menghalangi hak-hak orang lain. Seperti yang dilakukan perusahaan-perusahaan di Indonesia, yang hanya mencari untung, mengeruk uang sebanyak-banyaknya dan limbahnya dibuang begitu saja. Melihat hal ini saya malu pada sebagian besar rakyat Indonesia yang tidak memiliki hati nurani dan melakukan hal-hal seperti itu yang dianggap sepele. Mereka semua mau berhasil sehingga tidak segan-segan untuk merusak lingkungan sekitar.

Manusia itu adalah makhluk sosial dan membutuhkan sesama untuk bisa bertahan hidup. Jika kita selalu bersikap individualistis maka kita akan mempunyai banyak musuh dan dijauhi masyarakat sehingga kita harus menyikapi hidup kita sebaik-baiknya dalam berbagai macam situasi dan kondisi.
Kesimpulannya, sebagai seorang pribadi yang beriman kita harus mengutamakan kepentingan bersama dan kebebasan individu harus dilakukan secara tanggung jawab dan tidak merugikan orang lain sehingga dapat menjadi pribadi yang baik dan berhasil tanpa mencelakakan orang lain.

-Raymond Andika /XI F / 34-

Audi mengatakan...

Menurut saya, apa yang dikatakan oleh Christopher Gleeson benar.
Karena apabila kita melupakan tanggung jawab dan hanya mementingkan diri sendiri (egois) kita tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan,sehingga kita tidak dapat berkembang dengan baik. Maka, mementingkan hak dan melupakan tanggung jawab hanya akan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Sikap individualisme macam ini terkadang dapat merugikan orang lain, karena seseorang yang memiliki sikap individualisme seringkali tidak memperdulikan hak / kepentingan orang lain dalam bertindak, sehingga merugikan orang lain. Karena, sebagai makhluk sosial kita tidak dapat hidup tanpa membutuhkan orang lain. Tetapi ini bukan berarti individualisme menjadi tidak penting, individualisme tetap penting untuk kita karena sebagai manusia biasa, kita harus berusaha unutk selalu menjadi yang terbaik,hanya saja kita tidak boleh selalu mementingkan kepentingan diri sendiri.

Sebagai seorang Kanisian yang mempunyai motto "to be a man with and for others" dan mengamalkan 3C (Competence, Conscience, dan Compassion), tindakan yang mementingkan hak daripada tanggung jawab tadi sangat tidak benar.

Jadi, kita harus melaksanakan tanggung jawab terlebih dahulu sebelum kita menuntut hak.

Sekian komentar dari saya

Gilbert Audira XIF/21

I, Bond... mengatakan...

Menurut saya, sama sekali tidak ada masalah bila kita bersikap individualis, selama kita dapat menilai suatu kondisi. Detailnya, pada saat kita memang benar-benar terdesak, kita dapat bersikap agak mementingkan diri kita sendiri selama tidak merugikan orang lain.

Sayangnya, mayoritas orang menganggap bahwa setiap saat adalah saat yang mendesak, sehingga bagi mereka, sah-sah saja mementingkan diri sendiri, lagipula mungkin, "tubuh juga tubuh saya, mulut juga mulut saya, apa urusan Anda?", begitu pikir mereka. Tanpa mereka sadari, mereka telah berbuat dosa, karena dengan bersifat egois, tentunya pertama-tama mereka akan melupakan tanggung jawab mereka, dan ini sangat fatal tentunya. Yang kedua, tidak kalah penting, mereka dapat mengakibatkan kerugian kepada orang lain, baik yang pada saat itu sedang memerlukan mereka dalam tanggung jawabnya maupun orang yang sangat membutuhkan sesuatu yang ikut "diraup" oleh si egois.

Lagipula, orientasi mencari keuntungan ini seringkali tidak dilandasi dengan tekad yang murni, sehingga para individualis cenderung mengandalkan segala cara untuk mendapat keuntungan. Untuk menghilangkan sifat ini, kita cukup membangun suatu dasar keinginan yang tulus dan tentunya belajar mengamati keadaan, baik di dalam diri kita sendiri maupun di dalam lingkungan dan sesama kita.

(R. Jerio Hallean XI-C/33)

Marcellus mengatakan...

Menurut saya hak dan tanggung jawab harus beriringan secara seimbang. Kita tidak bisa hanya berada dibelakang hak-hak kita dan bahkan kita tidak melakukan apapun..
individualisme memang mementingkan hak kita sebagai individu, tetapi kita tidak bisa melupakan tanggung jawab kita kepada sesama dan kepada Tuhan. Kita diciptakan sebagai satu kesatuan untuk mengolah dunia yang telah diberikan Tuhan kepada kita.
Menurut saya individualisme seperti ini sama seperti egoisme karena hanya mementingkan keuntungan pribadi tanpa memikirkan akibat dari tindakannya. Suatu tindakan pasti terdapat sisi baik tetapi dalam individualisme seperti ini sisi baik hanya diutamakan kepada diri sendiri. Karena sebenarnya manusia bergantung satu sama lain. Hak kita mungkin saja merupakan tanggung jawab orang lain dan tanggung jawab kita merupakan hak yang dinanti oleh orang lain. Jadi bila kita menjadi pengikut individualisme, keseimbangan antara hak dan kewajiban tidak akan terjadi.
marcellus c.b (XI-F/31)

geraldi mengatakan...

Menurut saya bila kita mau mendapatkan hak-hak kita harus lebih dulu melaksanakan kewajiban-kewajiban kita sehingga kehidupan kita bisa berjalan dengan seimbang.Bila hanya mau mendapat hak tanpa mau melaksanakan kewajiban kita berarti tidak tahu diri dan kita tidak akan bisa bertanggung jawab terhadap kehidupan kita sendiri

Kepentingan individualisme memang lebih menguntungkan bila dilihat dalam waktu dekat tetapi bila dilihat dalam jangka panjang kepentingan kelompok lebih menguntungkan bila dilakukan karena bila kita mengerjakan kepentingan kelompok suatu saaat bila kita sedang kesulitan teman-teman dlaam kelompok kita pasti akan mau membantu.,bandingkan bila kita mementingkan individual kita sendiri atau bersifat egois,tentu teman-teman dalam kelompok kita akan berpikir dahulu sebelum mau menolong kita.Oleh karena itu kepentingan kelompok harus didahulukan dibandingkan kepentingan pribadi


Geraldi w/XI F/20

The Boys mengatakan...

kalau menurut saya, individualisme itu tidak baik bagi kelangsungan hidup kita. individualisme dapat membuat diri kita menjadi sombong dan tidak tahu diri.
kita tahu, kita hidup di bumi ini tidak bisa hidup tanpa orang lain yang berada di sekitar kita. kita hidup perlu saling membantu, menghargai dan menghormati. jika semua itu tidak ada, maka kita pasti hidup sengsara.

setiap orang pasti mempunyai tanggung jawab dan tanggung jawab tersebut harus dilaksanakan agar orang tersebut bisa di bilang dewasa dalam hidup. walaupun kita melaksanakan tanggung jawab kita, kita tetap harus ingat hak-hak kita .kita juga di beri kebebasan dalam berpendapat maka gunakanlah kebebasan itu dengan baik dan juga harus bertanggung jawab.


Jofano Priangga R
XI F/25

The Boys mengatakan...

kalau menurut saya, individualisme itu tidak baik bagi kelangsungan hidup kita. individualisme dapat membuat diri kita menjadi sombong dan tidak tahu diri.
kita tahu, kita hidup di bumi ini tidak bisa hidup tanpa orang lain yang berada di sekitar kita. kita hidup perlu saling membantu, menghargai dan menghormati. jika semua itu tidak ada, maka kita pasti hidup sengsara.

setiap orang pasti mempunyai tanggung jawab dan tanggung jawab tersebut harus dilaksanakan agar orang tersebut bisa di bilang dewasa dalam hidup. walaupun kita melaksanakan tanggung jawab kita, kita tetap harus ingat hak-hak kita .kita juga di beri kebebasan dalam berpendapat maka gunakanlah kebebasan itu dengan baik dan juga harus bertanggung jawab.


Jofano Priangga R
XI F/25

benardi mengatakan...

Benardi Atmadja XIF/7

Seharusnya hak dan tanggung jawab itu seimbang. Orang yang mendahulukan hak sama saja mau enak tanpa harus susah payah. Mereka mengambil jalan pintas tanpa memikirkan orang lain.

Misalnya saja koruptor, mereka menggunakan kekuasaan dan mengambil uang yang mereka anggap adalah "hak" mereka. Jelas ini adalah hal yang egois, berdosa, dan bukan perlakuan manusia yang memiliki akal sehat. Tidak itu saja, mereka juga tidak memiliki tanggung jawab.

Orang yang bertanggung jawab akan mendahulukan apa yang harus mereka kerjakan, mereka adalah orang yang dapat dipercaya yang dapat dengan sadar mengetahui apa yang harus mereka kerjakan.

Orang yang bertanggung jawab akan lebih mendahulukan kewajiban mereka daripada hak. Bahkan mereka akan menghargai hak orang lain. Bukan malah bersembunyi dari apa yang mereka anggap sebagai hak mereka.

Selama ini memang benar apa Pastor Christopher Gleeson, SJ katakan, apa yang baik itu yang nikmat. Ini adalah kenyataan yang ada di masyarakat, di mana hal-hal yang enak di anggap baik karena mudah dan menguntungkan.

Bertanggung jawab itu bukan mendahulukan apa yang enak itu. Apa lagi dengan cara yang salah kita mencari "enak" itu. Kita para kanisian harus merubah stigma yang ada di masyarakat dengan mendahulukan apa yang penting. Bukan yang enak, tapi apa yang sungguh merupakan kewajiban kita.

Dengan mau bertanggung jawab mulai dari hal yang kecil, misalnya dengan belajar rajin, mengerjakan tugas dengan baik, hingga tidak menyontek. Kita dengan sendirinya akan menjadi seseorang yang dapet merubah pandangan masyarakat tersebut.

Bagi saya cara untuk menhancurkan moral buruk bukannya dengan memberitahu atau mencoba menyadarkan orang banyak. Melainkan dengan menyadari sikap dan perbuatan kita (salah satunya dengan refleksi) dan merubah apa yang menjadi kebiasaan kita. Dengan merubah perbuatan kita, hasil yang kita dapatkan akan berbeda.

Kita akan menjadi lampu di malam hari, atau garam bagi dunia. Kita akan mencoba mengikuti jejak Tuhan kita bila mau mendahulukan kewajiban dan berani untuk bertanggung jawab.

Yang terpenting dan saya perlu tekankan, dengan bertanggung jawab kita makin menyempurnakan diri kita dan memuliakan nama Tuhan

toper mengatakan...

Sebenarnya contoh konkret dari orang yang menyembunyikan tanggung jawab di balik haknya pun dapat kita lihat di lingkungan sekolah kita sendiri. Dan tidak satu pun dari sekian peristiwa itu menimbulkan dampak positif. Yang ditimbulkan oleh sifat individualisme itu hanyalah kenegatifan saja.

Misalnya dari pihak murid, seringkali murid berkata ,"Kenapa sih rambut kita harus dipotong? Kalau rambut kita panjang juga sekolah kan tidak rugi. Ini kan kepala kita sendiri!" Dari pernyataan itu kita bisa melihat bahwa murid melupakan kewajibannya untuk berpenampilan rapi yang merupakan peraturan sekolah, dan bersembunyi di balik haknya. Memang benar, dia memiliki hak untuk berambut panjang, namun ia tidak boleh lupa akan kewajibannya. Dampak negatif yang ditimbulkan punya tidak sedikit, antara lain timbul kemarahan dari pihak siswa maupun sekolah (yang sebenarnya tidak perlu bila siswa mau menurut), berkembangnya kepribadian negatif siswa, ketidakrapian diri siswa, dan lain-lain.

Dari pihak guru pun juga pernah melakukan kesalahan yang mirip. Tahun lalu, ada teman saya yang di ulangannya mendapat nilai 75 untuk ulangan harian suatu mata pelajaran. Setelah ia periksa lebih lanjut, ternyata guru mata pelajaran tersebut salah koreksi dan seharusnya ia mendapat nilai di atas 80. Maka ia pun protes terhadap guru tersebut. Teman saya pun sudah membawa ulangan temannya yang lain dan catatannya sebagai acuan. Anehnya, guru tersebut tidak mau mengubah nilai teman saya tanpa alasan. Sepulang sekolah teman saya mencoba menemui guru itu lagi untuk minta dikoreksi. Namun, guru itu tetap menolak untuk meralat nilai teman saya. Teman saya pun bertanya ,"Pak, jawaban saya benar namun disalahkan, kenapa tidak diralat nilainya?" Guru itu hanya berkata ,"Saya bilang tidak ya tidak!" Dari kasus ini terlihat bahwa guru ini menyalahgunakan haknya untuk memberi nilai dan lari dari tanggung jawabnya untuk menilai secara obyektif. Dan Dampak negatif yang ditimbulkan kasus ini pun sangat banyak bagi kedua belah pihak. Dari pihak murid saja, ia harus menerima fakta pahit bahwa ia mendapat nilai yang tidak sesuai dengan kemampuannya, ia akan memendam rasa dendam, dan pikirannya akan ditelan perasaan negatif.

Dari kedua kasus di atas kita bisa melihat dampak buruk dari penyalahgunaan hak yang tidak bertanggung jawab. Jadi, menurut saya kita sebaiknya lebih bisa bersikap bertanggung jawab dan bisa membedakan mana yang merupakan haknya dan mana yang merupakan kewajibannya. Janganlah menyalahgunakan hak kebebasan, karena bisa merugikan banyak orang.

Christopher B
XI-C / 10

Terang Dunia mengatakan...

Saya sangat setuju dengan pendapat Pater Christopher Gleeson. Realita ini dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Sikap individualisme inilah yang sebenarnya merusak bangsa kita. Bangsa kita rusak karena sikap individualisme dari para warga masyarakat Indonesia sendiri. Sebagai contoh,maraknya korupsi yang terjadi di bangsa kita,disebabkan sikap individualisme dari para petinggi bangsa. Mereka hanya mementingkan diri sendiri dengan mengeksplorasi kekayaan bangsa kita untuk keuntungan bagi kelompok atau individu mereka sendiri. Mereka tidak mempedulikan mengenai dampak tindakan mereka itu bagi masyarakat yang mereka pimpin. Kita dapat melihat dampak korupsi dalam negara kita.Korupsi tidak hanya merusak alam kita,korupsi juga merusak mental bangsa kita. Korupsi menyebabkan sebagian besar masyarakat kita terhimpit dalam kemiskinan. Para pejabat kita hanya menuntut hak mereka,mereka lupa akan kewajiban mereka untuk mensejahterakan masyarakat kita. Mereka seakan lupa bahwa sebenarnya yang menggaji mereka adalah masyarakat Indonesia. Di kala sebagian besar masyarakat kita makan nasi aking,pejabat kita malah hidup berfoya-foya. Mereka menghamburkan-hamburkan uang negara . Mereka meminta mobil dinas yang baru,tambahan gaji (padahal gaji mereka sudah besar). Mereka lupa untuk memperjuangkan hak rakyat.
Realita lain yang dapat kita lihat adalah dalam kasus lumpur Lapindo. Pengusaha Lapindo (Bakrie Group) telah menunjukkan sikap seperti yang ditunjukkan oleh pendapat Pater Christopher Gleeson. Tindakan mereka yang mengeksploitasi kekayaan alam dengan serakah telah membuat kehidupan banyak masyarakat (khususnya masyarakat Jatim di sekitar semburan lumpur) menjadi semakin susah bahkan mereka jatuh miskin. Dengan alasan prosedural,mereka berusaha untuk melepas tanggung jawab untuk mengganti rugi harta kekayaan masyarakat sekitar yang hancur dan hilang akibat lumpur itu. Mereka malah hidup dalam kemewahan di kala banyak masyarakat yang menangisi harta benda mereka yang hilang. Hidup masyarakat itu sangat susah.
Pendapat dari Pater Christopher ini telah menyadarkan kita sebagai seorang calon pemimpin di masa yang akan datang bahwa seorang pemimpin yang baik seharusnya memperhatikan kepentingan orang lain dalam setiap keputusan dan tindakannya. Seorang pemimpin yang baik harus mampu melayani bukannya dilayani. Keputusan yang dibuatnya seharusnya meningkatkan kesejahteraan orang-orang yang dipimpinnya bukan malah mempersulit kehidupan orang yang dipimpinnya. Oleh karena itu kita harus menghindari sikap individualisme ini sehingga kita dapat menjadi pemimpin yang mampu menjadi terang dan berkat bagi orang-orang yang kita pimpin. Jadilah terang dan garam dunia sehingga biarlah nama Tuhan saja yang dipermuliakan dari setiap tindakan kita !
Matius 5 : 16
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.

Terang Dunia mengatakan...

Tambahan :
Nama : Ricky Kristanda Suwignjo
Kelas : XI D /33

christian mengatakan...

memang sebagian besar orang hanya mementingkan hak - haknya tanpa memenuhi kewajibannya saat ini.
seharusnya memang seseorang melakukan kewajiban terlebih dahulu
tetapi karena sudah dibiasakan dari kecil,mereka menjadi orang yang berego tinggi yang lebih mementingkan hak - haknya dibandingkan kewajiban - kewajibannya.

sebenarnya sikap ini bisa dibenahi dengan cara mendidik sang anak menjadi anak yang bertanggung jawab terhadap kewajiban - kewajibannya.dengan begitu kebiasaan - kebiasaannya yang baik dari kecil akan terbawa sampai dewasa.

christian XI F/ 9

christian mengatakan...

memang sebagian besar orang hanya mementingkan hak - haknya tanpa memenuhi kewajibannya saat ini.
seharusnya memang seseorang melakukan kewajiban terlebih dahulu
tetapi karena sudah dibiasakan dari kecil,mereka menjadi orang yang berego tinggi yang lebih mementingkan hak - haknya dibandingkan kewajiban - kewajibannya.

sebenarnya sikap ini bisa dibenahi dengan cara mendidik sang anak menjadi anak yang bertanggung jawab terhadap kewajiban - kewajibannya.dengan begitu kebiasaan - kebiasaannya yang baik dari kecil akan terbawa sampai dewasa.

christian XI F/ 9

Richard mengatakan...

individualisme pada konteks ini merupakan tindakan seseorang yang mementingkah hak ketimbang kewajiban kewajibannya

saya sangat setuju, dengan ketidak imbangan kewajiban itulah yang akan merugikan orang lain yang memerlukan kewajiban orang tersebut sebagai haknya, sehingga akan membuat ketidakseimbangan.

sebagai kanisian saya yakin, bahwa para kanisian bisa membedakkan antara hak dan tanggungjawab, dan dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.

AMDG

antonius richard/ XIE / 5

Jovian mengatakan...

Jovian Jevon / XI-D / 22

Saya setuju dengan pendapat P. Christopher Gleeson, SJ. Kita memang sering melupakan tanggung jawab kita karena terlalu memikirkan hak-hak kita saja. Seharusnya hak harus disertai juga dengan tanggung jawab. Menurut saya, perbandingan antara hak dan tanggung jawab seharusnya adalah satu banding satu, jadi kita akan mendapatkan hak kita sesuai dengan tanggung jawab yang sudah kita lakukan.

Dan yang tak kalah penting, sudah seharusnya kita mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Jangan hanya bersikap individualis saja dalam melakukan kewajiban kita. Kita harus memperhatikan juga orang lain dalam mengambil suatu keputusan

rizkykaro2 mengatakan...

Hak dan tanggung jawab itu tidak dapat dipisahkan. Untuk mendapatkan hak kita, kita harus memenuhi tanggung jawab kita terlebih dahulu. Misalnya saja, kalau kita yang sudah bekerja mau pembangunan Negara itu lancar, kita dapat membantu dengan memenuhi kewajiban kita, yaitu membayar pajak, kemudian baru kita akan mendaaptkan hak kita, misalnya saja transportasi public semakin baik, jalan raya juga semakin baik, dan sebagainya.
Menurut saya, Individualisme sering terjadi pada kaum laki – laki, karena pada awalnya yang diciptakan terlebih dahulu itu adalah laki – laki, kemudian perempuan. Tapi Allah berfirman. “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.”........( Kej 2 : 18 ). Itu berarti individualisme tidaklah baik, hal itu Canterbury juga sewaktu Tuhan Yesus memerintahkan murid – muridnya untuk pergi berdua – dua. ( Mrk 6 : 6b – 13 ). Individualisme sering dipakai saat menghadapi “ulangan.” Dan juga saat atasan kita memberi tugas kepada 1 orang saja.

from Rizky Karo - Karo 11 A-17
AMDG

kiel mengatakan...

Saya setuju dengan pendapat anda karena semakin lama seseorang semakin individualis. Seseorang tidak lagi memperdulikan orang lain tetapi hanya diri sendirir saja yang diutamakan.
Saya setuju hal ini dapat merusak diri kita karena hal ini akan menyebabkan kebersamaan dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar akan hiang.
seharusnya kita sebagai manusia harus hidup bersama karena manusia adalah mahluk sosial.

Selain itu seharusnya adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban sehingga segala sesuatunya harus dengan pengorbanan. jangan kita hanya mau hak saja karena itu juga dapat merugikan diri kita sendiri. contohnya seorang anak ingin mendapat nilai yang bagus tetapi ia tidak kamu belajar, maka ia mencontek. Mencontek ini akan merugikannya di masa depan karena sebenarnya ia mendapatkan nilai dengan kemampuan orang lain bukan karena usahanya.

rizkykaro2 mengatakan...

Hak dan tanggung jawab itu tidak dapat dipisahkan. Untuk mendapatkan hak kita, kita harus memenuhi tanggung jawab kita terlebih dahulu. Misalnya saja, kalau kita yang sudah bekerja mau pembangunan Negara itu lancar, kita dapat membantu dengan memenuhi kewajiban kita, yaitu membayar pajak, kemudian baru kita akan mendaaptkan hak kita, misalnya saja transportasi public semakin baik, jalan raya juga semakin baik, dan sebagainya.
Menurut saya, Individualisme sering terjadi pada kaum laki – laki, karena pada awalnya yang diciptakan terlebih dahulu itu adalah laki – laki, kemudian perempuan. Tapi Allah berfirman. “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.”........( Kej 2 : 18 ). Itu berarti individualisme tidaklah baik, hal itu terbukti juga sewaktu Tuhan Yesus memerintahkan murid – muridnya untuk pergi berdua – dua. ( Mrk 6 : 6b – 13 ). Individualisme sering dipakai saat menghadapi “ulangan.” Dan juga saat atasan kita memberi tugas kepada 1 orang saja.


RIZKY/11A-17
AMDG

daniel daniarta mengatakan...

Suatu hak dapat diperoleh dengan terlaksananya kewajiban dana sebaliknya. Itulah hukum alam dan selain itu tidaklah benar

Individualisme merupakan sesuatu yang tidak baik dimana seseorang tidak memikirkan kepentingan orang lain. Tetapi merupakan salah satu sifat bawaan manusia agar bisa bertahan / survive. Sebagai makhluk sosial yang hidup bersama manusia lainnya sebaiknya individualisme di nomor dua kan diatas kepentingan bersama.

daniel daniarta mengatakan...

didit xic/11